BANDUNG, HeadlineJatim.com— Tim Nasional Homeless Indonesia dipastikan tidak mengikuti Homeless World Cup 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Mexico City. Keputusan tersebut diumumkan oleh Rumah Cemara selaku organisasi pengampu tim di tengah belum adanya kepastian dukungan pendanaan dan institusional menjelang keberangkatan.
Informasi mengenai mundurnya Indonesia mulai ramai dibicarakan di media sosial komunitas sepak bola alternatif pada awal Mei 2026 sebelum kemudian dipublikasikan media nasional. Salah satu laporan awal yang dapat diverifikasi muncul melalui detikJabar pada Selasa, 5 Mei 2026 pukul 10.34 WIB.
Dalam laporan tersebut, Sekretaris Rumah Cemara, Rin Aulia, menjelaskan keputusan mundur diambil setelah organisasi mengevaluasi kondisi pembiayaan tim yang belum memperoleh kepastian hingga memasuki tahapan akhir persiapan.
“Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan secara matang kondisi ketiadaan kepastian pendanaan dan dukungan institusional hingga saat ini,” ujar Rin Aulia dalam keterangan resmi yang dikutip detikJabar, Selasa (5/5/2026).
Rumah Cemara menyebut telah berupaya mencari dukungan dari berbagai pihak, termasuk sektor swasta dan pemangku kepentingan terkait. Namun hingga mendekati jadwal keberangkatan, kebutuhan biaya perjalanan, akomodasi, dan pembinaan pemain disebut belum dapat dipastikan.
Dalam kutipan lain yang dipublikasikan media nasional pada hari yang sama, Rin Aulia juga menyampaikan harapan agar dukungan terhadap program berbasis komunitas tidak hanya hadir ketika tim telah mencatat prestasi internasional.
“Kami ingin pemerintah hadir sejak langkah awal, bukan di garis finish,” kata Rin Aulia sebagaimana dikutip sejumlah media nasional pada 5 Mei 2026.
Hingga penelusuran terbuka per Mei 2026, belum ditemukan penjelasan rinci dari Kementerian Pemuda dan Olahraga RI terkait polemik mundurnya Tim Nasional Homeless Indonesia dari Homeless World Cup 2026.
Belum ada keterangan resmi di ruang publik mengenai apakah proposal bantuan pernah diajukan, bagaimana proses pembiayaannya, atau apakah program tersebut berada di luar skema pembinaan olahraga nasional. Karena itu, informasi yang berkembang saat ini masih dominan bersumber dari pernyataan organisasi pengampu tim serta laporan media yang mengutip keterangan tersebut.
Sejumlah media nasional kemudian mengangkat isu ini dari sudut berbeda. Suara.com, misalnya, dalam laporannya pada 5 Mei 2026 menyoroti kontras antara prestasi Tim Nasional Homeless Indonesia di level internasional dengan persoalan pendanaan yang dihadapi menjelang keberangkatan ke Meksiko.
Media tersebut menempatkan kisah “Garuda Jalanan” bukan sekadar persoalan olahraga kompetitif, tetapi juga bagian dari perjuangan sosial komunitas marginal yang berupaya memperoleh ruang rehabilitasi dan kesempatan kedua melalui sepak bola.
Di balik polemik tersebut, Tim Nasional Homeless Indonesia memiliki rekam jejak internasional yang cukup menonjol. Berdasarkan dokumentasi resmi Homeless World Cup, Indonesia pertama kali tampil pada edisi 2011 di Paris, Prancis, dan langsung menembus peringkat keenam dunia serta meraih penghargaan Best Newcomer.
Kisah keberangkatan Indonesia saat itu sempat mendapat perhatian karena proses penggalangan dana dilakukan secara komunitas hingga mendekati jadwal keberangkatan. Setahun kemudian, pada HWC 2012 di Mexico City, Indonesia kembali mencuri perhatian setelah mencapai semifinal dan finis di posisi keempat dunia.
Salah satu pemain yang mendapat sorotan internasional kala itu adalah penjaga gawang Eman Sulaiman yang tampil sebagai atlet difabel. Prestasi serupa kembali dicapai Indonesia pada HWC 2024 di Seoul, Korea Selatan, ketika tim kembali finis di posisi keempat dunia dan disebut sebagai salah satu kekuatan sepak bola jalanan Asia.
Program Tim Nasional Homeless Indonesia sendiri berada di bawah pengelolaan Rumah Cemara, lembaga sosial berbasis komunitas yang berdiri pada 1 Januari 2003.
Berdasarkan profil resmi organisasi, Rumah Cemara didirikan oleh lima orang, termasuk mendiang Ginan Koesmayadi. Nama “Rumah Cemara” terinspirasi dari serial Keluarga Cemara yang melambangkan kehangatan keluarga dalam kesederhanaan.
Organisasi tersebut memiliki visi “Indonesia Tanpa Stigma” dengan fokus pemberdayaan orang dengan HIV/AIDS (ODHA), mantan pengguna narkoba, dan kelompok marginal melalui pendekatan komunitas serta olahraga.
Dalam konteks Homeless World Cup, pemain Indonesia tidak hanya dipilih berdasarkan kemampuan teknis bermain sepak bola. Sebagian besar berasal dari kelompok yang pernah mengalami eksklusi sosial, kemiskinan, kecanduan, hingga tekanan sosial di lingkungan masing-masing.
Karena itu, sepak bola dalam program ini diposisikan sebagai sarana rehabilitasi sosial, pemulihan kepercayaan diri, dan reintegrasi komunitas.
Secara global, Homeless World Cup dikenal sebagai gerakan “Sport for Development and Peace” (SDP), yakni pendekatan yang menggunakan olahraga sebagai alat pembangunan sosial dan pemulihan kelompok marginal. Program tersebut pertama kali digagas Mel Young dan Harald Schmied pada awal 2000-an sebelum turnamen perdana digelar di Graz, Austria, pada 2003.
Dengan rekam jejak semifinal dunia dan konsistensi performa Indonesia di papan atas Homeless World Cup, absennya “Garuda Jalanan” pada edisi 2026 kini memunculkan perhatian lebih luas mengenai keberlanjutan dukungan terhadap olahraga berbasis komunitas di Indonesia.
Sumber dan Referensi:
1. RumahCemara.or.id
2. HomelessWorldCup.org
3. detikJabar (5 Mei 2026)
4. Suara.com (5 Mei 2026)
5. GarudaLetsGo.id
6. Dokumentasi Homeless World Cup Foundation






