SURABAYA, Headlinejatim.com – Pagi di rumah-rumah tradisional Jawa dahulu hampir selalu dimulai dengan suara burung. Dari teras atau pendopo, sangkar perkutut menggantung pelan, berayun mengikuti angin, sementara pemilik rumah menikmati kicauannya bersama secangkir kopi dan udara pagi.
Di tempat lain yang berjarak ribuan kilometer, jauh di hutan hujan Papua, burung cendrawasih menari di antara tajuk pohon tropis. Sayap dan bulunya bergerak seperti ritual purba yang hanya dimiliki hutan-hutan terakhir Indonesia Timur.
Dua lanskap itu berbeda, tetapi memiliki satu benang merah yang sama: burung bukan sekadar satwa liar bagi masyarakat Nusantara. Ia adalah simbol budaya, ketenteraman batin, prestise sosial, bahkan representasi maskulinitas tradisional lelaki Indonesia.
Tradisi Jawa yang dikenal dengan falsafah “Wisma, wanita, turangga, kukila, curiga.”, menggambarkan lima simbol kesempurnaan lelaki Jawa adalah rumah, pasangan, kuda, burung, dan keris.
“Kukila” atau burung tidak dimaknai sekadar hewan peliharaan. Ia adalah simbol estetika, ketenangan hidup, kemapanan sosial, dan harmoni dengan alam. Dari sana lahir kultur memelihara burung yang bertahan lintas generasi hingga berkembang menjadi fenomena modern “kicau mania” di Indonesia.
Namun di balik romantisme suara burung dan tradisi budaya itu, Indonesia kini menghadapi paradoks besar: negeri dengan salah satu biodiversitas burung terkaya di dunia justru menjadi pusat krisis burung berkicau Asia.
Fenomena budaya memelihara burung di Indonesia pernah dikaji peneliti Paul Jepson dan Richard J. Ladle dalam jurnal *Oryx* terbitan Cambridge University Press tahun 2005 berjudul *Bird-keeping in Indonesia: conservation impacts and the potential for substitution-based conservation responses*.
Penelitian tersebut menyebut sekitar 21,8 persen rumah tangga Indonesia memelihara burung, dengan estimasi sekitar 2,6 juta burung dipelihara di lima kota besar Indonesia: Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, dan Medan.
Lima belas tahun kemudian, skalanya jauh lebih besar.
Penelitian yang dipublikasikan jurnal *Biological Conservation* tahun 2020 berjudul *Spatio-temporal dynamics of consumer demand driving the Asian Songbird Crisis* menyebut sekitar sepertiga rumah tangga di Pulau Jawa memelihara burung. Estimasi populasi burung dalam sangkar bahkan mencapai 66 hingga 84 juta ekor.
Penelitian yang dipimpin Harry Marshall bersama Nigel J. Collar dan sejumlah peneliti konservasi internasional itu menyoroti meningkatnya tekanan terhadap populasi burung liar Asia Tenggara akibat perdagangan dan budaya pelihara burung.
Fenomena tersebut juga mendapat sorotan dari [National Geographic Indonesia](https://nationalgeographic.grid.id?utm_source=chatgpt.com) melalui unggahan Instagram resmi @natgeoindonesia pada Mei 2026 bertajuk *“Kicau Mania dan Ancaman Kepunahan Burung Berkicau di Indonesia.”*
Unggahan carousel itu menampilkan dokumentasi pasar burung, sangkar bertumpuk, hingga data konservasi mengenai ancaman terhadap burung berkicau di Indonesia. Pada bagian pembuka tertulis:
“Di balik hobi burung berkicau, ada perputaran ekonomi nasional yang nilainya mencapai triliunan rupiah per tahun. Namun, ada juga ancaman kepunahan burung di alam liar negeri ini.”
Unggahan tersebut mencantumkan kredit kisah oleh Utomo Priyambodo dengan foto Mark Leong/National Geographic.
Dalam unggahan yang sama disebutkan Indonesia memiliki sekitar 1.834 spesies burung dengan 159 spesies masuk kategori terancam global berdasarkan data konservasi internasional.
Konservasionis dan kurator satwa Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA), Jochen Klaus Menner, dalam unggahan itu mengatakan:
“Penangkapan pasti menjadi ancaman utama bagi burung berkicau di Indonesia” tegasnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan situasi yang selama bertahun-tahun menjadi perhatian para pemerhati konservasi: tingginya permintaan pasar burung peliharaan dan lomba kicau menjadi tekanan besar terhadap populasi burung liar.
Di sisi lain, industri burung di Indonesia memang memiliki nilai ekonomi yang sangat besar.
Menteri Perdagangan RI Budi Santoso dalam kutipan yang dimuat unggahan National Geographic Indonesia menyebut nilai ekonomi industri burung berkicau diperkirakan mencapai Rp1,7 hingga Rp2 triliun per tahun.
