Surabaya, HeadlineJatim.com — Dunia kini diguncang gelombang wabah hewan yang hampir bersamaan, flu burung menghantam unggas di Eropa dan Amerika, PMK kembali muncul pada sapi di Afrika, dan parasit screwworm mematikan menyerang ternak di Meksiko. Indonesia, meski hanya mencatat 1 kasus flu burung A(H5N1) tanpa kematian per 18 Maret 2026, tetap berada di posisi rawan karena kondisi ekologis dan jalur migrasi burung liar dari Siberia dan Asia Timur.
Wabah yang dilaporkan mulai 17 Maret 2026 ini menunjukkan tren global yang mengkhawatirkan. Di Eswatini, 106 sapi positif PMK, pertama kali setelah 25 tahun vakum, mengguncang peternak lokal. Di Lesotho, PMK menyebar di beberapa wilayah, memaksa peternak menghadapi kerugian besar. Sementara itu, flu burung menyerang unggas domestik dan satwa liar: di Chili, 281 unggas domestik terinfeksi, 216 mati, dan 65 dimusnahkan; di Inggris, 250 unggas positif, dengan 117 mati; dan di Kolombia, puluhan unggas mati akibat virus ini.
Tak hanya virus, parasit screwworm di Meksiko menyerang sapi, kambing, dan kuda. Larva parasit ini memakan jaringan hidup hewan, menyebabkan luka parah, infeksi, dan kematian bila tidak ditangani cepat. Ancaman biologis ini menambah kompleksitas wabah global yang sedang berlangsung.
Faktor migrasi burung liar menempatkan Indonesia pada risiko tinggi. Jalur East Asian–Australasia Flyway dilalui jutaan burung migran setiap tahun dari Siberia, Rusia, dan Asia Timur menuju Asia Tenggara. Burung-burung ini singgah di danau, rawa, dan pesisir di Jawa, Sumatera, Sulawesi, serta wilayah lain, yang juga menjadi habitat unggas domestik. Interaksi antara burung liar dan unggas domestik meningkatkan potensi penularan virus melalui kotoran, air, atau kontak langsung, sementara studi WHO dan FAO menyebut virus flu burung dapat bertahan di air tawar hingga beberapa minggu, menjadikan lokasi singgah sebagai titik risiko tinggi penyebaran penyakit.
Meskipun di Indonesia kasus H5N1 masih rendah, tren global dan pergerakan migrasi burung menunjukkan bahwa risiko masuknya strain baru virus flu burung tetap nyata. Badan Karantina Indonesia dan Kementerian Pertanian telah memperkuat biosekuriti, vaksinasi unggas, pengawasan produk hewan, dan sistem surveilans, namun kewaspadaan harus tetap tinggi.
Alasan Indonesia Harus Waspada
Gabungan dari flu burung, PMK, dan screwworm, ditambah migrasi burung liar lintas benua, membuat Indonesia secara ekologis sangat rentan. Penyakit hewan ini dapat melintasi batas negara dengan cepat, mengancam ekonomi peternakan, pasokan pangan, dan membuka risiko zoonosis bagi manusia. Tanpa kesiapsiagaan tinggi, biosekuriti ketat, dan koordinasi lintas sektor, Indonesia bisa menjadi target berikutnya gelombang wabah global yang kini sedang berlangsung.
Angka Penting Wabah (Per 18 Maret 2026)
106 sapi positif PMK – Eswatini
Puluhan unggas mati akibat flu burung – Kolombia
281 unggas terinfeksi flu burung – Chili
250 unggas positif flu burung – Inggris
1 kasus H5N1 di Indonesia – tanpa kematian
Sumber Berita & Data Terverifikasi
World Organisation for Animal Health – Animal Disease Event Reports (Maret 2026)
World Health Organization (WHO) – Laporan tren kasus A(H5N1) global per 18 Maret 2026
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia – Surveilans tren kasus A(H5N1) di Indonesia hingga Maret 2026
Pernyataan Badan Karantina Indonesia dan Kementerian Pertanian Republik Indonesia – langkah pengawasan & biosekuriti (2026)
Laporan otoritas veteriner nasional: Lesotho, Eswatini, Kolombia, Montenegro, Chili, Inggris, Meksiko
Biodiversity Warriors – Jalur migrasi burung global dan singgahnya di Indonesia (biodiversitywarriors.kehati.or.id)






