SURABAYA, Headlinejatim.com — Setelah hampir dua dekade LPG 3 kilogram atau “gas melon” menjadi bagian dari dapur rumah tangga Indonesia, pemerintah kini mulai membuka wacana baru dalam transisi energi nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah tengah mengembangkan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif energi rumah tangga untuk mengurangi ketergantungan impor LPG yang selama ini membebani negara.
Wacana tersebut berkembang luas di ruang digital terbuka sejak akhir April hingga awal Mei 2026 setelah sejumlah media nasional memuat pernyataan resmi Menteri ESDM terkait pengembangan tabung CNG ukuran rumah tangga. Dalam laporan , Bahlil menyebut Indonesia saat ini membutuhkan sekitar 8,6 juta ton LPG per tahun, sementara produksi domestik berada di kisaran 1,6 juta ton.
“Karena itu kita harus mencari alternatif agar impor LPG tidak terus membebani negara,” kata Bahlil sebagaimana dikutip CNBC Indonesia, 28 April 2026.
Secara historis, LPG 3 kilogram lahir dari program konversi minyak tanah ke gas pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla tahun 2007. Program tersebut dijalankan melalui Peraturan Presiden Nomor 104 Tahun 2007 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Penetapan Harga LPG Tabung 3 Kilogram. Saat itu jutaan paket perdana berupa kompor, tabung gas, regulator, dan selang dibagikan kepada masyarakat sebagai bagian dari percepatan transisi energi rumah tangga. Kementerian ESDM – Program Konversi Minyak Tanah ke LPG
Namun setelah hampir 18 tahun berjalan, pemerintah menghadapi persoalan baru berupa tingginya ketergantungan impor LPG. Dalam laporan , Bahlil menyebut pemerintah mulai mengembangkan penggunaan CNG untuk sektor rumah tangga karena Indonesia memiliki cadangan gas bumi domestik yang dinilai cukup besar.
“CNG ini sedang kami siapkan sebagai alternatif LPG 3 kilogram. Kalau ini berhasil, maka impor LPG kita bisa ditekan,” ujar Bahlil sebagaimana dikutip Republika Online, 2 Mei 2026.
Dalam laporan yang sama disebutkan penggunaan CNG sebenarnya telah diterapkan pada sejumlah hotel, restoran, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun untuk penggunaan rumah tangga, pemerintah masih melakukan pengembangan desain tabung dan sistem keamanan karena tekanan gas CNG jauh lebih tinggi dibanding LPG biasa.
Isu tersebut semakin berkembang setelah memuat pernyataan bahwa pengembangan CNG dilakukan sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan impor energi nasional.
“Ini bagian dari upaya mengurangi impor LPG dan memanfaatkan gas dari dalam negeri,” kata Bahlil sebagaimana dikutip Investor.id, 6 Mei 2026.
Pada hari yang sama, menulis pemerintah tengah menyiapkan skema penggunaan CNG rumah tangga berbasis tabung kecil apabila hasil pengujian keamanan dinyatakan layak.
“Kalau ini berhasil dan aman, kita bisa kurangi impor LPG secara signifikan,” ujar Bahlil dalam laporan SINDOnews tersebut.
Sementara itu, media sektoral energi menyebut uji coba CNG rumah tangga sedang dilakukan melalui Lemigas dan ditargetkan rampung dalam waktu dua hingga tiga bulan sebelum diterapkan secara bertahap.
“Uji coba dilakukan melalui Lemigas dan ditargetkan rampung dalam 2–3 bulan ke depan sebelum diterapkan secara lebih luas,” tulis SitusEnergi.com dalam laporannya, 6 Mei 2026.
Dalam sejumlah pernyataan yang dimuat media nasional, Bahlil juga menekankan bahwa pemerintah tidak ingin masyarakat terbebani dalam proses transisi energi tersebut. Pemerintah mengklaim biaya penggunaan CNG nantinya dapat lebih murah dibanding LPG subsidi. Dalam laporan , Bahlil menyebut efisiensi penggunaan CNG diperkirakan dapat mencapai 30–40 persen dibanding LPG.