“Kalau kita lihat, nilai ekonomi di balik kicau burung itu sekitar Rp1,7 sampai Rp2 triliun per tahun” ujasnya.
Perputaran ekonomi itu mencakup penjualan pakan, sangkar, jasa perawatan, penangkaran, hingga kompetisi burung berkicau yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.
Tetapi di tengah besarnya pasar dan kultur tersebut, sejumlah spesies endemik Nusantara menghadapi ancaman serius.
Burung seperti cucak rawa (*Straw-headed Bulbul*), murai batu, jalak Bali, hingga berbagai jenis nuri dan beo terus menjadi target perdagangan karena dianggap memiliki kualitas suara, keindahan visual, dan nilai prestise tinggi.
Jalak Bali bahkan pernah berada di titik kritis populasi liar akibat perdagangan ilegal dan perburuan. Data [IUCN Red List](https://www.iucnredlist.org?utm_source=chatgpt.com) menempatkan spesies tersebut dalam kategori *Critically Endangered* atau kritis.
Di Pulau Jawa, Elang Jawa yang dikenal sebagai simbol visual Garuda nasional juga menghadapi tekanan akibat kerusakan habitat dan perdagangan ilegal. Data konservasi [BirdLife International](https://www.birdlife.org?utm_source=chatgpt.com) menyebut populasi liar spesies endemik Jawa tersebut diperkirakan tinggal ratusan individu.
Sementara di Papua, Cendrawasih tetap menjadi simbol biodiversitas Indonesia Timur. Burung ini terkenal melalui tarian ritual kawin dan warna bulunya yang eksotis. Namun banyak spesies cendrawasih sangat sensitif terhadap perubahan habitat dan sulit berkembang dalam penangkaran karena bergantung pada ekosistem alami hutan hujan tropis Papua.
[Burung Indonesia](https://www.burung.org?utm_source=chatgpt.com) menilai hilangnya habitat dan perdagangan satwa liar menjadi ancaman utama keberlanjutan populasi burung endemik Nusantara.
Di lapangan, ancaman itu bukan sekadar angka statistik.
Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, Fajar Dwi Nur Aji, menyebut lebih dari 134 ribu burung telah disita dalam tiga tahun terakhir. Namun menurutnya, angka tersebut hanya bagian kecil dari kenyataan di lapangan.
“Lebih dari 134 ribu burung disita hanya dalam tiga tahun terakhir. Tapi itu bukan seluruh cerita. Di lapangan, kami tahu bahwa angka itu hanyalah puncak dari gunung es. Banyak yang mati di perjalanan. Banyak yang tak pernah terdata. Banyak yang hilang selamanya dari alam” tutur pria bergaya koboi ini.
Ia mengaku pernah melihat langsung bagaimana burung-burung itu diperlakukan saat diselundupkan.
“Disembunyikan dalam kotak, dimasukkan ke ruang sempit, bahkan dibuat tidak bersuara agar lolos dari pengawasan. Mereka bukan lagi makhluk hidup dalam rantai ekosistem, mereka diperlakukan sebagai komoditas” imbuhnya.
Menurutnya, jalur distribusi perdagangan liar burung datang dari berbagai wilayah biodiversitas Indonesia seperti Sumatra, Kalimantan, hingga Papua, dengan Jawa menjadi pusat permintaan terbesar.
Fajar juga menyinggung perubahan status perlindungan sejumlah spesies burung pada periode 2018 hingga 2020. Namun ia menilai perubahan regulasi tidak otomatis mengubah budaya.
“Karena di lapangan, kebiasaan jauh lebih kuat daripada regulasi. Selama kita masih melihat burung sebagai simbol hobi, prestise, atau kebanggaan, maka hutan akan terus kehilangan suaranya* tambahnya.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa persoalan burung di Indonesia bukan semata isu hukum dan perdagangan satwa liar, tetapi juga benturan antara budaya, identitas sosial, ekonomi, dan konservasi.
Menariknya, relasi manusia dengan suara burung ternyata juga memiliki dimensi psikologis.
Penelitian [King’s College London](https://www.kcl.ac.uk?utm_source=chatgpt.com) tahun 2022 menemukan bahwa melihat dan mendengar burung berkaitan dengan peningkatan *mental well-being* atau kesehatan mental manusia. Penelitian tersebut dilakukan menggunakan aplikasi pemantauan psikologis berbasis lingkungan perkotaan.
Sementara jurnal *Scientific Reports* milik Nature dalam penelitian berjudul *Birdsongs alleviate anxiety and paranoia in healthy participants* menyebut suara burung dapat membantu mengurangi kecemasan dan tekanan emosional dibanding paparan suara lalu lintas perkotaan.
