Khofifah Ganjar Bonus Rp1,845 Miliar untuk Atlet Paralimpik Jatim yang Berprestasi di ASEAN Para Games 2025

SURABAYA, Headlinejatim.com— Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memberikan penghargaan berupa bonus total Rp1,845 miliar kepada 15 atlet paralimpik dan dua pelatih Jawa Timur yang berprestasi dalam ASEAN Para Games 2025.

Penyerahan bonus tersebut dilakukan di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu (15/4), didampingi Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono serta Ketua National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Jawa Timur Imam Kuncoro.

Read More

Pada ajang tersebut, kontingen atlet paralimpik Jawa Timur berhasil menyumbangkan total 35 medali, terdiri dari 10 emas, 19 perak, dan 6 perunggu. Sebanyak 15 atlet berlaga pada enam cabang olahraga, yakni para atletik, para renang, para panahan, para bulu tangkis, para tenis meja, dan voli duduk.

Dalam sambutannya, Khofifah menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas dedikasi, kerja keras, serta semangat juang para atlet dan pelatih yang telah mengharumkan nama Jawa Timur di kancah internasional.

“Alhamdulillah kawan-kawan atlet paralimpik Jatim sudah memberikan dedikasi yang terbaik dan terus mencapai prestasi terbaiknya. Terakhir ini ASEAN Para Games,” ujarnya.

Menurut Khofifah, capaian tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan olahraga bagi atlet paralimpik di Jawa Timur berjalan secara konsisten dan terarah. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara latihan fisik yang disiplin dan penguatan mental dalam menghadapi kompetisi yang dinamis.

“Terima kasih karena pelatihnya luar biasa, atletnya juga sangat luar biasa. Bagaimana pentingnya membangun kedisiplinan, ada sisi pelatihan fisik, ada pengasahan mental. Dua-duanya dibutuhkan karena setiap kompetisi biasanya tantangannya dinamik, berbeda-beda,” ungkapnya.

Ia meyakini bahwa kombinasi ketahanan fisik yang terbentuk dari disiplin dan ketahanan mental yang terus diasah akan mengantarkan para atlet meraih prestasi-prestasi berikutnya.

“Saya yakin bahwa ketahanan fisik yang terlahir dengan disiplin dan ketahanan mental yang terasah akan terus mengantarkan prestasi gemilang berikutnya,” tambahnya.

Lebih lanjut, Khofifah menilai dukungan berbasis sport science menjadi bagian penting dalam meningkatkan performa atlet. Dalam hal ini, peran Universitas Negeri Surabaya disebut turut memberi kontribusi dalam penguatan aspek ilmiah pembinaan olahraga.

Ke depan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan mengkaji pengembangan pusat pelatihan terintegrasi yang lebih efektif dan inklusif bagi atlet paralimpik.

“Tadi yang dijelaskan Bapak Imam Kuncoro bagaimana sebetulnya terkait pusat pelatihan terintegrasi akan dibahas ulang dengan Kadispora dan Pak Sekda, tentu kalau menyiapkan pusat pelatihan integrasi formatnya seperti apa yang bisa lebih efektif bagi atlet paralimpik ini,” katanya.

Selain itu, Khofifah juga mendorong adanya pemetaan kekuatan atlet, baik di tingkat nasional maupun internasional, guna memperkuat strategi pembinaan ke depan.

“Penting juga terkait pemetaan kompetitor atlet lainnya, pasti semua dalam pemetaan NPCI. Jadi secara nasional punya peta kekuatan atlet dari negara lain, jadi NPCI Jatim juga harus punya pemetaan itu,” lanjutnya.

Ia menegaskan bahwa pemberian bonus tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk nyata penghargaan pemerintah atas kerja keras dan prestasi para atlet. Khofifah juga menekankan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi.

“Para atlet ini adalah inspirasi bagi kita semua. Ini adalah buah dari semua kerja keras, pengorbanan, latihan panjang, serta mental juara yang ditempa dari waktu ke waktu,” tegasnya.

“Oleh karena itu, saudara semua telah membuktikan bahwa atlet paralimpik Jawa Timur mampu bersaing, berprestasi, dan menjadi kebanggaan di tingkat regional maupun internasional,” imbuhnya.

Khofifah berharap pemberian bonus tersebut dapat meningkatkan motivasi atlet dan pelatih untuk terus berprestasi serta menjaga konsistensi pembinaan olahraga paralimpik di Jawa Timur.

“Tetap semangat untuk terus menjaga seluruh stamina yang dimiliki, skill terus ditingkatkan dan bagaimana kita melakukan pemetaan atlet. Kemampuan yang sudah dimiliki tolong terus dijaga dan ditingkatkan dan tetap dalam koridor pembinaan yang tertuntun dan terukur,” jelasnya.

“Semoga ini bisa memotivasi semua atlet paralimpik untuk terus berlatih dan berkompetisi secara maksimal. Harapannya ini bisa menjadi energi baru untuk berjuang menghadapi kompetisi berikutnya,” pesannya.

Sementara itu, Ketua NPCI Jawa Timur Imam Kuncoro mengatakan, penyerahan penghargaan bagi atlet dan pelatih Jatim tersebut bukan sekadar soal medali, melainkan hasil dari proses panjang pembinaan berkelanjutan.

“15 atlet Jatim berprestasi di ASEAN Para Games Thailand membuktikan hasil investasi pembinaan yang terukur. Prestasi tidak lahir instan tetapi berjenjang dan penuh kesabaran,” katanya.

Menurutnya, kolaborasi antara Pemprov Jatim melalui Dispora dan NPCI dalam melakukan pembinaan atlet disabilitas sejak usia dini telah melahirkan atlet-atlet berprestasi.

“Oktober 2025 kami melaksanakan pencarian bibit atlet di kabupaten/kota se-Jatim. Hasilnya menjaring sekitar 350 calon atlet muda yang bersiap menjadi generasi penerus di masing-masing cabang olahraga,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Khofifah atas perhatian yang diberikan kepada atlet, pelatih, serta pengurus NPCI. Hal tersebut dinilai sebagai bentuk kehadiran negara dalam mendukung perjuangan atlet disabilitas.

“Selain itu membangun semangat kesetaraan sehingga olahraga disabilitas mendapat ruang yang luas di tengah masyarakat. Jangan hitung yang hilang di tubuh, tapi hitung berapa prestasi yang sudah dan akan kalian berikan bagi bangsa dan negara,” ungkapnya.

Salah satu atlet para renang, Mutiara Cantik, turut menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Ia menuturkan bahwa capaian medali yang diraih merupakan hasil dari proses panjang yang penuh perjuangan.

“Medali yang saya bawa pulang dari ASEAN Para Games ini hasil dari proses panjang yang tidak mudah. Bagi atlet disabilitas, setiap detik pemusatan latihan adalah perjuangan untuk melampaui batas fisik dan mental. Satu hal yang menguatkan saya di arena pertandingan, saya membawa nama besar Jawa Timur,” kata Mutiara.

“Terima kasih Pemprov Jatim tidak membiarkan kami berjuang sendirian. Semoga dengan adanya apresiasi ini bisa mendorong kami untuk lebih berprestasi lagi,” pungkasnya.

Related posts