BBKSDA Jatim Catat Lonjakan Evakuasi Piton di Sejumlah Daerah, 43 Kasus Ada di Surabaya

Surabaya, HeadlineJatim.com – Fenomena ular masuk ke permukiman warga di Jawa Timur kian mengkhawatirkan. Dalam dua bulan pertama 2026 saja, puluhan laporan masuk ke petugas, dengan jenis yang paling dominan adalah ular sanca atau piton.

Berdasarkan data resmi BPBD Kota Surabaya, sejak Januari hingga Februari 2026 tercatat 43 laporan ular masuk ke rumah warga. Angka ini merupakan lebih dari separuh dari total 81 laporan satwa liar yang masuk ke lingkungan permukiman dalam periode yang sama.

Read More

Lokasi temuan ular beragam, mulai dari plafon rumah, kamar mandi, selokan, kandang ayam, hingga lemari penyimpanan. Mayoritas yang dievakuasi adalah ular sanca (piton), berukuran kecil hingga besar.

BPBD menyebut peningkatan ini dipicu kombinasi faktor cuaca dan lingkungan, seperti musim hujan dengan curah tinggi, meningkatnya debit sungai, serta melonjaknya populasi tikus sebagai sumber pakan alami ular.

Gresik: 45 Sanca Dievakuasi dalam Dua Bulan

Lonjakan serupa juga terjadi di Kabupaten Gresik. Dalam operasi selama Mei–Juni 2025, sekitar 45 ekor ular sanca berhasil dievakuasi dari permukiman warga.

Evakuasi dilakukan tim Damkar bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur melalui operasi mitigasi konflik satwa liar. Temuan terjadi di sejumlah titik berbeda, menandakan pola kemunculan yang berulang, bukan insiden tunggal.

Kalangan akademisi menilai fenomena ini berkaitan erat dengan perubahan ekosistem. Herpetolog Indonesia, Amir Hamidy, dalam keterangannya yang dikutip beberapa media, menjelaskan bahwa penyusutan habitat alami menjadi faktor dominan.

“Alih fungsi lahan, pembangunan kawasan permukiman, dan berkurangnya lahan basah, semak, serta hutan pinggiran kota membuat ruang hidup ular semakin sempit. Ketika habitat terganggu, ular akan mencari area yang lebih stabil dengan ketersediaan mangsa cukup, termasuk kawasan permukiman manusia” ujarnya.

Spesies seperti Malayopython reticulatus (sanca batik/piton) dikenal sangat adaptif terhadap lingkungan antropogenik dan mampu bersembunyi di selokan, plafon, hingga kandang ternak.

Sungai dan Hujan Jadi Jalur Perpindahan

Musim hujan dengan intensitas tinggi juga mempercepat pergerakan ular. Di Surabaya, aliran seperti Sungai Kalimas dan jaringan drainase kota dapat menjadi jalur perpindahan ketika debit air meningkat.

Air yang menggenangi habitat alami memaksa ular keluar dari sarang, bahkan terbawa arus hingga mendekati pemukiman.

Tikus Jadi Magnet Utama

Selain faktor habitat dan cuaca, kelimpahan populasi tikus menjadi magnet kuat bagi predator seperti piton. Area dengan pengelolaan sampah kurang optimal, selokan terbuka, serta gudang penyimpanan menjadi habitat ideal bagi tikus.

Ketika populasi mangsa meningkat, ular akan mengikuti jejaknya hingga masuk ke lingkungan rumah warga.

 

DATA 2025 JAWA TIMUR:

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) JATIM CATAT SEJUMLAH WILAYAH RAWAN EVAKUASI ULAR

Sepanjang 2025, tren evakuasi satwa liar dari permukiman warga di Jawa Timur menunjukkan angka signifikan. Data kolaboratif Damkar daerah dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur mencatat beberapa wilayah dengan intensitas tinggi:

Surabaya

Januari–November 2025 tercatat sekitar 2.306 kasus non-kebakaran, mayoritas penyelamatan hewan liar termasuk ular dan biawak. Secara kuantitatif, Surabaya menjadi wilayah dengan volume evakuasi satwa liar tertinggi di Jawa Timur.

Gresik

Sebanyak 45 ekor ular sanca dievakuasi hanya dalam dua bulan (Mei–Juni 2025), menunjukkan konsentrasi konflik manusia–ular yang tinggi dalam waktu singkat.

Bojonegoro

Sedikitnya 26 ular sanca kembang dan 2 kobra jawa dievakuasi dalam operasi kolaboratif Damkar dan BBKSDA Jatim sepanjang 2025.

Madiun

Sekitar 26 ekor ular sanca diserahkan masyarakat kepada BBKSDA Jatim setelah proses evakuasi dari lingkungan permukiman.

Data tersebut menunjukkan bahwa fenomena kemunculan ular di permukiman bukan hanya terjadi di kota besar, tetapi juga menyebar ke sejumlah kabupaten lain di Jawa Timur.

Kewaspadaan Harus Ditingkatkan

Dengan 43 laporan hanya dalam dua bulan pertama 2026 di Surabaya serta tren tinggi sepanjang 2025, konflik manusia – ular di Jawa Timur memasuki fase yang perlu perhatian serius.

Kombinasi penyusutan habitat, musim hujan, kenaikan debit sungai, kelimpahan tikus, serta kemampuan adaptasi piton menjadi faktor utama meningkatnya kemunculan ular di permukiman.

Masyarakat diimbau untuk:

  • Membersihkan semak dan tumpukan barang di sekitar rumah
  • Mengendalikan populasi tikus dan sampah
  • Menutup celah plafon dan saluran air terbuka
  • Tidak mencoba menangkap ular sendiri
  • Segera melapor ke Damkar atau BPBD setempat

Upaya pencegahan kolektif dan respons cepat menjadi kunci untuk meminimalkan risiko keselamatan sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem di tengah dinamika perubahan lingkungan perkotaan Jawa Timur.

Related posts