Dalam perspektif psikologi evolusioner, sejumlah peneliti menjelaskan manusia berevolusi bersama lanskap alam dan suara burung selama ribuan tahun. Karena itu, otak manusia sering mengasosiasikan suara burung sebagai penanda lingkungan yang aman dan sehat.
Mungkin itulah sebabnya manusia Nusantara sejak lama merasa dekat dengan burung.
Dari perkutut di pendopo Jawa hingga cendrawasih di hutan Papua, burung selalu hadir sebagai bagian dari memori budaya Indonesia. Ia hidup dalam simbol lelaki Jawa, dalam lagu rakyat, dalam lomba kicau, hingga dalam ketenangan pagi masyarakat desa.
Namun kini, ketika suara-suara itu perlahan menghilang dari hutan akibat perdagangan dan rusaknya habitat, yang hilang bukan hanya satwa liar.
Yang ikut hilang adalah sebagian memori ekologis Nusantara. Sebagian identitas budaya Indonesia. Dan mungkin juga sebagian hubungan paling tua antara manusia dengan alamnya sendiri.
Daftar Pustaka dan Referensi
Organisasi dan Data Konservasi
1. [BirdLife International](https://www.birdlife.org?utm_source=chatgpt.com) — Data konservasi spesies burung dunia dan Important Bird Areas (IBA), diakses Mei 2026.
2. [IUCN Red List of Threatened Species](https://www.iucnredlist.org?utm_source=chatgpt.com) — Basis data konservasi spesies global, diakses Mei 2026.
3. [Burung Indonesia](https://www.burung.org?utm_source=chatgpt.com) — Laporan Status Burung Indonesia 2026 dan dokumentasi konservasi spesies endemik Nusantara.
4. [TRAFFIC International](https://www.traffic.org?utm_source=chatgpt.com) — Laporan perdagangan satwa liar dan Asian Songbird Crisis di Asia Tenggara.
5. [Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI](https://www.menlhk.go.id?utm_source=chatgpt.com) — Regulasi konservasi satwa liar dan daftar spesies dilindungi Indonesia.
Referensi Akademik dan Penelitian
6. Paul Jepson & Richard J. Ladle. *Bird-keeping in Indonesia: conservation impacts and the potential for substitution-based conservation responses*. Jurnal *Oryx*, Cambridge University Press, 2005.
7. Harry Marshall dkk. *Spatio-temporal dynamics of consumer demand driving the Asian Songbird Crisis*. Jurnal *Biological Conservation*, 2020.
8. [King’s College London](https://www.kcl.ac.uk?utm_source=chatgpt.com) — Penelitian kesehatan mental terkait suara burung, 2022.
9. *Birdsongs alleviate anxiety and paranoia in healthy participants*. Jurnal *Scientific Reports*, Nature Research.
Referensi Media dan Dokumentasi
10. [National Geographic Indonesia](https://nationalgeographic.grid.id?utm_source=chatgpt.com) — Unggahan Instagram “Kicau Mania dan Ancaman Kepunahan Burung Berkicau di Indonesia”, Mei 2026.
11. [Mongabay Indonesia](https://www.mongabay.co.id?utm_source=chatgpt.com) — Laporan perdagangan satwa liar dan konservasi burung Indonesia.
12. [BBC News Indonesia](https://www.bbc.com/indonesia?utm_source=chatgpt.com) — Liputan konservasi Jalak Bali dan biodiversitas Papua.
13. [Kompas.com](https://www.kompas.com?utm_source=chatgpt.com) — Liputan budaya burung dan konservasi lingkungan Indonesia.
14. [Tempo.co](https://www.tempo.co?utm_source=chatgpt.com) — Investigasi perdagangan satwa liar Indonesia.
15. [Reuters](https://www.reuters.com?utm_source=chatgpt.com) — Laporan internasional perdagangan satwa liar Asia Tenggara.
Dokumentasi Audio dan Visual Burung
16. [Cornell Lab of Ornithology](https://www.birds.cornell.edu/home?utm_source=chatgpt.com) — Dokumentasi audio, video, dan penelitian ornitologi internasional.
17. [Macaulay Library](https://www.macaulaylibrary.org?utm_source=chatgpt.com) — Arsip multimedia biodiversitas dunia.
18. [Xeno-canto Foundation](https://xeno-canto.org?utm_source=chatgpt.com) — Arsip suara burung dunia termasuk spesies endemik Indonesia.
19. [National Geographic YouTube](https://www.youtube.com/@NatGeo?utm_source=chatgpt.com) — Dokumentasi visual konservasi dan perilaku burung dunia.
20. [BBC Earth YouTube](https://www.youtube.com/@BBCEarth?utm_source=chatgpt.com) — Dokumentasi ritual kawin burung cendrawasih dan ekosistem tropis.






