Jember, HeadlineJatim.com– Dugaan praktik penyelewengan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi mencuat di Kabupaten Jember. Sebuah truk yang diduga milik jaringan mafia solar kabur saat hendak diamankan setelah kepergok melakukan pengisian BBM bersubsidi dalam jumlah besar di SPBU 54.681.11 Jalan Teuku Umar, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, Sabtu dini hari (14/3/2026).
Insiden tersebut bahkan sempat memicu aksi kejar-kejaran dramatis sejauh puluhan kilometer yang nyaris membahayakan keselamatan anggota DPRD Jembee David Handoko Seto.
Kasus ini terungkap setelah adanya laporan masyarakat yang mencurigai aktivitas pengisian solar pada malam hingga dini hari di SPBU tersebut. Informasi itu kemudian diteruskan kepada anggota DPRD Jember dari Fraksi NasDem tersebut, yang langsung melakukan pengecekan ke lokasi sekitar pukul 02.00 WIB.
Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Haryadi, mengatakan saat itu truk tersebut kedapatan sedang melakukan pengisian solar bersubsidi yang diduga dimuat ke dalam beberapa drum berkapasitas besar.
Dari hasil pengecekan di lokasi, diperkirakan jumlah BBM yang dimuat mencapai sekitar 4.000 liter.
“Saya kebetulan sedang berada di daerah pemilihan untuk melakukan sosialisasi pengawasan BBM bersubsidi. Beberapa hari ini kami memang mengajak masyarakat ikut mengawasi. Salah satu cirinya, pagi SPBU melayani normal, sore sudah tutup atau menulis solar habis, tetapi malam hari lampunya diredupkan dan tetap melayani kendaraan tertentu,” ujar Bambang saat dikonfirmasi disela sidak di SPBU Jember.
Ia menjelaskan, laporan masyarakat menyebutkan adanya aktivitas pengisian solar kepada sebuah truk di SPBU tersebut. Ketika anggota DPRD Jember bersama aparat mencoba melakukan pengecekan dan pengamanan, truk tersebut justru melarikan diri sehingga terjadi pengejaran di jalan raya.
“Saudara kita dari DPRD Jember menerima telepon masyarakat sekitar pukul 01.00 WIB. Ketika datang sekitar pukul 02.00 WIB, truk itu masih diisi solar. Dari video yang ada terlihat ada empat drum, masing-masing sekitar 1.000 liter. Jadi total sekitar 4.000 liter,” katanya.
Menurut Bambang, jumlah solar tersebut seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat yang berhak, seperti nelayan dan petani. Ia menilai praktik seperti ini sangat merugikan masyarakat kecil yang selama ini kerap kesulitan mendapatkan solar bersubsidi.
“Bayangkan, 4.000 liter solar yang seharusnya untuk masyarakat kecil, untuk nelayan dan petani. Nelayan di Puger sering mengeluh tidak dapat solar. Tapi malah ada oknum yang mengambilnya untuk kepentingan lain,” ujarnya.
Ia juga mengungkap adanya sejumlah kejanggalan di SPBU tersebut, di antaranya kamera CCTV yang tidak aktif saat kejadian serta adanya barcode dari banyak surat rekomendasi penggunaan solar bersubsidi, untuk kendaraan yang melakukan pengisian dalam jumlah besar.
“Ada dua hal janggal. Pertama, CCTV mati padahal di SPBU itu tidak boleh. Kedua, tidak ada surat rekomendasi. Dugaan kami, solar yang dimuat itu menggunakan barcode atau rekomendasi petani yang disalahgunakan,” katanya.
Bambang menyebut praktik penyelewengan BBM bersubsidi biasanya melibatkan beberapa pihak, mulai dari sumber di SPBU, pihak yang menjadi backing, hingga penadah. Ia memastikan persoalan ini akan dibawa ke tingkat nasional untuk dilakukan pengawasan lebih lanjut.
“Saya akan bawa ini ke forum DPR RI. Kami akan minta Pertamina melakukan evaluasi dan pengawasan lebih ketat. Ini tidak boleh dibiarkan karena yang dirugikan adalah rakyat kecil,” tegasnya.
“Jadi prinsipnya kami Gerindra kan, Saya pimpinan Fraksi Gerindra (DPR RI). Saya minta aparat kepolisian jangan takut. Mau apapun, siapa pun lawan. Kami akan ini ada di belakang. Kami akan laporkan ini juga ke Presiden hal-hal kayak begini,” imbuhnya.
Menindaklanjuti temuan tersebut, aparat kepolisian langsung melakukan tindakan menyegel dengan memasang garis polisi, dan menutup sementara operasional SPBU untuk kepentingan penyelidikan.
Wakapolres Jember, Ferry Dharmawan, membenarkan pihaknya telah menyegel lokasi SPBU, guna mendalami dugaan penyalahgunaan BBM bersubsidi tersebut.
“Jadi hari ini sudah kita saksikan bersama. Tadi malam ada rangkaian kejadian terkait dugaan penyalahgunaan BBM dari subsidi ke non-subsidi. Untuk sementara SPBU ini kita segel dulu sambil melakukan penyelidikan lebih lanjut karena ada beberapa kejanggalan yang perlu kami dalami,” ujarnya.
Ferry menegaskan proses penyelidikan akan dilakukan secara menyeluruh untuk mengungkap siapa saja yang terlibat dalam dugaan praktik ilegal tersebut, termasuk kemungkinan keterlibatan oknum dari berbagai pihak.
“Kami akan melakukan penyelidikan secara strategis melalui crime investigation untuk mengetahui siapa yang ada di balik ini. BBM bersubsidi harus benar-benar sampai kepada masyarakat yang berhak,” katanya.
Ia juga memastikan jika dalam proses penyelidikan ditemukan adanya keterlibatan oknum aparat maupun pihak internal pemerintah, maka kepolisian tidak akan ragu untuk mengambil tindakan hukum.
“Termasuk jika nanti ada indikasi keterlibatan oknum aparat atau dari internal pemerintah, tentu akan kami tindak sesuai hukum yang berlaku,” tegasnya.
Sementara itu, hingga kini aparat kepolisian masih melakukan penelusuran terhadap truk yang melarikan diri dari lokasi kejadian. Polisi juga tengah mengumpulkan barang bukti serta memeriksa sejumlah pihak terkait guna mengungkap jaringan yang diduga terlibat dalam praktik penyelewengan BBM bersubsidi tersebut.






