JEMBER, HeadlineJatim.com – Ketegangan antara warga Kecamatan Puger dengan operasional pabrik semen PT Semen Imasco Asiatic kembali memanas, Kamis (16/4/2026). Warga mengancam akan memblokade jalan hingga menuntut penutupan pabrik jika aktivitas truk bermuatan berat yang kerap memicu kecelakaan maut tidak segera ditertibkan.
Aksi protes ini melibatkan warga dari Desa Kasiyan Timur dan Desa Grenden. Mereka menagih komitmen perusahaan terkait jam operasional kendaraan yang dinilai telah melanggar kesepakatan bersama sejak tahun 2023.
Tokoh masyarakat Puger, Muhammad Suja’i, mengungkapkan bahwa keresahan warga memuncak karena banyaknya korban jiwa akibat terlindas truk besar milik pabrik. Kecelakaan dilaporkan tidak hanya terjadi di Puger, namun merembet ke wilayah Rambipuji, Gumukmas, hingga Kencong.
“Korban sudah puluhan, kami sampai tidak tega menghitungnya. Baru-baru ini terjadi lagi kecelakaan maut pada malam hari. Kami hanya ingin rasa aman, jangan sampai keluarga kami jadi korban berikutnya,” ujar Suja’i saat dikonfirmasi di Jember.

Warga menyoroti ketidaksesuaian muatan truk dengan kelas jalan. Jalan desa yang berstatus Kelas III dengan kapasitas maksimal 8 ton, justru dilintasi truk bermuatan 30 ton hingga 70 ton. Hal ini mengakibatkan kerusakan infrastruktur jalan di Dusun Sadengan yang sangat parah.
Padahal, pada 28 April 2025, telah lahir kesepakatan antara warga, Pemkab Jember, dan kepolisian bahwa truk dilarang melintas pada pukul 06.00 hingga 16.00 WIB guna menjamin keamanan anak sekolah dan warga yang bekerja.
“Namun kesepakatan itu kerap dilanggar. Masih banyak truk nekat melintas di jam terlarang. Jika komitmen ini tidak dipatuhi, lebih baik pabrik ditutup atau mereka buat jalan sendiri. Jalan kampung bukan untuk kendaraan raksasa,” tegas Suja’i.
Selain masalah keselamatan, warga Desa Sadengan Timur, Muhammad Arif, mengeluhkan dampak ekonomi yang kian merosot. Kehadiran pabrik skala besar tersebut justru mematikan ratusan usaha pengolahan batu gamping lokal. Dari semula 700 pelaku usaha, kini hanya tersisa puluhan.
“Janji meningkatkan ekonomi tapi kenyataannya sebaliknya. Penyerapan tenaga kerja lokal sangat minim, lebih banyak pekerja dari luar daerah bahkan luar negeri,” kata Arif.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Semen Imasco Asiatic belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi kepada Humas perusahaan, Fendy Sumarlin, melalui pesan singkat dan panggilan telepon belum mendapatkan respons.






