Kenyal Gurih Kue Patola Sajian Takjil Legendaris Khas Banyuwangi

Banyuwangi, HeadlineJatim.com– Ramadan membawa berkah tersendiri bagi para perajin kuliner tradisional di Bumi Blambangan. Salah satu yang paling diburu adalah Kue Patola, jajanan legendaris berbahan dasar tepung beras yang kini menjadi primadona takjil buka puasa.

Saking tingginya minat masyarakat, produsen rumahan pun harus bekerja ekstra. Istifala (58), salah satu perajin senior di Banyuwangi, mengaku kewalahan melayani pesanan yang melonjak tajam dibandingkan hari biasa.

Read More

“Sehari kami mengolah hingga 60 kilogram adonan. Produksi dilakukan dua sesi, pagi dan sore, untuk menjaga kesegaran kue,” ujar Istifala saat ditemui di rumah produksinya.

Warisan Generasi Ketiga

Usaha yang ditekuni Istifala bukan kemarin sore. Ia merupakan generasi ketiga yang meneruskan resep keluarga ini selama lebih dari 20 tahun. Keistimewaan Patola buatannya terletak pada tekstur yang pas dan penggunaan pewarna makanan alami.

Proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan tinggi. Tepung beras diolah sedemikian rupa, dibentuk menyerupai mie kecil yang bergumpal, lalu dikukus hingga matang sempurna.

“Harus telaten dan tidak boleh terburu-buru saat pengukusan supaya hasilnya bagus dan tidak lembek,” tambahnya.

Omzet Jutaan Rupiah dan Jangkauan Luar Daerah

Satu porsi Patola berisi 15 biji dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau, yakni Rp 8.000. Meski murah, kualitas rasa yang ditawarkan mampu menarik pembeli dari luar kota, seperti Situbondo.

Dalam sehari, Istifala mampu meraup omzet kotor hingga Rp 2 juta, dengan keuntungan bersih mencapai Rp 1,5 juta. Kesuksesan ini juga turut membantu ekonomi keluarga besarnya, karena ia memberdayakan lima orang saudara untuk membantu produksi.

Kelezatan Patola ini kian dikenal luas berkat kekuatan media sosial. Ismawati, seorang pelanggan setia, mengaku hampir setiap hari membeli Patola untuk menu buka puasa keluarganya.

“Rasanya maknyus, gurih dan manis jika dicampur kuah santan serta gula merah. Harganya pun sangat ramah di kantong,” kata Ismawati.

Senada dengan Ismawati, Dwi Sri, warga Bulusan, mengaku rela datang jauh-jauh karena penasaran setelah melihat video Patola yang viral di TikTok.

“Baru pertama kali mencoba karena tahu dari TikTok, kelihatan sangat menggiurkan. Ternyata isinya memang banyak dan harganya murah,” ungkapnya.

Perpaduan rasa tradisional dan promosi digital kini menjadikan Kue Patola bukan sekadar jajanan, melainkan ikon kuliner yang selalu dinantikan kehadirannya setiap bulan suci Ramadan di Banyuwangi.

Related posts