Sate Komoh, Sajian Kuliner Jawa Timur yang Hampir Punah, Hadir Kembali di Bulan Kemerdekaan

SURABAYA, headlinejatim.com — Semangat memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia tidak hanya diwujudkan melalui berbagai kegiatan dan perayaan. Kekayaan budaya Nusantara, termasuk kuliner tradisional yang mulai jarang ditemui, juga menjadi bagian yang penting untuk terus dikenalkan kepada masyarakat.

Salah satu bentuk upaya pelestarian itu terlihat dari hadirnya kembali Sate Komoh, kuliner khas Jawa Timur yang kini semakin sulit ditemui, di Hotel Aria Surabaya. Dari sajian yang dulu hanya dikenal dalam acara adat dan tradisi masyarakat, Sate Komoh kini kembali disajikan kepada tamu hotel sebagai bagian dari perayaan bulan kemerdekaan.

Chef Hotel Aria Surabaya, Agus Ariyanto, mengatakan Sate Komoh merupakan salah satu masakan tradisional yang menarik untuk kembali diperkenalkan, khususnya dalam momentum peringatan 17 Agustus.

“Di bulan Agustus ini kami ingin mengangkat masakan Nusantara yang hampir punah, supaya masyarakat kembali mengenal dan mengingat kuliner tradisional kita,” ujar Agus.

Sate Komoh dibuat menggunakan daging sapi lulur khas dalam yang dipotong berbentuk dadu. Daging kemudian dimasak bersama bumbu rempah yang menjadi karakter utama hidangan tersebut.

Bumbu dibuat dari perpaduan bawang merah, cabai merah dan kemiri yang dihaluskan. Setelah itu, bumbu ditumis bersama daun jeruk, serai dan lengkuas hingga matang, harum dan mengeluarkan warna merah yang menggugah selera.

Daging sapi yang telah dipotong kemudian dimasukkan ke dalam tumisan bumbu. Masakan ditambahkan air asam jawa dan dimasak kurang lebih selama 20 menit. Proses tersebut dilakukan agar bumbu meresap ke dalam daging sekaligus menghasilkan perpaduan rasa gurih, pedas dan sedikit asam.

Setelah bumbu meresap, potongan daging ditusuk menggunakan tusukan bambu dan kemudian dibakar. Proses pembakaran memberikan aroma khas sekaligus memperkuat cita rasa rempah pada Sate Komoh.

Tidak hanya sate, sajian ini juga dilengkapi urap-urap dan bayam crispy sebagai pelengkap. Nasi disajikan dalam bentuk kerucut menyerupai tumpeng, yang semakin memperkuat nuansa tradisional sekaligus identik dengan semangat perayaan kemerdekaan pada bulan Agustus.

Bagi Agus, menghadirkan kembali Sate Komoh bukan sekadar menawarkan menu baru kepada tamu hotel. Lebih dari itu, sajian tersebut menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kembali kekayaan kuliner daerah kepada generasi masa kini.

Sate Komoh sendiri dikenal sebagai salah satu sajian yang biasanya hadir dalam berbagai acara adat dan tradisi masyarakat. Namun, keberadaannya kini semakin jarang ditemui dalam sajian kuliner sehari-hari.

Karena itu, dari kuliner yang hampir terlupakan hingga kembali dihidangkan di meja makan modern, momentum bulan kemerdekaan dinilai menjadi waktu yang tepat untuk menghidupkan kembali sajian tradisional tersebut dalam kemasan yang lebih modern, tanpa menghilangkan karakter rasa aslinya.

“Sate Komoh ini paling pas dinikmati untuk makan siang maupun makan malam,” kata Agus.

Bagi masyarakat yang ingin mencicipinya, Sate Komoh tersedia di Hotel Aria Surabaya selama bulan Agustus. Sajian kuliner khas Jawa Timur tersebut dibanderol Rp85 ribu per porsi, sudah termasuk pajak dan layanan (nett).

Melalui Sate Komoh, semangat kemerdekaan pun tidak hanya dirayakan melalui simbol dan seremoni, tetapi juga lewat upaya menjaga warisan kuliner Nusantara agar tidak hilang ditelan zaman.

Related posts