PLN Nusantara Power akan membangun PLTS Terapung Karangkates dengan kapasitas 100 MWac.
Surabaya, HeadlineJatim.com- PLN Nusantara Power melalui anak usahanya, PLN Nusantara Renewables, memperkuat pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Karangkates di Bendungan Sutami, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sebagai bagian dari percepatan transisi energi bersih nasional. Proyek berkapasitas 100 MWac atau 133 MWp yang dikembangkan oleh PT Nusantara Guodian Karangkates Indonesia (NGKI) itu memasuki fase konstruksi setelah soft launching pada 10 Februari 2026. Inisiatif ini ditujukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan waduk sebagai sumber energi terbarukan sekaligus mendukung bauran energi nasional dan komitmen pengurangan emisi karbon Indonesia.
Pengembangan PLTS Terapung Karangkates dirancang memiliki kapasitas 100 MWac atau setara 133 MWp melalui entitas PT Nusantara Guodian Karangkates Indonesia (NGKI). Proyek ini memanfaatkan sekitar 71 hektare area Waduk Karangkates atau sekitar 5,3 persen dari total luas waduk, dengan target mampu menyuplai listrik bersih bagi sekitar 100.000 rumah tangga. Selain itu, pembangkit ini diperkirakan dapat menekan emisi karbon hingga 181.700 ton CO₂ per tahun serta membuka sekitar 600 lapangan kerja selama tahap konstruksi dan operasional.
Direktur Utama PLN Nusantara Power, Ruly Firmansyah, menyatakan pengembangan pembangkit ini menjadi bagian dari strategi memperluas portofolio energi baru terbarukan di Indonesia.
“PLTS Terapung Karangkates menjadi langkah strategis PLN Nusantara Power Group dalam memperkuat portofolio energi baru terbarukan nasional serta menghadirkan masa depan energi yang lebih hijau dan efisien,” ujarnya.
Menurut keterangan perusahaan, proyek tersebut telah melalui tahap studi kelayakan pada 2021–2022 dan memasuki fase konstruksi setelah soft launching pada 10 Februari 2026.
Sejumlah dokumen utama seperti KKPR PV Plant, AMDAL, dan KKPR SF telah diselesaikan, sementara beberapa izin lanjutan seperti PPKH dan IPSDA masih dalam proses dengan target rampung pada Maret 2026.
Dari sisi pengadaan, material floater untuk kapasitas awal 5 MW telah tiba di lokasi proyek, bersamaan dengan proses fabrikasi modul surya dan inverter. Pengembangan PLTS terapung sendiri menjadi tren dalam transisi energi di Indonesia, sejalan dengan target peningkatan bauran energi terbarukan nasional yang terus didorong pemerintah dalam RUPTL PLN.
Pengembangan PLTS terapung di Indonesia mulai dipercepat dalam beberapa tahun terakhir sebagai bagian dari strategi peningkatan bauran energi baru terbarukan. Salah satu proyek perintis adalah PLTS Terapung Cirata di Jawa Barat yang mulai beroperasi pada 2023 dengan kapasitas 192 MWp dan disebut sebagai salah satu PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara. Proyek tersebut menjadi referensi pengembangan pembangkit surya berbasis waduk di berbagai daerah.
Pemerintah melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2021–2030 menargetkan porsi energi baru terbarukan mencapai sekitar 51,6 persen dari total tambahan kapasitas pembangkit listrik nasional.
PLTS terapung dinilai strategis karena memanfaatkan permukaan waduk yang sudah tersedia tanpa membutuhkan pembebasan lahan baru. Pendekatan ini juga dinilai mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan aset bendungan milik negara.
Sejumlah waduk besar di Indonesia, termasuk di Jawa Timur, telah masuk dalam kajian potensi pengembangan PLTS terapung sejak beberapa tahun terakhir.
Studi Kementerian ESDM menunjukkan pemanfaatan sebagian kecil area waduk dapat menghasilkan kapasitas listrik signifikan sekaligus membantu menekan emisi karbon sektor ketenagalistrikan. Kebijakan ini sejalan dengan komitmen Indonesia dalam pengurangan emisi dan transisi energi menuju sumber yang lebih bersih.






