Surabaya, HeadlineJatim.com– Memasuki keutamaan puasa Ramadhan hari ke-13, umat Muslim semakin mendalami fase Maghfirah atau pengampunan Allah SWT.
Hari ke-13 ini bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan transisi spiritual di mana keteguhan hati diuji untuk tetap konsisten di pertengahan bulan suci. Para ulama menekankan pentingnya memaksimalkan hari ini untuk membersihkan sisa-sisa dosa melalui taubat yang sungguh-sungguh.
Melansir dari portal resmi NU Online dalam artikel berjudul “Fadhilah Puasa Ramadhan Hari ke-1 hingga ke-30“, para ulama Nahdlatul Ulama merujuk pada kitab klasik Fadhâ’il Al-Asyhur Ats-Tsalâtsah.
Keterangan dalam literatur tersebut menyebutkan bahwa keutamaan puasa Ramadhan hari ke-13 adalah Allah SWT mencatat pahala bagi hamba-Nya setara dengan pahala ibadah yang dilakukan oleh orang-orang saleh dan para wali di masa lalu. Ulama NU berpesan agar di hari ke-13 ini, umat Islam memperbanyak zikir dan memohon agar diberikan keteguhan iman hingga akhir Ramadhan.
Di sisi lain, mengutip dari laman Muhammadiyah.or.id melalui ulasan bertajuk “Ramadhan sebagai Madrasah Akhlak: Menuju Kesalehan Sosial“, tokoh-tokoh Muhammadiyah melihat hari ke-13 sebagai tahap krusial dalam pembentukan karakter.
Muhammadiyah menekankan bahwa pada hari ke-13, seorang mukmin seharusnya telah mencapai kemandirian ibadah. Makna puasa hari ke-13 adalah manifestasi dari kesabaran yang telah matang. Pada tahap ini, puasa bukan lagi tentang menahan lapar secara fisik, melainkan tentang bagaimana nilai-nilai kejujuran dan empati mulai terimplementasi secara nyata dalam interaksi sosial sehari-hari.
Tuntunan Resmi Kementerian Agama (Kemenag) RI
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, MA, dalam artikel bertajuk “Istiqamah di Fase Maghfirah” yang dipublikasikan di situs resmi Kementerian Agama, memberikan imbauan strategis.
Beliau menyampaikan bahwa hari ke-13 adalah ujian bagi banyak orang yang mulai merasa jenuh. Kemenag RI mengajak masyarakat untuk tidak mengendurkan ritme ibadah.
“Sepuluh hari kedua adalah masa pengampunan. Jangan sia-siakan hari ke-13 ini tanpa peningkatan kualitas tilawah Al-Qur’an dan sedekah,” ungkap beliau dalam pesan edukatifnya kepada umat.
Secara ilmiah, makna hari ke-13 didukung oleh studi dalam Journal of Islamic Medicine and Health berjudul “The Physiological Impact of Mid-Ramadan Fasting on Cognitive Stability”.
Jurnal tersebut memaparkan bahwa pada hari ke-13, tubuh manusia telah mencapai keseimbangan metabolisme yang stabil. Secara medis, proses detoksifikasi yang terjadi pada minggu kedua Ramadhan ini memicu peningkatan produksi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), yang berfungsi meningkatkan fokus mental dan kesehatan otak. Kondisi fisik yang prima ini sangat mendukung tercapainya kekhusyukan saat menjalankan salat malam (Qiyamul Lail).
Memahami keutamaan puasa Ramadhan hari ke-13 memberikan perspektif bahwa setiap detik di bulan suci ini memiliki nilai yang sangat mahal. Dengan menyinergikan pandangan dari NU, Muhammadiyah, dan Kemenag RI, umat Islam diharapkan dapat menjadikan hari ke-13 ini sebagai batu loncatan untuk meraih derajat taqwa yang lebih tinggi.






