Indonesia Jadi Tuan Rumah IGIC 2026, Ratusan Imam Besar Dunia Bakal Berkumpul di Masjid Istiqlal

SURABAYA, headlinejatim.com – Indonesia dipastikan menjadi tuan rumah International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 yang akan digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada 27-28 September 2026. Sekitar 400 imam besar dari berbagai negara dijadwalkan hadir dalam forum internasional yang mengusung misi memperkuat diplomasi keagamaan dan perdamaian dunia.

Kepastian tersebut disampaikan dalam rangkaian Bridging Conference IGIC 2026 bertema Masjid Harmony: Religions, Information, and Global Peace yang digelar di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, Minggu (2/8/2026).

Kegiatan itu dihadiri Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Kepala Kanwil Kemenag Jatim Akhmad Sruji Bahtiar, Ketua Steering Committee (SC) IGIC Irjen Pol. Dr. H.M. Sabilul Alif, jajaran Ikatan Persaudaraan Imam Masjid (IPIM), pimpinan pondok pesantren, akademisi, organisasi kemasyarakatan Islam, hingga ribuan jemaah.

Ketua Organizing Committee (OC) IGIC 2026 Farid F. Saenong mengatakan, konferensi internasional tersebut menjadi momentum memperkuat peran imam masjid dalam menjawab berbagai persoalan global melalui pendekatan diplomasi keagamaan.

“Melalui kegiatan prapuncak ini kami menyosialisasikan agenda besar September mendatang lewat seminar dan tablig akbar. Ini merupakan kolaborasi antara IPIM, Kementerian Agama, dan perguruan tinggi Islam di berbagai daerah,” ujar Farid.

Sebagai bagian dari persiapan menuju konferensi utama, panitia menggelar Bridging Conference di enam kota, yakni Samarinda, Makassar, Banten, Surabaya, Bandung, dan Pontianak.

Farid mengungkapkan, hingga kini panitia telah menjalin komunikasi dengan sekitar 47 masjid utama dari berbagai negara, dan sebagian besar telah menyatakan kesediaannya hadir pada IGIC 2026.

Di antara tokoh yang diharapkan hadir yakni Imam Besar Masjidil Haram Syekh Abdul Rahman As-Sudais dan Imam Besar Al-Azhar Mesir Syekh Ahmad Al-Thayyib.

“Konferensi ini bertujuan mempertegas kembali peran imam besar dan tokoh agama dalam membangun perdamaian dunia melalui religious diplomacy,” katanya.

Sementara itu, Ketua Steering Committee IGIC Irjen Pol. Dr. H.M. Sabilul Alif menilai kolaborasi ulama dan pemerintah menjadi kunci dalam membangun masyarakat yang tidak hanya sejahtera secara ekonomi, tetapi juga kuat secara spiritual.

“Kolaborasi antara ulama dan umara sangat penting untuk memperkokoh masyarakat, baik dari sisi finansial maupun kemakmuran spiritual,” ujarnya.

Ia menegaskan, IGIC bukan sekadar forum internasional, melainkan gerakan bersama untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah sebagai fondasi perdamaian dunia.

Di sisi lain, Kepala Kanwil Kementerian Agama Jawa Timur Akhmad Sruji Bahtiar mengatakan rangkaian istighasah dan doa bersama yang digelar di Surabaya menjadi bagian dari Road to IGIC 2026.

Menurutnya, Jawa Timur memiliki posisi strategis sebagai salah satu pusat perkembangan Islam di Indonesia sehingga diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam menyukseskan forum internasional tersebut.

“Kegiatan ini menjadi momentum memperkuat peran ulama, imam, dan tokoh agama dalam membangun peradaban dunia yang damai, moderat, dan berkeadaban,” katanya.

Sementara itu, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menyebut sekitar 400 imam besar dari berbagai belahan dunia, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, hingga negara-negara Timur Tengah, direncanakan menghadiri IGIC 2026 di Jakarta.

Selain menjadi forum silaturahmi para imam besar dunia, konferensi tersebut juga akan menjadi agenda pemilihan kepemimpinan baru organisasi imam besar dunia.

Dalam kesempatan itu, Nasaruddin mengingatkan bahwa fungsi masjid tidak boleh dipahami sebatas bangunan fisik.

“Lebih penting membangun sajid daripada masjid. Tanpa ada masjid, kita tetap bisa sujud. Rasulullah bersabda bahwa bumi ini adalah tempat sujud,” tegas Imam Besar Masjid Istiqlal itu.

Ia menjelaskan, pada masa Rasulullah SAW, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pemerintahan, pendidikan, pelayanan sosial, kesehatan, hingga ruang dialog lintas agama.

Karena itu, menurut Nasaruddin, para imam besar dunia diharapkan mampu mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat pemberdayaan umat sekaligus penyebar nilai-nilai Islam yang damai, moderat, dan rahmatan lil ‘alamin.

Related posts