PAGAR ALAM, Headlinejatim.com – Kabut tebal perlahan turun menyelimuti lereng Gunung Dempo, Sumatera Selatan. Di tengah jalur berlumpur dan hujan pegunungan yang dingin, seorang ibu melangkah pelan menembus tanjakan. Tidak ada sorak pendaki, tidak ada semangat menaklukkan puncak. Yang ia bawa hanyalah doa, kenangan, dan kerinduan panjang kepada anaknya yang tak pernah kembali pulang.
Kisah emosional tersebut kembali ramai diperbincangkan publik setelah sejumlah akun media sosial digital terbuka mengunggah ulang perjalanan memorial seorang ibu korban tragedi pendakian Gunung Dempo tahun 2019.
Salah satu unggahan yang banyak dibagikan berasal dari akun Instagram @voktis.id melalui format Instagram Reels pada 2025–2026. Video itu menampilkan perjalanan seorang ibu menuju lokasi terakhir anaknya ditemukan di kawasan Gunung Dempo, Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan.
Narasi serupa juga beredar melalui platform Threads dari akun @folkkonoha pada 22 Desember 2025. Dalam unggahan tersebut dijelaskan bagaimana sang ibu tetap mendaki jalur berkabut dan licin demi mengenang dua pendaki asal Muaro Bungo, Jambi, yakni Mh. Fikri Sahdila dan Jumadi.
Viralnya kembali kisah tersebut membuat tragedi lama Gunung Dempo kembali hidup di ruang digital. Banyak pengguna media sosial mengaku tersentuh oleh perjalanan sang ibu yang dinilai menjadi simbol cinta keluarga yang tetap bertahan meski waktu telah berlalu bertahun-tahun.
Berdasarkan penelusuran arsip pemberitaan media nasional dan regional, tragedi itu bermula pada pertengahan Oktober 2019 ketika Mh. Fikri Sahdila dan Jumadi melakukan pendakian melalui jalur Tugu Rimau, Gunung Dempo.
Namun setelah beberapa waktu, keduanya dilaporkan hilang kontak. Keluarga yang tidak lagi menerima kabar kemudian melapor kepada aparat dan tim pencarian.
Informasi hilangnya dua pendaki asal Jambi itu mulai ramai diberitakan berbagai media nasional. Platform media digital detikcom melalui kanal news.detik.com saat itu memberitakan operasi pencarian yang dilakukan tim SAR gabungan setelah komunikasi dengan korban terputus sejak 15 Oktober 2019.
Proses pencarian berlangsung dramatis. Tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD, TNI, Polri, relawan pencinta alam, hingga komunitas pendaki lokal harus menyisir kawasan berkabut dengan medan curam di sekitar kawah Gunung Dempo.
Setelah proses pencarian beberapa hari, kedua korban akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di sekitar kawasan kawah Gunung Dempo.
Media regional iNews Sumsel melalui sumsel.inews.id dalam laporan berjudul “Keluarga Pastikan Jasad Pendaki Gunung Dempo Merupakan Fikri dan Jumadi” yang dipublikasikan pada 6 November 2019 menjelaskan bahwa proses evakuasi berlangsung sangat sulit karena lokasi korban berada di jalur terjal dan membutuhkan perjalanan panjang menuju titik evakuasi.
Kapolres Pagar Alam saat itu, AKBP Dolly Gumara, menyampaikan bahwa pihak keluarga telah memastikan identitas kedua korban setelah proses identifikasi jenazah dilakukan di rumah sakit.
Beberapa bulan setelah tragedi, ruang digital kembali ramai ketika keluarga korban mempertanyakan sejumlah hal yang dianggap janggal. Platform media digital Kumparan melalui artikel “Kematian 2 Pendaki Asal Jambi di Gunung Dempo Dinilai Janggal” yang dipublikasikan pada 17 Januari 2020 memuat pernyataan keluarga mengenai hilangnya sejumlah barang pribadi korban seperti telepon genggam, carrier, hingga perlengkapan pendakian lainnya.
Keluarga juga mengaku sempat menemukan aktivitas nomor WhatsApp korban setelah proses pemakaman selesai. Namun hingga kini belum ada kesimpulan resmi aparat penegak hukum yang menyatakan adanya tindak kriminal dalam tragedi tersebut.
Karena itu, berbagai spekulasi yang berkembang di media sosial tetap harus diposisikan sebagai dugaan keluarga dan bukan fakta final.
Sekitar setahun setelah tragedi berlangsung, sang ibu memutuskan kembali mendaki Gunung Dempo. Pendakian itu bukan untuk mencari korban, melainkan sebagai bentuk memorial keluarga sekaligus penghormatan terakhir di lokasi yang menjadi tempat akhir perjalanan anak-anaknya.
Momen tersebut kemudian diangkat berbagai akun media sosial human interest dan media digital nasional. Foto-foto sang ibu yang berjalan di tengah hujan, kabut, dan jalur berlumpur menjadi simbol emosional tentang kehilangan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Dalam kajian psikologi kehilangan atau grief journey, tindakan mendatangi lokasi terakhir anggota keluarga yang telah meninggal dikenal sebagai bagian dari proses memorial emosional. Hal itu kerap dilakukan keluarga korban tragedi sebagai bentuk kedekatan batin dan penghormatan terhadap orang yang telah tiada.
Hampir enam tahun berlalu sejak tragedi Gunung Dempo terjadi. Namun di ruang digital, kisah tersebut terus berputar ulang melalui Instagram Reels, TikTok, Facebook, hingga Threads. Bagi banyak orang, perjalanan sang ibu bukan sekadar pendakian biasa, melainkan perjalanan hati seorang ibu yang mencoba berdamai dengan kehilangan.
Meski demikian, secara jurnalistik penting ditegaskan bahwa kedua korban telah ditemukan dan dievakuasi pada November 2019. Pendakian yang dilakukan sang ibu merupakan bentuk memorial keluarga, bukan proses pencarian korban yang belum ditemukan.
Sumber Data dan Referensi Penunjang
1. Detikcom, – news.detik.com, Judul: “2 Pendaki asal Jambi Hilang di Gunung Dempo Sumsel”, Publikasi: Oktober 2019. Relevansi: Kronologi awal hilangnya korban dan operasi pencarian SAR.
2. iNews Sumsel, sumsel.inews.id, Judul: “Keluarga Pastikan Jasad Pendaki Gunung Dempo Merupakan Fikri dan Jumadi” Penulis: Yuddy Faifman, Publikasi: 6 November 2019. Relevansi: Konfirmasi identitas korban dan proses evakuasi.
3. Kumparan, – kumparan.com, Judul: “Kematian 2 Pendaki Asal Jambi di Gunung Dempo Dinilai Janggal”, Publikasi: 17 Januari 2020. Relevansi: Pernyataan keluarga terkait dugaan kejanggalan dan barang korban.
4. Instagram @voktis.id, Platform: Instagram Reels, Publikasi: Viral ulang 2025–2026. Relevansi: Distribusi ulang narasi memorial dan human interest.
5. Threads @folkkonoha, Platform: Threads, Publikasi: 22 Desember 2025. Relevansi: Narasi viral perjalanan ibu korban menuju Gunung Dempo.
6. Dokumentasi media sosial memorial Gunung Dempo 2019, Platform: Instagram/Facebook komunitas pendaki, Relevansi: Arsip visual memorial keluarga korban dan perjalanan pendakian.






