UMKM Rumahan Pasarkan Minuman Kombucha, Ungkap Manfaat Kesehatan dan Keuntungannya

JEMBER, HeadlineJatim.com– Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap produk kesehatan alami, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) rumahan di Kabupaten Jember mulai mengembangkan minuman kombucha sebagai alternatif minuman probiotik.

Salah satunya dijalankan oleh Arof Qurotul Khosiah (25), yang berhasil memasarkan kombucha hingga terjual puluhan botol setiap hari melalui jaringan komunitas, lingkungan sekitar, dan penjualan daring.

Read More

Kombucha merupakan minuman hasil fermentasi teh yang dikenal memiliki cita rasa khas, perpaduan manis, asam, dan sedikit sensasi bersoda alami. Minuman ini dibuat dari bahan sederhana berupa teh, gula, dan air yang difermentasi selama kurang lebih dua pekan menggunakan kultur bakteri dan ragi yang dikenal dengan sebutan SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast).

“Kombucha ini adalah minuman teh fermentasi yang menjadi minuman probiotik alami. Bahan-bahannya terbuat dari teh, gula, dan air yang kemudian difermentasi selama dua minggu,” ujar perempuan yang akrab disapa Ica ini, saat ditemui di lokasi produksinya, Selasa (30/6/2026).

Menurutnya, minuman tersebut mulai diminati karena banyak masyarakat yang mencari produk pendukung gaya hidup sehat. Ia menyebut kombucha dipercaya memiliki sejumlah manfaat, mulai dari membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan, mendukung kesehatan jantung, meningkatkan imunitas tubuh, hingga membantu program diet dan menjaga kesehatan kulit.

“Manfaatnya ada banyak sekali. Mulai dari untuk kesehatan jantung, kesehatan saluran pencernaan, untuk kulit, cocok untuk diet, membantu mengontrol gula darah, dan juga sangat bagus untuk imunitas tubuh,” katanya.

Ica menjelaskan, proses pembuatan kombucha dilakukan secara bertahap. Awalnya gula dan air direbus hingga mendidih, kemudian ditambahkan teh dan didinginkan.

Setelah itu larutan dimasukkan ke dalam toples kaca sebelum ditambahkan starter fermentasi dan SCOBY. Campuran tersebut kemudian difermentasi selama sekitar 14 hari pada suhu ruangan hingga siap dipanen, dikemas, dan dipasarkan.

Meski kini permintaan terus meningkat, perjalanan memperkenalkan kombucha kepada masyarakat tidak selalu mudah. Pada awal pemasaran, banyak calon konsumen yang masih asing dengan produk tersebut dan mempertanyakan keamanan maupun rasanya.

“Awal-awal memang cukup sulit diterima karena banyak yang belum tahu kombucha itu apa. Mereka khawatir rasanya tidak enak atau bahkan berbahaya. Tapi setelah mencoba, ternyata banyak yang suka karena rasanya bisa diterima oleh anak-anak, remaja, sampai orang tua,” ungkapnya.

Berkat edukasi yang dilakukan secara langsung kepada calon konsumen, minat masyarakat perlahan meningkat. Saat ini, usaha yang dirintisnya mampu menjual sekitar 80 hingga 100 botol kombucha per hari dengan harga Rp10 ribu per botol ukuran 250 mililiter.

Dengan angka penjualan tersebut, omzet kotor harian dapat mencapai Rp800 ribu hingga Rp1 juta. Produk tersebut dipasarkan melalui komunitas-komunitas, lingkungan sekitar, serta berbagai platform penjualan online. Ke depan, Ica berencana memperluas jangkauan pemasaran agar produk kombucha semakin dikenal masyarakat.

Ia juga mengingatkan konsumen yang baru pertama kali mencoba kombucha agar mengonsumsinya secara bertahap. Menurutnya, takaran yang dianjurkan untuk pemula berkisar 110 hingga 120 mililiter per hari. Bagi penderita maag, konsumsi disarankan setelah makan, sementara minuman tersebut sebaiknya tidak dikonsumsi menjelang tidur karena masih mengandung kafein alami dari teh.

Untuk menjaga kualitas produk, kombucha dianjurkan disimpan di dalam lemari pendingin. Penyimpanan dingin dapat memperlambat proses fermentasi sehingga rasa tetap terjaga dan masa simpannya lebih lama. Sebaliknya, jika terlalu lama dibiarkan pada suhu ruangan, fermentasi akan terus berlangsung hingga minuman berubah menjadi cuka.

Keberhasilan pemasaran kombucha oleh UMKM rumahan ini menunjukkan bahwa produk kesehatan berbasis fermentasi mulai mendapat tempat di tengah masyarakat. Selain menawarkan potensi manfaat kesehatan, usaha tersebut juga membuka peluang ekonomi yang menjanjikan bagi pelaku UMKM lokal.

Related posts