SURABAYA, HeadlineJatim.com — Berbicara mengenai kekayaan kuliner Surabaya, tak lengkap rasanya tanpa membahas sejarah petis Jawa Timur. Bumbu berwarna hitam pekat dengan aroma khas ini merupakan kunci kelezatan menu ikonik seperti rujak cingur, tahu tek, hingga lontong balap. Namun, tahukah Anda bagaimana awal mula terciptanya bumbu legendaris ini?
Penelusuran sejarah menunjukkan bahwa fondasi pengolahan petis telah ada sejak ribuan tahun lalu. Meski istilah “petis” tidak muncul secara eksplisit, bukti arkeologis memberikan petunjuk kuat mengenai asal-usulnya.
Jejak Petis dalam Prasasti Jawa Kuno
Akar dari sejarah petis Jawa Timur dapat dirunut hingga abad ke-10. Merujuk pada data Prasasti Rukam (907 M) dan Prasasti Panggumulan, masyarakat Jawa Kuno diketahui telah memiliki sistem pangan laut yang mapan. Data dari Museum Sonobudoyo mencatat bahwa ikan asin, udang, dan kepiting adalah komoditas penting kala itu.
Meskipun Prasasti Canggu (1358 M) dan kitab Nagarakretagama lebih banyak membahas sistem pemerintahan, teknik pengolahan hasil laut sebagai cara pengawetan protein hewani di wilayah pesisir menjadi cikal bakal lahirnya petis. Para sejarawan sepakat bahwa proses reduksi atau penyusutan cairan rebusan udang inilah yang kemudian berevolusi menjadi petis yang kita kenal sekarang.
Evolusi Rasa: Dari Pesisir Menuju Kuliner Surabaya
Memasuki abad modern, sejarah petis Jawa Timur semakin terdokumentasi dengan baik. Penelitian Romadhon (2025) dari Jurnal Ilmiah Pangan Halal Universitas Djuanda Bogor mengungkapkan bahwa petis adalah hasil adaptasi lokal terhadap iklim tropis. Rasa umami yang dihasilkan dari proses reduksi sari udang menjadi solusi praktis bagi masyarakat pesisir untuk menciptakan bumbu yang tahan lama.
Dalam perkembangannya, petis menjadi primadona di Surabaya. Platform budaya Indonesia Kaya dan data Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual mengonfirmasi bahwa kuliner berbasis petis seperti lontong balap telah menjadi warisan komunal. Buktinya, kehadiran tempat makan legendaris seperti Lontong Balap Pak Gendut (sejak 1958) dan Tahu Tek Pak H. Ali (sejak 1962) membuktikan bahwa bumbu ini telah mengakar kuat setidaknya sejak pertengahan abad ke-20.
Catatan Global dan Warisan Budaya Tak Benda
Interaksi maritim Nusantara juga mewarnai narasi petis. Catatan perjalanan Yijing dan kronik Dinasti Tang menunjukkan Jawa sebagai pusat perdagangan yang dinamis. Meski sejarawan Anthony Reid mencatat adanya pertukaran komoditas di Asia, teknik pembuatan petis dipastikan merupakan inovasi asli penduduk lokal.
Identifikasi petis sebagai produk komersial bahkan tercatat oleh Thomas Stamford Raffles dalam bukunya, The History of Java (1817). Raffles menyebutkan adanya olahan sari udang yang menjadi bumbu favorit warga lokal. Kini, petis tidak hanya sekadar bumbu, tetapi telah diakui dalam inventarisasi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kesimpulan: Jembatan Rasa Lintas Zaman
Hingga hari ini, sejarah petis Jawa Timur terus berlanjut melalui rantai ekonomi UMKM di sentra pengolahan petis Sidoarjo dan Gresik. Dari catatan Prasasti Jawa Kuno hingga kelezatan seporsi rujak cingur di pinggir jalan Surabaya, petis adalah bukti nyata kejeniusan nenek moyang dalam mengolah sumber daya alam.






