Kisah Bocah Lumpuh dari Kulonprogo, Cita-cita Jadi Dokter Pupus Usai Digigit Ular Weling, Ibunya Bertahan Hidup dari Menulis E-Novel

Di sela merawat putranya yang terbaring di kasurnya, Deni Riyaningsih, sedang menyiapkan makanan. (Istimewa)

“Sempat putus asa, bangkit lewat literasi digital dan menopang ekonomi keluarga dari e-novel”

Read More

Kulonprogo, Headlinejatim.com – Di sebuah rumah sederhana di Padukuhan Dhisil, Salamrejo, Sentolo, Kabupaten Kulonprogo, waktu terasa berjalan lebih lambat. Di ruang utama rumah itu, sebuah kasur empuk menjadi pusat kehidupan sebuah keluarga selama hampir satu dekade.

Di atas kasur tersebut terbaring Ananda Yue Riastanto, remaja berusia 16 tahun. Tubuhnya nyaris tak bergerak, tetapi telinganya masih peka mendengar suara di sekelilingnya. Setiap langkah kaki ibunya, setiap suara pintu dibuka, hingga setiap bisikan yang menyebut namanya, semuanya masih ia dengar dengan jelas.

Di samping kasur itulah Deni Riyaningsih menghabiskan sebagian besar waktunya. Ia memberi makan melalui selang, membersihkan tubuh anaknya, dan memastikan Ananda tetap nyaman. Sesekali ia mengajaknya berbicara, meski tidak selalu mendapat jawaban.

Namun, ketika malam datang dan rumah mulai sunyi, Deni melakukan sesuatu yang jarang diketahui orang. Ia menulis. Bukan sekadar satu cerita, melainkan puluhan novel digital.

Gigitan Ular yang Mengubah Hidup

Peristiwa memilukan itu terjadi pada 5 Januari 2017. Saat itu, lingkungan rumah mereka masih dipenuhi semak dan pepohonan rindang. Seekor ular weling sepanjang sekitar 1,5 meter menggigit Ananda. Bekas lukanya kecil, nyaris tidak terlihat berbahaya.

Keluarga segera membawanya ke RSUD Wates. Namun, beberapa jam kemudian kondisinya justru memburuk.

“Ternyata mual ingin muntah itu malah seperti hampir meninggal dunia,” kenang Deni.

Ananda kemudian dirujuk ke RSUP Dr. Sardjito dan menjalani perawatan selama 32 hari. Keluarga sempat berharap semuanya akan kembali normal ketika pulang ke rumah. Namun kenyataannya, tubuh Ananda tidak lagi bisa bergerak. Ia harus makan melalui selang NGT dan membutuhkan bantuan penuh untuk aktivitas sehari-hari. Sejak hari itu, kehidupan keluarga kecil ini berubah selamanya.

Kondisi Ananda Yue Riastanto saat terbaring di kasur rumah sakit.(Foto: istimewa)

Tahun-Tahun yang Penuh Air Mata

Masa awal kepulangan Ananda dari rumah sakit menjadi titik terberat bagi Deni. Ia sering duduk lama tanpa kata, hanya menatap sang anak atau tiba-tiba menangis.

“Awal-awal saya sulit menerima. Banyak bengong di rumah, kadang tiba-tiba nangis,” ujarnya. Butuh waktu bertahun-tahun baginya untuk menata kembali hati.

“Baru sekitar lima tahun terakhir ini saya mencoba menata diri, menata hati dan pikiran untuk menerima dengan sabar dan ikhlas,” katanya.

Kini, harapannya tidak lagi muluk-muluk. “Harapan saya cuma satu, semoga anak saya selalu sehat. Untuk kembali seperti sediakala, dokter memang sudah mengatakan kemungkinannya sangat kecil,” tutur Deni lirih.

Terapi dan Harapan yang Tidak Padam

Meski peluang kesembuhan penuh sangat kecil, Deni dan suaminya tidak berhenti berusaha. Setiap hari mereka melakukan terapi mandiri di rumah agar Ananda bisa lebih mandiri.

“Yang kami upayakan sekarang adalah bagaimana anak laki-laki kami ini bisa lebih mandiri. Setiap hari kami melakukan terapi sendiri di rumah untuk Ananda Yue Riastanto,” kata Deni.

Perjuangan ini dilakukan tanpa henti, karena bagi seorang ibu, harapan selalu menemukan jalannya untuk tetap hidup.

Kenangan yang Mengiris Hati

Di balik ketegarannya, terselip kenangan yang sering membuat Deni tak kuasa menahan air mata—saat Ananda masih kecil dan berlari dengan seragam taman kanak-kanak.

“Yang paling membuat saya sedih itu kalau melihat teman-teman sebayanya lewat dengan memakai seragam sekolah. Apalagi, kalau ingat dulu waktu dia masih TK, pernah bilang ingin jadi dokter,” ujar Deni dengan suara pelan.

Ananda dikenal sebagai anak cerdas, namun takdir berkata lain. Ia harus berhenti sekolah sejak kelas 1 SD. Meski demikian, Deni memilih percaya pada rencana Tuhan. “Kami percaya pasti ada hikmah terbaik dari semua yang terjadi.”

Menulis untuk Menjaga Kewarasan

Di tengah kesunyian merawat anak, Deni menemukan pelarian produktif: menulis. Sejak 2021, ia mulai menulis novel di berbagai platform digital seperti GoodNovel, NovelToon, dan Tivizo hanya bermodalkan ponsel.

Awalnya sekadar untuk mengusir stres, namun naskah pertamanya justru diterima dan menghasilkan honor Rp300 ribu. Sejak itu, ia menulis hampir setiap hari, menyelesaikan 800 hingga 2.500 kata per hari. Kini, 32 novel digital telah ia terbitkan, semuanya lahir dari samping kasur sang anak.

Edukasi Bahaya Gigitan Ular Weling

Peristiwa ini menjadi pengingat penting. Ular weling (Bungarus candidus) memiliki racun neurotoksik yang menyerang sistem saraf. Bahayanya meliputi:

  • Luka gigitan kecil dan tidak terasa sakit.
  • Gejala awal ringan seperti mual/pusing.
  • Dapat menyebabkan kelumpuhan hingga gagal napas dalam hitungan jam.

Dukungan Pemerintah

Perjuangan keluarga ini mulai mendapat perhatian. Pemkab Kulonprogo dan Baznas memberikan bantuan dua ekor kambing untuk ekonomi keluarga. Selain itu, akses jalan menuju rumah akan dicor agar kursi roda bisa digunakan dengan aman, serta rencana rehabilitasi rumah melalui Program Aladin pada Maret 2026.

Malam di rumah kecil itu mungkin terasa panjang, namun Deni terus mengetik. Baginya, setiap kata adalah cara untuk tetap berdiri dan memastikan bahwa cinta seorang ibu tidak akan pernah berhenti.

Related posts