SURABAYA — Tren dessert berbahan ubi dan singkong kembali ramai di ruang digital terbuka sepanjang Mei 2026. Di berbagai pusat perbelanjaan modern, terutama kawasan BSD City, Tangerang Selatan, olahan seperti ubi cream cheese, brûlée sweet potato, hingga goguma dessert ala Korea Selatan menjadi bagian dari gelombang kuliner viral setelah banyak muncul dalam konten TikTok, Instagram Reels, dan unggahan food influencer.
Fenomena tersebut memperlihatkan perubahan posisi ubi dan singkong dari pangan rakyat menjadi bagian budaya lifestyle urban modern. Umbi-umbian yang dahulu identik dengan makanan desa, pangan bertahan hidup, dan simbol kesederhanaan kini hadir dalam bentuk dessert premium dengan visual cream cheese, caramel brûlée, serta estetika café Asia Timur.
Dalam laporan “Viral Ubi Cream Cheese, Ini Wanti-wanti Dokter Gizi di Balik Tren Dessert Kekinian” yang dipublikasikan detikHealth pada Jumat, 15 Mei 2026, dokter spesialis gizi klinik dr. Raissa E. Djuanda, SpGK mengingatkan bahwa dessert berbahan ubi tidak otomatis menjadi makanan sehat hanya karena menggunakan bahan alami.
Kepada detikcom, dr. Raissa menjelaskan masyarakat sering memiliki persepsi bahwa makanan berbahan ubi pasti lebih sehat dibanding dessert biasa. Padahal dalam praktiknya, banyak produk dessert viral modern menggunakan tambahan cream cheese, butter, susu kental manis, hingga gula tambahan yang meningkatkan kandungan lemak dan kalori makanan.
Masih dalam laporan yang sama, dokter spesialis gizi klinik dr. Tjandraningrum, SpGK menjelaskan ubi memang termasuk karbohidrat kompleks yang baik bagi tubuh. Namun ia menyoroti kandungan cream cheese dan topping modern yang dapat meningkatkan asupan lemak serta gula apabila dikonsumsi berlebihan.
Fenomena tersebut dalam literatur nutrisi modern dikenal sebagai health halo effect, yakni kondisi ketika masyarakat menganggap suatu makanan otomatis sehat hanya karena mengandung satu bahan alami tertentu seperti ubi, oat, atau yogurt, meskipun produk akhirnya tetap tinggi kalori dan gula.
Di tengah tren dessert modern itu, sejumlah literatur kesehatan juga kembali mengingatkan risiko konsumsi singkong mentah. Artikel kesehatan “Manfaat Makan Singkong Mentah? Jangan Coba, Beracun!” yang dipublikasikan Halodoc menjelaskan bahwa singkong mentah mengandung senyawa sianogenik yang dapat menghasilkan sianida alami apabila tidak diolah dengan benar.
Artikel tersebut menyebut keracunan sianida dapat memicu gejala seperti: Mual, muntah, gangguan napas, kejang, hingga koma pada kondisi tertentu.
Penjelasan serupa dipublikasikan KlikDokter melalui artikel kesehatan yang ditinjau dr. Arina Heidyana. Dalam publikasi itu dijelaskan bahwa singkong perlu melalui proses pengolahan tepat karena mengandung senyawa sianida alami yang dapat berdampak pada sistem saraf dan kesehatan tubuh bila dikonsumsi mentah dalam jumlah tertentu.
Kajian akademik yang dipublikasikan Program Studi Teknologi Pangan Telkom University Purwokerto turut menjelaskan kadar hidrogen sianida (HCN) pada singkong dapat ditekan melalui perebusan, fermentasi, perendaman, maupun pengolahan tradisional lainnya. Dalam publikasi akademik tersebut dijelaskan kadar sianida tertentu dapat memicu gangguan kesehatan serius bila singkong dikonsumsi tanpa proses pengolahan aman.
Meski demikian, ubi dan singkong pada dasarnya tetap dikenal sebagai bagian penting ketahanan pangan di berbagai negara Asia. Di Jepang, ubi atau satsuma-imo telah menjadi bagian budaya pangan rakyat sejak era Edo. Media budaya Jepang Nippon.com dalam artikel “Yakiimo: Baked Sweet Potatoes a Treat in Colder Weather” menjelaskan yaki-imo atau ubi panggang menjadi simbol nostalgia musim dingin masyarakat Jepang dan populer sebagai street food sejak abad ke-18.
Sementara di Korea Selatan, ubi atau goguma berkembang menjadi bagian budaya café modern melalui berbagai olahan seperti goguma latte, sweet potato cake, hingga cream cheese sweet potato dessert. Artikel budaya pangan The Kitchn menyebut ubi memiliki hubungan erat dengan identitas sosial dan comfort food masyarakat Korea Selatan.
Di Indonesia, singkong dan ubi memiliki sejarah panjang sebagai pangan rakyat serta sumber bertahan hidup masyarakat desa ketika akses pangan utama terbatas. Melalui laman resmi Badan Pangan Nasional RI, singkong disebut sebagai salah satu komoditas strategis dalam program diversifikasi pangan nasional.
Akademisi pangan lokal Achmad Subagio dalam forum pengembangan pangan lokal yang dipublikasikan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Demak juga pernah menyatakan singkong perlu direposisi menjadi pangan yang memiliki nilai prestise dan tidak lagi dipandang sebagai makanan kelas bawah.
Perubahan posisi ubi dan singkong dari pangan akar menjadi dessert viral kini memperlihatkan transformasi baru budaya makan masyarakat modern. Di balik visual cream cheese dan estetika media sosial, para ahli tetap mengingatkan pentingnya keamanan pangan, pola konsumsi seimbang, serta pemahaman terhadap cara pengolahan umbi yang benar.
Sumber dan Referensi Data
1. detikHealth – Viral Ubi Cream Cheese, Ini Wanti-wanti Dokter Gizi di Balik Tren Dessert Kekinian
2. Halodoc – Manfaat Makan Singkong Mentah? Jangan Coba, Beracun!
3. KlikDokter – Jarang Diketahui, Ini Bahaya Singkong bagi Kesehatan Anda
4. Telkom University Purwokerto – Singkong Mengandung Sianida, Apakah Berbahaya?
5. Nippon.com – Yakiimo: Baked Sweet Potatoes a Treat in Colder Weather
6. The Kitchn – In My Search for Korean Identity, the Sweet Potato Was My Guide
7. Badan Pangan Nasional RI – Dukungan Pengembangan Singkong sebagai Pangan Strategis






