“Hanya ada satu bumi. Tapi ia tidak punya satu suara pun untuk membela dirinya.” — Maurice Strong
Di Bawah Langit yang Tak Lagi Sama
headlinejatim.com— Langit biru itu pernah menjadi pelindung yang tenang. Lautan pernah menjadi ibu yang sabar. Hutan-hutan dulu bersenandung lembut, menyampaikan napas kehidupan kepada setiap makhluk yang bernyawa. Tapi manusia, dalam laju pembangunan yang rakus, mulai tuli pada bisikan alam.
Bumi pun mengadu. Melalui badai, kekeringan, kabut asap, dan suhu yang kian menyesakkan.
Di tengah kekacauan itu, pada satu tanggal yang kini menjadi penanda sejarah, dunia memutuskan untuk mendengarkan kembali: 5 Juni, Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Ketika Dunia Sepakat untuk Peduli
Hari Lingkungan Hidup Sedunia pertama kali diperingati pada tahun 1974, buah dari Konferensi Stockholm yang digelar dua tahun sebelumnya (1972). Konferensi tersebut adalah yang pertama dalam sejarah umat manusia yang membahas secara mendalam tentang lingkungan hidup sebagai isu global yang tak bisa lagi disangkal.
Di tengah aula yang dipenuhi diplomat dan kepala negara, satu tokoh muncul sebagai penggerak utama: Maurice Strong, seorang pria asal Kanada yang sebelumnya adalah eksekutif industri energi. Tapi hati nuraninya menuntunnya untuk memilih jalan sebaliknya, menjadi penjaga planet ini.
Maurice Strong adalah suara yang berbeda. Dalam pidatonya, ia tidak hanya bicara data dan diplomasi. Ia berbicara tentang keadilan lingkungan, tentang negara-negara berkembang yang menjadi korban pertama dari polusi dan perubahan iklim, padahal kontribusi mereka terhadap krisis itu sangat kecil.
“Kami bukan menyelamatkan pohon-pohon, kami menyelamatkan kehidupan manusia,” katanya suatu ketika.
UNEP: Lahirnya Kompas Global untuk Lingkungan
Dari Konferensi Stockholm itu, lahirlah UNEP (United Nations Environment Programme), sebuah badan PBB yang kini menjadi motor utama peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Sejak 1974, tiap tahun UNEP menetapkan tema dan negara tuan rumah peringatan. Tema tahun 2025, sebagaimana diumumkan oleh UNEP, adalah:
“Ecosystem Restoration: Rebuild with Nature”
Sebuah ajakan untuk memulihkan alam bukan dengan dominasi, tapi dengan kerja sama dan penghormatan.
Suara Anak Kecil yang Menggema ke Seluruh Dunia
Tahun 1992. Rio de Janeiro.
Di tengah Konferensi Bumi, seorang anak perempuan berusia 12 tahun mengguncang dunia. Severn Cullis-Suzuki, putri dari ilmuwan lingkungan David Suzuki, berdiri di podium dan menyampaikan pidato yang membuat ratusan kepala negara menahan napas.
“Saya hanya seorang anak. Tapi saya tahu kita semua ada dalam satu kapal. Jika Anda tidak tahu bagaimana memperbaiki alam, setidaknya berhentilah menghancurkannya.”
Suaranya jernih, tidak berteriak, tapi menusuk. Ia tidak membawa data, tapi membawa nurani. Dan itulah yang mengguncang.
Indonesia
“Tanah Kaya yang Sedang Terluka”
Di Indonesia, Hari Lingkungan Hidup Sedunia selalu menjadi momentum penting, baik di instansi pemerintahan, sekolah, hingga komunitas akar rumput. Banyak dari peringatan ini dirangkai bersama semangat Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, yang walau secara resmi diperingati setiap 5 November, kerap dilibatkan dalam semangat 5 Juni.
Di tanah air ini, masih banyak suara kecil yang berjuang dalam diam:
Siti, 12 tahun, dari pesisir Bengkulu, setiap sore membersihkan pantai tempat keluarganya biasa mencari kerang. Ia bukan aktivis, tapi ia sadar lautnya sakit.
Wayan Sujana, petani tua di kaki Gunung Agung, memilih menolak upaya pembukaan lahan alpukat besar-besaran karena ingin mempertahankan hutan desa adatnya yang menjadi sumber air warga.
Rizki dan Aldi, dua remaja dari Surabaya, membentuk komunitas kecil untuk mengolah sampah rumah tangga menjadi kompos. Mereka tidak viral, tapi konsisten.
Mereka mungkin tak dikenang dalam buku sejarah. Tapi langkah kecil mereka adalah bagian dari doa panjang umat manusia untuk menyembuhkan bumi.
Hari Ini, 6 Juni Lebih dari Sekadar Tanggal di Kalender
Hari Lingkungan Hidup bukan sekadar momen seremoni tanam pohon dan unggah foto. Ia adalah hari pengingat bahwa kita hidup di rumah yang sama, dan jika rumah itu roboh, tak ada tempat lain untuk lari.
Ia adalah hari di mana para anak muda, perempuan, petani, nelayan, ilmuwan, dan pemimpin spiritual di seluruh dunia bersatu dalam satu bahasa, bahasa kehidupan.
Menjaga yang Tak Ternilai
Kita bisa kehilangan segalanya. Uang, jabatan dan kota. Itu bisa dibangun kembali.
Tapi bila kita kehilangan air bersih, udara sehat, atau tanah subur, semua yang lain menjadi tidak berarti.
Hari ini, 6 Juni 2025, Mari jadikan titik awal kesadaran kita, untuk menyelamatkan masa depan yang belum lahir. Karena ketika kita merawat bumi, sejatinya kita sedang merawat satu sama lain.






