Ilustrasi oleh tim grafis.
UNGARAN, JAWA TENGAH, Headlinejatim.com — Insiden pendakian yang melibatkan balita kembali memantik alarm serius soal keselamatan di gunung. Seorang bayi perempuan berusia 1,5 tahun dilaporkan dalam kondisi kritis akibat dugaan hipotermia saat berada di kawasan Puncak Bondolan, lereng Gunung Ungaran, Sabtu (11/4/2026) sore.
Peristiwa terjadi sekitar pukul 16.30 WIB, ketika cuaca di jalur pendakian memburuk secara tiba-tiba. Kabut tebal, hujan ringan, serta angin kencang memicu penurunan suhu signifikan—kombinasi yang dikenal berisiko tinggi bagi pendaki, terutama kelompok rentan seperti balita.
Korban berinisial LL diketahui ikut mendaki bersama kedua orang tuanya sejak pagi melalui Basecamp Perantunan. Padahal, pengelola basecamp mengaku telah memberikan peringatan terkait potensi cuaca ekstrem.
“Kami sudah mengingatkan sejak registrasi bahwa kondisi tidak aman untuk balita. Namun orang tua tetap melanjutkan pendakian,” ujar Wido Prabowo, pengelola Basecamp Perantunan.
Evakuasi Darurat di Tengah Cuaca Ekstrem
Kondisi korban mulai mengkhawatirkan sekitar pukul 15.45 WIB saat cuaca berubah drastis. Tim siaga dari Pos SAR Semarang bersama relawan dan komunitas pendaki langsung melakukan penelusuran.
Koordinator lapangan, Ahmad Fauzi, menyebut korban ditemukan dengan gejala klinis mengarah pada hipotermia berat: penurunan kesadaran, kulit pucat dan dingin, sianosis (ujung jari membiru), hingga tangisan yang melemah.
“Ini indikasi hipotermia menuju berat. Kami langsung melakukan rewarming menggunakan emergency blanket sebelum evakuasi,” ujarnya.
Proses evakuasi berlangsung cepat meski jalur licin dan berkabut. Dalam waktu kurang dari satu jam, korban berhasil diturunkan ke basecamp dan segera dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat. Respons cepat tim SAR menjadi faktor krusial penyelamatan.
Otoritas: Ini Bukan Sekadar Kelalaian
Pemerintah daerah menilai insiden ini sebagai bentuk kelalaian serius dalam manajemen risiko pendakian. Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menegaskan bahwa membawa balita ke gunung, terlebih dalam kondisi cuaca buruk tidak dapat dibenarkan.
“Pendakian gunung bukan aktivitas untuk balita, terutama saat cuaca tidak stabil. Ini bukan sekadar kesalahan, tetapi pengabaian terhadap keselamatan anak,” tegasnya.
Senada, Kepala Kantor Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Semarang, Budiono, mengungkapkan bahwa saat ditemukan, kondisi korban sudah kritis akibat penurunan suhu tubuh yang progresif.
BPBD Jawa Tengah kini tengah mengkaji opsi pembatasan usia minimum pendaki sebagai langkah preventif untuk menekan risiko kejadian serupa.
Risiko Medis: Balita Paling Rentan
Secara medis, balita memang menjadi kelompok paling rentan dalam kondisi lingkungan ekstrem. Pedoman Wilderness Medical Society menyebutkan, anak usia dini memiliki rasio luas permukaan tubuh lebih besar dibanding berat badan, sehingga kehilangan panas terjadi lebih cepat.
Andrew M. Luks menjelaskan bahwa sistem termoregulasi pada balita belum berkembang optimal, membuat mereka sulit mempertahankan suhu tubuh dalam kondisi dingin.
Sementara itu, Linda Niermeyer menambahkan, anak di bawah dua tahun memiliki toleransi sangat rendah terhadap perubahan suhu dan kadar oksigen. Gejala seperti mual atau pusing sering tidak terdeteksi karena belum mampu dikomunikasikan.
Kondisi ini diperparah dengan fenomena silent deterioration, penurunan kondisi tubuh tanpa tanda awal yang jelas—yang kerap terjadi pada anak dalam lingkungan ekstrem.
Data dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan menunjukkan hipotermia menjadi salah satu penyebab dominan dalam evakuasi darurat di kawasan pegunungan dalam beberapa tahun terakhir. Tren peningkatan evakuasi juga tercatat saat musim hujan dan cuaca ekstrem.
Kajian medis menyebut balita dapat kehilangan panas tubuh dua hingga tiga kali lebih cepat dibanding orang dewasa. Risiko meningkat signifikan pada suhu di bawah 15°C, terutama jika disertai angin kencang, hujan, dan pakaian basah.
Protokol Keselamatan yang Diabaikan
Para ahli menegaskan bahwa membawa balita ke ketinggian di atas 1.500 mdpl tidak direkomendasikan. Standar keselamatan minimal mencakup sistem pakaian berlapis (layering system), kecukupan nutrisi dan cairan hangat, pemantauan cuaca secara real-time dan penghentian aktivitas saat kondisi memburuk
Pengelola basecamp menegaskan bahwa seluruh pendaki wajib mematuhi rekomendasi keselamatan, terutama terkait kelompok rentan.
Insiden di Puncak Bondolan menjadi pengingat bahwa risiko di alam terbuka tidak bisa dinegosiasikan. Dalam setiap aktivitas pendakian, keputusan manusia menjadi faktor penentu keselamatan.
“Gunung tidak ke mana-mana, tetapi risiko selalu ada. Keselamatan harus menjadi prioritas utama,” ujar Bergas.
Peristiwa ini sekaligus mempertegas bahwa ambisi menaklukkan puncak tidak boleh mengorbankan keselamatan, terutama bagi anak-anak yang sepenuhnya bergantung pada keputusan orang tua.
Sumber Berita
CNN Indonesia (13 April 2026)
Rilis resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (April 2026)
Dokumentasi Basecamp Perantunan (11 April 2026)
Sumber Data & Referensi
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan — Data evakuasi pendaki
Wilderness Medical Society — Practice Guidelines for Altitude Illness (2019 Update)
Andrew M. Luks — Kajian penyakit ketinggian
Linda Niermeyer — Pediatrics in the Mountains






