Pertama di Dunia, Drone Indonesia Sukses Pasang Pelacak Paus Biru

Dok. Konservasi Indonesia.

NUSA TENGGARA, HeadlineJatim.com– Tim peneliti Indonesia berhasil mencatatkan terobosan penting dalam studi mamalia laut dunia. Mereka sukses melakukan uji coba pemasangan alat pelacak satelit pada paus biru kerdil menggunakan teknologi drone nirawak.

Keberhasilan ini diklaim menjadi yang pertama di dunia dan membuka peluang baru dalam dunia penelitian satwa liar yang jauh lebih aman serta minim risiko trauma pada hewan.

Salah satu peneliti, Iqbal Herwata, menjelaskan bahwa metode ini dikembangkan sebagai alternatif yang lebih ramah (non-invasif) dibandingkan dengan teknik konvensional yang cenderung berisiko tinggi.

“Kami mengembangkan metode pemasangan satellite tagging menggunakan drone. Ini adalah uji coba pertama di dunia, dan kami melakukannya bersama peneliti dari Australia,” ujar Iqbal seperti dilansir dari BBC News Indonesia, Sabtu (28/3/2026).

Mengenal Teknologi LIMPET

Perangkat pelacak satelit yang dipasang tersebut bernama LIMPET. Alat canggih ini mampu merekam berbagai data krusial secara langsung (real-time), mulai dari koordinat lokasi, rute migrasi harian, kedalaman penyelaman mamalia, hingga suhu air laut. Data-data tersebut dinilai sangat penting untuk memahami perilaku paus biru yang selama ini datanya masih sangat terbatas.

Penelitian kolaboratif ini sebenarnya telah berlangsung sejak Oktober 2025 dengan melibatkan tim peneliti dari Indonesia dan Timor Leste. Sebelum mencapai titik keberhasilan ini, tim sempat menghadapi jalan buntu setelah melakukan delapan kali percobaan yang gagal.

“Pada versi terbaru LIMPET, akhirnya kami berhasil memasang alat tersebut. Meskipun baru satu dari empat yang direncanakan, ini sudah cukup menjadi pembuktian konsep (proof of concept) bahwa metode berbasis drone bisa digunakan dan jauh lebih aman dibandingkan metode lama,” kata Iqbal menambahkan.

Pada metode konvensional, peneliti diharuskan mendekati paus secara langsung menggunakan perahu kecil dan menembakkan alat pelacak menggunakan senapan angin (air gun). Metode lawas ini dinilai memiliki risiko tinggi mencederai paus maupun membahayakan keselamatan para peneliti di tengah laut.

Tantangan Detik-Detik Krusial

Peneliti lainnya yang terlibat, Edy Setiawan, mengungkapkan bahwa tantangan utama dalam proses pemasangan alat menggunakan drone ini adalah faktor waktu yang sangat sempit.

“Kesulitannya adalah momen yang sangat singkat, kurang dari satu menit ketika paus muncul ke permukaan untuk mengambil napas. Bahkan area target pemasangan yang ideal hanya terlihat sekitar dua detik saja,” jelas Edy.

Area target pemasangan tersebut berada di bagian belakang lubang pernapasan dan di depan sirip dada paus. Posisi spesifik ini sangat sulit dijangkau dengan presisi tinggi, terlebih saat mengendalikan drone di tengah embusan angin laut.

Kendati penuh tantangan, data dari alat pelacak ini memungkinkan para peneliti untuk mengetahui secara akurat apakah jalur migrasi paus raksasa ini bertabrakan dengan jalur pelayaran kapal komersial internasional.

Dengan begitu, pemerintah bisa menggunakannya sebagai dasar pengambilan kebijakan perlindungan jalur laut di masa depan.

Related posts