JEMBER, HeadlineJatim.com- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak pada sektor otomotif di Kabupaten Jember. Tercatat hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tercatat Rp17.964, cukup menguat dari beberapa hari sebelumnya yang tembus Rp18 ribu. Namun dalam beberapa pekan terakhir, harga berbagai kebutuhan kendaraan bermotor seperti oli, ban, dan suku cadang mengalami kenaikan cukup signifikan hingga mencapai rata-rata 30 persen.
Kenaikan harga tersebut dirasakan langsung oleh pelaku usaha otomotif maupun masyarakat yang rutin melakukan perawatan kendaraan. Biaya servis dan penggantian komponen kini menjadi lebih mahal dibandingkan sebelumnya, sehingga memengaruhi daya beli konsumen. Ainur Rosi, penjaga sekaligus kasir Toko Citra Motor di Jalan Jayanegara, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, mengatakan kenaikan harga mulai terjadi secara bertahap dalam sekitar satu bulan terakhir.
Hampir seluruh produk otomotif yang dijual di tokonya mengalami penyesuaian harga.
“Pokoknya semua barang sekarang naik sekitar 30 persen. Mulai dari oli, ban, sparepart, sampai baut-baut juga ikut naik,” ujar Ainur saat ditemui, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, kenaikan harga tidak terjadi sekaligus, melainkan dilakukan bertahap oleh distributor maupun produsen. Dalam setiap penyesuaian, harga barang bisa naik sekitar Rp5 ribu, namun jika diakumulasikan total kenaikannya mencapai sekitar 30 persen. Salah satu produk yang mengalami lonjakan cukup tinggi adalah oli MPX.
Jika sebelumnya dijual sekitar Rp45 ribu per botol, kini harganya telah mencapai Rp65 ribu hingga Rp70 ribu per botol. Kenaikan juga terjadi pada oli Deltalub yang sebelumnya berada di kisaran Rp80 ribu hingga Rp85 ribu dan kini menyentuh Rp105 ribu per botol.
Tidak hanya oli, harga ban sepeda motor juga mengalami kenaikan. Ban yang sebelumnya dijual sekitar Rp185 ribu kini telah menembus angka lebih dari Rp200 ribu. Komponen lain seperti tebeng, seal, dan berbagai sparepart berbahan plastik juga mengalami kenaikan harga meski tidak setinggi produk pelumas.
“Yang paling terasa memang oli. Kalau sparepart plastik dan seal juga naik, tetapi oli yang paling cepat,” katanya.
Dampak kenaikan harga tersebut mulai dirasakan pelaku usaha. Ainur mengungkapkan jumlah pelanggan yang datang untuk membeli sparepart maupun melakukan servis kendaraan mengalami penurunan. Banyak konsumen memilih menunda perawatan kendaraan karena harus menyesuaikan kondisi keuangan mereka.
“Pelanggan berkurang dibandingkan sebelumnya karena banyak yang kaget harga naik cukup cepat,” ungkapnya.
Kondisi serupa dirasakan M. Robi Tuniam, salah seorang pelanggan. Ia mengaku biaya perawatan sepeda motor kini semakin membebani pengeluaran rumah tangga.
Terakhir kali mengganti oli Yamalube untuk motor matic miliknya, ia harus mengeluarkan biaya sekitar Rp62 ribu, lebih tinggi dibandingkan beberapa waktu lalu.
“Saya cukup keberatan karena harganya jauh lebih mahal dibanding sebelumnya. Terakhir saya mengganti oli Yamalube untuk motor matic Yamaha dan harganya sudah sekitar Rp62 ribu,” tuturnya.
Robi berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah agar harga kebutuhan masyarakat, termasuk produk otomotif, tidak terus mengalami kenaikan. Menurutnya, kondisi saat ini cukup memberatkan, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah yang bergantung pada kendaraan bermotor untuk aktivitas sehari-hari.
“Harapan saya pemerintah bisa menjaga stabilitas ekonomi sehingga harga-harga kembali normal dan tidak terus membebani masyarakat,” pungkasnya.






