Angka Sama dengan 1998 Tapi Risiko Berbeda, Rupiah di Rp17.000 Uji Fondasi Ekonomi

SURABAYA, HeadlineJatim.com — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali berada di level kritis. Hingga 15 April 2026, rupiah diperkirakan bertahan di kisaran Rp17.100 per dolar AS, menandai posisi terlemah dalam beberapa dekade terakhir.

Berdasarkan data kurs tengah dari Bank Indonesia, pada 14 April 2026 rupiah tercatat di level Rp17.122 per dolar AS, dengan kurs jual Rp17.207 dan kurs beli Rp17.036. Tren ini menunjukkan rupiah masih bergerak stabil di atas ambang psikologis Rp17.000.

Read More

Level tersebut mengingatkan publik pada periode Krisis Finansial Asia 1997–1998, ketika rupiah terpuruk dan memicu krisis ekonomi nasional. Namun, secara fundamental, kondisi saat ini dinilai memiliki karakter yang berbeda.

Sama Angka, Beda Risiko

Pada krisis 1998, pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan runtuhnya sistem ekonomi. Inflasi melonjak tajam hingga di atas 70 persen, sektor perbankan kolaps, dan kepercayaan publik merosot drastis.

Sebaliknya, pada kondisi saat ini, inflasi relatif terkendali di kisaran 3–4 persen, sektor perbankan berada dalam kondisi stabil, serta cadangan devisa masih cukup untuk menopang stabilitas nilai tukar.

Sejumlah ekonom, termasuk Fithra Faisal Hastiadi, dalam berbagai analisis sebelumnya menilai bahwa tekanan terhadap rupiah dalam beberapa periode terakhir lebih banyak dipicu faktor eksternal ketimbang kelemahan fundamental domestik. Dengan demikian, angka yang sama tidak mencerminkan tingkat krisis yang sama.

Penguatan dolar AS di tengah kebijakan suku bunga tinggi global serta ketidakpastian ekonomi dunia menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, dalam sejumlah kajiannya juga menyoroti bahwa tekanan terhadap rupiah merupakan bagian dari dinamika global yang turut dialami negara emerging markets lainnya.

Di sisi lain, Bank Indonesia terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing guna menjaga keseimbangan nilai tukar.

Meski belum masuk kategori krisis, pelemahan rupiah mulai memberi tekanan pada sektor riil. Kenaikan biaya impor, khususnya energi, bahan baku industri, dan pangan, berpotensi mendorong inflasi ke depan.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal, dalam berbagai kesempatan mengingatkan bahwa pelemahan nilai tukar yang berlangsung lama dapat berdampak pada harga barang dan daya beli masyarakat.

Selain itu, perusahaan dengan kewajiban utang dalam dolar AS juga menghadapi peningkatan beban pembayaran.

Efek Psikologis Level Rp17.000

Level Rp17.000 memiliki makna simbolik yang kuat di pasar karena identik dengan periode krisis. Kondisi ini dapat memengaruhi sentimen pelaku ekonomi, terutama jika tidak diimbangi dengan komunikasi kebijakan yang efektif.

Meski demikian, kapasitas pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas dinilai jauh lebih siap dibandingkan masa lalu.

Para pengamat menilai kondisi ini sebagai alarm dini, bukan tanda kepanikan. Dibandingkan era Krisis Finansial Asia 1997–1998, sistem keuangan Indonesia kini lebih kuat, transparan, dan terawasi.

Namun demikian, tekanan global yang berkepanjangan tetap menjadi risiko serius yang perlu diantisipasi secara hati-hati oleh para pengambil kebijakan.

 

Sumber Data:

Bank Indonesia – Kurs Referensi (JISDOR) April 2026

Pusat Data Keuangan & Ekonomi (Kontan) – Kurs BI harian April 2026

Analisis dan pernyataan publik dari Fithra Faisal Hastiadi, Josua Pardede, Mohammad Faisal

Data historis nilai tukar saat Krisis F

inansial Asia 1997–1998

Related posts