CIANJUR-JABAR, HeadlineJatim.com— Dugaan keracunan massal yang terjadi di Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, masih dalam proses penyelidikan hingga akhir April 2026. Kasus tersebut menjadi perhatian publik setelah puluhan warga, mayoritas ibu menyusui dan balita, mengalami keluhan kesehatan usai mengikuti kegiatan Posyandu yang berkaitan dengan distribusi makanan tambahan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Informasi awal mengenai meningkatnya jumlah warga yang mengalami keluhan kesehatan mulai beredar di media lokal dan media sosial pada pertengahan April 2026. Sejumlah akun digital seperti Instagram BacaAja.co, Feedgramindo, serta kanal informasi regional Cianjur turut mengunggah perkembangan kasus sebelum perhatian publik meluas ke tingkat nasional.
Kepala Puskesmas Leles, Tedi Nugraha, dalam keterangannya yang dikutip media regional pada Sabtu, 19 April 2026, menyebut gejala mulai muncul setelah kegiatan Posyandu berlangsung di Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur.
“Keluhan mulai muncul setelah kegiatan Posyandu,” ujar Tedi Nugraha.
Menurut Tedi, warga yang datang ke fasilitas kesehatan mengeluhkan kondisi seperti mual, muntah, pusing, dan lemas. Pada tahap awal, sekitar 63 warga yang terdiri dari balita dan ibu menyusui mendapatkan penanganan medis. Dalam perkembangan berikutnya, jumlah korban yang dilaporkan di sejumlah media nasional dan regional meningkat hingga lebih dari 100 orang.
Puskesmas Leles kemudian menjadi titik awal penanganan medis sebelum beberapa pasien dirujuk ke rumah sakit. Salah satu pasien yang menjadi perhatian publik ialah balita berinisial MAB (2), warga Kecamatan Leles, yang sempat menjalani perawatan sebelum dirujuk ke RSUD Pagelaran.
Direktur RSUD Pagelaran, dr. Irfan Nur Fauzi, dalam keterangannya di Kabupaten Cianjur pada Jumat, 25 April 2026, menyebut pasien balita tersebut datang sebagai rujukan dari Puskesmas Leles.
“Pasien balita ini merupakan rujukan dari Puskesmas Leles,” kata dr. Irfan Nur Fauzi.
Ia menjelaskan kondisi pasien saat tiba di rumah sakit berada dalam keadaan tidak stabil dengan keluhan lemas, riwayat diare, serta pembengkakan pada bagian tubuh tertentu. Diagnosis medis awal yang disampaikan pihak rumah sakit adalah syok septik. Meski demikian, RSUD Pagelaran tidak menyimpulkan secara final hubungan kondisi tersebut dengan menu MBG.
Di tengah berkembangnya narasi di ruang digital, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, dr. I Made Setiawan, meminta masyarakat menunggu hasil laboratorium resmi sebelum menarik kesimpulan terkait penyebab kejadian.
“Kami masih menunggu hasil laboratorium,” ujar dr. I Made Setiawan dalam keterangannya kepada media nasional pada Sabtu, 26 April 2026.
Ia menegaskan Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur belum dapat memastikan apakah kondisi para korban, termasuk MAB, berkaitan langsung dengan makanan MBG atau dipengaruhi faktor lain.
Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) turut memberikan klarifikasi setelah kasus tersebut menjadi sorotan nasional. Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik S. Deyang, dalam siaran pers resmi di Jakarta pada 26 April 2026, menyatakan pihaknya belum menemukan bukti final yang menghubungkan kematian balita tersebut dengan Program MBG.
“Tidak benar meninggalnya bayi usia dua tahun di Cianjur karena Program MBG,” ujar Nanik S. Deyang.
BGN menjelaskan distribusi makanan program dilakukan pada Selasa, 14 April 2026. Dalam penjelasannya, BGN juga menyebut adanya konsumsi makanan tambahan lain di luar menu program sebelum gejala dialami korban.
Kasus di Leles berkembang luas di ruang digital setelah laporan mengenai warga yang mengalami keluhan kesehatan menyebar melalui media sosial dan media lokal. Seiring perhatian publik yang meningkat, sejumlah institusi kesehatan dan media nasional mulai menggunakan istilah “diduga keracunan” dan “masih dalam penyelidikan” sambil menunggu hasil investigasi laboratorium resmi.
Hingga berita ini disusun, Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur bersama Labkesda Jawa Barat masih melakukan pemeriksaan terhadap sampel makanan serta penelusuran epidemiologi untuk memastikan penyebab pasti kasus tersebut. Belum ada pengumuman resmi terkait hasil final laboratorium maupun penetapan unsur pidana dalam perkara ini.
Kasus Leles kini tidak hanya dipandang sebagai persoalan kesehatan masyarakat, tetapi juga menjadi perhatian terkait pengawasan distribusi pangan publik, komunikasi krisis, serta percepatan penyebaran informasi di ruang digital.
Sumber data dan referensi berita terbuka:
Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Puskesmas Leles, RSUD Pagelaran, Badan Gizi Nasional (BGN), Antara News, DetikJabar, CNN Indonesia, Cianjur Ekspres, Harian Jogja, Koran Jakarta, Lentera Today, serta dokumentasi unggahan media sosial terbuka yang telah diverifikasi silang hingga Mei 2026.






