SURABAYA, HeadlineJatim.com — Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menekankan bahwa esensi kepemimpinan sejati tidak diukur dari deretan penghargaan atau popularitas di media sosial. Hal itu ia sampaikan saat menjadi pembicara dalam “Seminar Sehari: Kepemimpinan Nusantara” di Gedung Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair), Selasa (12/5/2026).
Eri menegaskan, indikator keberhasilan seorang kepala daerah terletak pada kemampuannya menggerakkan semangat gotong royong untuk menyelesaikan persoalan riil di masyarakat.
“Penghargaan apa pun yang diberikan kepada wali kota, jika tujuh indikator utama seperti kemiskinan, pengangguran, stunting, hingga angka kematian ibu tidak berubah, maka sejatinya pemimpin itu gagal,” tegas Wali Kota Eri Cahyadi di hadapan para peserta seminar.
Dalam paparannya, pria yang akrab disapa Cak Eri ini menjelaskan bahwa strategi kepemimpinan Eri Cahyadi Surabaya berakar pada pengamalan nilai Pancasila. Menurutnya, Pancasila tidak boleh berhenti sebagai hafalan saat upacara, melainkan harus diwujudkan dalam kebijakan ekonomi sosial.
Salah satu implementasi nyatanya adalah melalui penguatan ekonomi di tingkat rukun tetangga. “Gotong royong adalah inti Pancasila. Saya mengajak warga untuk beli kebutuhan pokok di tetangga sendiri atau toko kelontong sekitar rumah. Itulah cara kita saling menghidupi secara nyata,” ujarnya.
Di periode kepemimpinannya, Eri memilih fokus pada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) dan reformasi birokrasi. Sejak 2020, ia mewajibkan Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkot Surabaya untuk berkantor di Balai RW agar lebih peka terhadap masalah warga secara langsung.
Eri juga membeberkan keberhasilan pengelolaan zakat profesi kolektif dari ASN muslim di Surabaya yang kini dikelola secara transparan untuk membantu warga miskin. Selain itu, sistem pelayanan publik pun dirombak mengikuti siklus hidup manusia, mulai dari pendampingan ibu hamil guna mencegah stunting hingga layanan lansia.
Wali Kota Eri berharap pola pikir masyarakat berubah dari ketergantungan pada sosok tunggal menjadi gerakan kolaboratif. Kehadiran ribuan Kader Surabaya Hebat (KSH), peran aktif pengusaha sebagai orang tua asuh anak yatim, hingga keterlibatan kampus adalah kunci keberhasilan pembangunan kota.
“Saya ingin bergerak bersama warga. Jika RW sudah bergerak, pengusaha membantu, dan kampus turun langsung, barulah saya bisa dikatakan berhasil menjadi pemimpin. Surabaya dibangun dengan kekuatan kekeluargaan, bukan kekuasaan,” pungkasnya.






