BMKG Prediksi Kemarau 2026 di Jawa Timur Lebih Kering, Puncaknya Agustus

Sidoarjo, HeadlineJatim.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan dini terkait kondisi iklim di Jawa Timur. Musim kemarau tahun 2026 diprediksi akan berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal akibat pengaruh fenomena El Niño.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda, Taufiq Hermawan, mengungkapkan bahwa awal musim kemarau di Jawa Timur diperkirakan terjadi secara bertahap mulai April hingga Juni 2026. Adapun puncak kekeringan diprediksi akan terjadi pada bulan Agustus mendatang.

Read More

“Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak kondisi cuaca di Jawa Timur, termasuk kemungkinan kekeringan jika curah hujan terus berkurang,” ujar Taufiq dalam keterangan resminya, Selasa (10/3/2026).

Dampak Fenomena El Niño

Data BMKG menunjukkan sekitar 75,5 persen wilayah Jawa Timur, atau sebanyak 56 dari 74 Zona Musim (ZOM), akan mengalami sifat hujan di bawah normal. Potensi penguatan El Niño dengan intensitas lemah hingga moderat diperkirakan mencapai 50–60 persen pada pertengahan hingga akhir tahun 2026.

Secara rincinya, sebanyak 43 ZOM atau sekitar 56,9 persen wilayah Jatim akan mulai memasuki masa kemarau pada bulan Mei. Penguatan fenomena El Niño di paruh kedua tahun ini diyakini menjadi faktor utama menurunnya curah hujan secara signifikan di sebagian besar kabupaten/kota.

Langkah Mitigasi dan Antisipasi

Menyikapi prediksi kemarau kering ini, BMKG merekomendasikan sejumlah langkah mitigasi strategis bagi pemerintah daerah dan sektor terkait:

  1. Sektor Pertanian: Penyesuaian kalender tanam dan penggunaan varietas padi yang tahan kekeringan untuk mencegah gagal panen.
  2. Sumber Daya Air: Optimalisasi waduk, embung, dan penampungan air lainnya guna menjaga ketersediaan air bersih.
  3. Kebencanaan: Peningkatan kesiapsiagaan terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta krisis air bersih di wilayah rawan.

Sebagai catatan, kondisi serupa pernah melanda Jawa Timur pada tahun 2023. Saat itu, El Niño menyebabkan penurunan curah hujan drastis yang memicu krisis air bersih di sejumlah titik serta mengganggu produktivitas lahan pertanian.

BMKG berkomitmen untuk terus memperbarui data prakiraan iklim secara rutin agar dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam melakukan perencanaan sektor strategis dan pengelolaan cadangan air selama musim kering berlangsung.

Related posts