“Kalau dihitung secara ekonomi, CNG ini bisa lebih murah 30 sampai 40 persen dibanding LPG,” ujar Bahlil sebagaimana dikutip Liputan6.com, 3 Mei 2026.
Meski demikian, hingga kini pemerintah belum menyatakan adanya keputusan resmi penghapusan LPG 3 kilogram secara nasional. Sejumlah pejabat ESDM menegaskan program tersebut masih berada pada tahap: Pengembangan teknologi, pengujian keselamatan, simulasi distribusi, serta penyesuaian infrastruktur rumah tangga.
Persoalan keamanan menjadi perhatian penting karena CNG menggunakan tekanan jauh lebih tinggi dibanding LPG. Dalam laporan disebutkan tekanan CNG dapat mencapai 200–250 bar sehingga membutuhkan desain tabung, regulator, dan sistem distribusi yang berbeda.
“Karena tekanannya tinggi, maka sistem pengamannya juga harus berbeda,” kata Bahlil sebagaimana dikutip ANTARA.
Di media sosial, isu ini berkembang cepat melalui unggahan reels Instagram, Facebook, hingga YouTube. Akun Instagram Anak Teknik Indonesia pada awal Mei 2026 mengunggah konten edukasi bertajuk “LPG 3KG Akan Digantikan CNG?” yang menjelaskan perbedaan teknis LPG dan CNG, termasuk potensi efisiensi subsidi dan karakteristik keamanan gas bertekanan tinggi.
Sementara akun Instagram CNBC Indonesia melalui unggahan akhir April 2026 turut menyoroti kebutuhan LPG nasional dan strategi pemerintah mengurangi impor energi. Di platform YouTube, kanal KONTAN TV juga mengunggah video bertajuk “LPG 3 Kg Akan Diganti! Pemerintah Mulai Uji CNG Tahun Ini” pada Mei 2026 yang memperluas diskusi publik mengenai kemungkinan transisi energi rumah tangga Indonesia.
Hingga kini pemerintah menegaskan CNG masih berada pada tahap pengembangan dan belum diterapkan secara nasional. Namun di balik wacana tersebut, satu hal mulai terlihat jelas: setelah hampir dua dekade “gas melon” menjadi simbol dapur rakyat Indonesia, pemerintah kini tengah mencari babak baru energi rumah tangga berbasis gas bumi domestik.
Sumber Data dan Referensi Penunjang
Pemerintah dan Institusi
1. Kementerian ESDM – Program Konversi Minyak Tanah ke LPG
2. Lemigas ESDM
Media Nasional
3. CNBC Indonesia – “RI Butuh 8,6 Juta Ton LPG per Tahun, Begini Strategi Terbaru Bahlil” (28 April 2026)
4. Republika Online – “Bahlil Ungkap RI Kembangkan CNG Sebagai Alternatif LPG 3 Kilogram” (2 Mei 2026)
5. Investor.id – “Bahlil Angkat Bicara Soal Wacana CNG Gantikan LPG 3 Kg” (6 Mei 2026)
6. SINDOnews Ekbis – “Bahlil: Indonesia Bisa Setop Impor LPG jika Sudah Pakai CNG 3 Kg” (6 Mei 2026)
7. SitusEnergi.com – “CNG 3 Kg Disiapkan Gantikan LPG, Bahlil: Impor Rp150 T Bisa Dipangkas” (6 Mei 2026)
8. Liputan6.com – “Pemerintah Siapkan CNG 3 Kg Pengganti LPG 3 Kg” (3 Mei 2026)
9. ANTARA – “Bahlil: CNG Berpotensi Gantikan LPG 3 Kilogram” (Mei 2026)
Media Sosial dan Ruang Digital Terbuka
10. Instagram Anak Teknik Indonesia – “LPG 3KG Akan Digantikan CNG?” (awal Mei 2026)
11. Instagram CNBC Indonesia – Strategi Pengurangan Impor LPG (akhir April 2026)
12. YouTube KONTAN TV – “LPG 3 Kg Akan Diganti! Pemerintah Mulai Uji CNG Tahun Ini” (Mei 2026)






