Pasuruan, headlinejatim.com – Dari heningnya rimba Taman Wisata Alam Gunung Baung, gema peringatan tentang rapuhnya ekosistem Indonesia kembali terdengar. Dalam forum Baung Ecological Camp 2025, Gatut Panggah Prasetya, SP., M.Sc., Kepala Bidang Wilayah III Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa Timur, menegaskan bahwa bangsa ini tengah berdiri di persimpangan: antara menjaga bumi tetap lestari atau membiarkannya runtuh di bawah beban perusakan.
_“Deforestasi tahun 2023 mencapai 175,4 ribu hektare, emisi gas rumah kaca terus meningkat, sementara sampah nasional menembus 19,45 juta ton dengan daur ulang hanya 12 persen. Angka ini bukan sekadar statistik, tapi potret nyata ancaman masa depan,”_ tegasnya di hadapan peserta camp
Indonesia, negeri dengan 177 ekoregion darat dan 18 ekoregion laut, menyimpan kekayaan biodiversitas yang tiada tara. Namun, tekanan industri, urbanisasi, dan lemahnya tata kelola daerah menjadikan banyak wilayah terjerembab dalam degradasi. Dari kualitas udara Jakarta yang tercekik polusi, hingga ancaman air bersih di Jawa Timur, tanda-tanda krisis ekologis semakin nyata.
_“Pulau Jawa yang hanya enam persen luas daratan menanggung beban lebih dari 55 persen populasi. Ini tekanan luar biasa bagi daya dukung air, udara, dan ruang hidup,”_ ungkapnya.
Di tengah tantangan, Gatut menekankan pentingnya kolaborasi pentahelix—pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media. Sinergi ini, katanya, terbukti berhasil dalam pemulihan DAS Citarum hingga pengelolaan pesisir Makassar.
Perguruan tinggi, menurutnya, harus menjadi garda depan, menyusun dokumen tata kelola lingkungan, melahirkan inovasi ramah lingkungan, hingga melatih generasi muda menjadi jurnalis warga dan komunikator sains.
_“Industri 5.0 bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang harmoni: manusia, etika, dan keberlanjutan. Di sinilah kita ditantang membuktikan bahwa pembangunan bisa sejalan dengan kelestarian,”_ jelasnya
Baung Ecological Camp 2025 bukan sekadar pertemuan kemah biasa. Di tengah tenda-tenda yang berdiri di bawah rindang hutan, para peserta muda diajak menyelami ekologi hutan, konservasi satwa, hingga jurnalisme lingkungan.
_“Generasi muda adalah penentu. Jika kalian memilih untuk peduli hari ini, maka esok kita masih punya hutan, sungai, dan udara bersih untuk diwariskan. Jika tidak, kita akan menyaksikan keruntuhan bersama.”_ pesan Gatut menutup presentasinya.
Dari Gunung Baung, pesan itu mengalir deras, menjaga alam bukan pilihan, melainkan kewajiban. Sebuah seruan yang tak hanya menggema di antara pohon-pohon dan aliran sungai, tetapi juga mengetuk nurani setiap insan yang peduli pada bumi.






