BPOM Soroti Pelanggaran SOP Dapur MBG Jember, Dugaan Keracunan Dipicu Kontaminasi Bakteri

JEMBER, HeadlineJatim.com — Kasus dugaan keracunan massal program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa puluhan siswa PAUD dan TK di Kecamatan Kaliwates, Jember, memasuki babak baru. Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Jember kini menyoroti tajam standar operasional prosedur (SOP) pengolahan makanan di dapur penyedia.

Petugas dari UPT Badan POM tersebut telah melakukan penelusuran langsung ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Al Mubarok Kaliwates (Yayasan 88 Berkah) di Jalan Teratai. Langkah ini diambil untuk mengevaluasi rantai produksi dari hulu ke hilir pasca-tumbangnya puluhan balita.

Read More

Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda Balai POM Jember, Yushita Harminingsih, menjelaskan bahwa memasak dalam volume besar memiliki risiko kontaminasi yang sangat tinggi jika tidak menerapkan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB).

“Ini proses yang kompleks. Ada pengolahan pangan jumlah besar, jalur distribusi, hingga rentang waktu antara makanan dimasak dengan dikonsumsi. Jika salah satu tahapan tidak sesuai SOP, risiko fatal seperti ini bisa terjadi,” ujar Yushita saat dikonfirmasi, Kamis (21/5/2026).

Dugaan Kontaminasi Mikrobiologi dan Bakteri

Yushita menambahkan, berdasarkan indikasi medis awal pada gejala korban, pihak BPOM menduga kuat adanya kontaminasi mikrobiologi yang berasal dari bakteri. Kendati demikian, kepastian tersebut masih harus menunggu hasil uji klinis dari Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda).

Pemeriksaan kini tidak hanya fokus pada sisa makanan, tetapi juga kepatuhan dapur dalam menyimpan sampel makanan cadangan (retention sample) yang wajib diletakkan dalam lemari pendingin selama 2×24 jam.

“Setiap SPPG wajib memiliki SOP yang rigid di tiap tahapan kerja, serta menyimpan sampel makanan. Dari sana kita bisa melacak di titik mana kerusakan atau kontaminasi itu terjadi. Uji laboratorium juga akan diperkuat lewat spesimen muntahan atau feses penderita,” jelasnya.

Tamparan Keras, Pemkab Jember Ancam Sanksi Penutupan

Sementara itu, Ketua Satgas MBG Jember yang juga Penjabat (Pj.) Sekda Jember, Achmad Imam Fauzi, menegaskan bahwa insiden dugaan keracunan MBG Jember ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah. Mengingat, wilayah ini sebelumnya diproyeksikan sebagai salah satu pilot project nasional.

Fauzi menyatakan, pihaknya tidak segan untuk merekomendasikan penutupan permanen terhadap mitra dapur yang terbukti lalai dalam menjaga higienitas dan keselamatan kerja.

“Keselamatan siswa itu mutlak. Kami akan melakukan evaluasi total dan berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) pusat. Jika hasil lab terbukti ada kelalaian, kalau perlu izinnya ditutup,” tegas Fauzi.

Soroti Kelayakan K3 Dapur Produksi

Selain masalah pangan, Satgas MBG Jember juga menemukan bahwa sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di SPPG Al Mubarok belum berjalan maksimal. Hal ini berkaca dari adanya temuan insiden kebocoran instalasi gas di ruang tertutup pada sidak sebelumnya.

Pemerintah Kabupaten Jember menyatakan bahwa Bupati Jember turut menyampaikan rasa penyesalan yang mendalam serta meminta maaf secara terbuka kepada para korban dan wali murid. Pemkab berjanji proses evaluasi ini akan berjalan transparan tanpa sekadar terjebak pada aspek seremonial.

Related posts