SURABAYA, HeadlineJatim.com– Harapan akan pulihnya ekosistem Sungai Brantas terus diperjuangkan oleh para aktivis lingkungan. Melalui aksi “Ngintir Kali” Surabaya yang akan dimulai pada Sabtu (30/5),f, koalisi komunitas lingkungan yang tergabung dalam Aliansi Komunitas Penyelamat Bantaran Sungai (Akamsi), Ecoton, Posko Ijo, River Warrior, dan TitikTerang, kembali turun ke sungai untuk memantau kesehatan kualitas air dan keanekaragaman hayati.
Aksi ini tidak sekadar susur sungai. Tim yang terdiri dari tujuh orang ini memiliki misi krusial untuk mengungkap kondisi terkini Sungai Brantas, yang perannya sangat vital sebagai bahan baku air minum bagi jutaan warga di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, dan Jombang, sekaligus lumbung pangan nasional.
Direktur Posko Ijo, Rulli Mustika Adya, mengungkapkan bahwa temuan riset terbaru menjadi modal optimisme. Terdapat 34 spesies ikan air tawar di Kali Surabaya, di mana tiga di antaranya merupakan ikan endemik Jawa yang langka.
“Temuan 34 spesies ikan di Kali Surabaya dan 42 spesies di seluruh aliran Kali Brantas menjadi bukti bahwa sungai ini masih memiliki potensi kuat untuk pulih. Kita harus secara masif mengenalkan ikan-ikan asli ini kepada masyarakat agar tumbuh rasa memiliki dan keinginan untuk melindunginya,” ujar Rulli, Jumat (29/5/2026).
Tiga spesies endemik yang ditemukan pada Maret 2026 lalu adalah ikan Rengkik atau Baung (Hemibragus nemurus), Lele Jawa (Clarias batrachus), dan Wader bintik-bintik (Barbodes binatus).
Namun, di balik optimisme tersebut, ancaman serius terus membayangi. Koordinator Ronda Sungai Ecoton, Alaika Rahmatullah, menyoroti ancaman nyata mikroplastik yang bersumber dari limbah industri yang tidak terolah, sampah rumah tangga, serta alih fungsi bantaran sungai menjadi bangunan liar.
“Pengalaman kami saat melakukan ronda sebelumnya, air sungai di titik tertentu sangat berbau menyengat. Bahkan, anggota tim kami sempat mengalami infeksi telinga akibat terpapar air yang tercemar,” ungkap Alaika.
Aksi “Ngintir Kali” 2026 ini memiliki lima agenda utama: mengidentifikasi keanekaragaman ikan, melacak sumber pencemaran industri, mendata timbulan sampah plastik, memetakan bangunan liar di bantaran sungai, serta melakukan uji mikroplastik dan kualitas air secara berkala.
Jofan Ahmad Arianto, aktivis Akamsi, menegaskan bahwa pemulihan Sungai Brantas membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Ia mendesak ratusan industri yang memanfaatkan air Brantas untuk segera memberikan kontribusi positif, bukan justru memperparah keadaan dengan membuang limbah sembarangan yang berakibat pada kematian massal ikan.
“Selain sebagai sumber air minum dan irigasi, industri harus sadar bahwa keberlangsungan bisnis mereka bergantung pada kualitas air Brantas. Jangan hanya mengambil manfaat, tapi juga harus bertanggung jawab dalam pengelolaan limbah,” tegas Jofan.
Sebagai puncak dari rangkaian kampanye “Brantas Pulih, Rengkik Kembali”, tim akan menggelar aksi teatrikal di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pada 5 Juni 2026 mendatang. Aksi ini bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, sebagai pesan simbolis kepada pemerintah dan masyarakat bahwa Sungai Brantas masih bisa diselamatkan melalui gotong royong dan kebijakan yang berpihak pada kelestarian lingkungan.






