SURABAYA, HeadlinesJatim.com – Petugas penyelenggara ibadah haji terus memberikan pendampingan kepada para jemaah, terutama kelompok lanjut usia dan jemaah berkebutuhan khusus, guna memastikan seluruh rangkaian ibadah dapat terlaksana dengan aman dan lancar. Pengaturan arus jemaah serta layanan kesehatan juga disiagakan untuk mengantisipasi kepadatan di area Masjidil Haram.
Salah seorang jemaah mengungkapkan rasa syukur karena dapat menyelesaikan tawaf ifadah dan sa’i dengan baik. Menurutnya, momen tersebut menjadi pengalaman spiritual yang sangat berkesan setelah melalui perjalanan panjang dan berbagai tahapan ibadah haji.
Rangkaian tawaf ifadah dan sa’i merupakan rukun haji yang wajib dilaksanakan oleh setiap jemaah dan tidak dapat ditinggalkan. Namun, pelaksanaan kedua ibadah ini menjadi tantangan yang cukup berat bagi jemaah lanjut usia (lansia) dan jemaah risiko tinggi (risti) yang memiliki penyakit kronis, seperti penyakit jantung, hipertensi, diabetes, maupun gangguan pernapasan.
Tawaf ifadah mengharuskan jemaah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran di tengah padatnya arus manusia, sementara sa’i dilakukan dengan menempuh perjalanan antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali, yang membutuhkan stamina dan kondisi fisik yang memadai.
Meskipun menghadapi keterbatasan fisik, para jemaah lansia dan risti tetap berupaya menunaikan rukun haji tersebut dengan penuh kesabaran dan keteguhan. Dukungan petugas haji, tenaga kesehatan, serta pendamping menjadi faktor penting dalam membantu mereka menyelesaikan ibadah dengan aman dan nyaman. Tidak sedikit jemaah yang harus menggunakan kursi roda atau mendapatkan pengawasan kesehatan secara intensif selama pelaksanaan tawaf ifadah dan sa’i.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaksanaan rukun haji tidak hanya menjadi ujian spiritual, tetapi juga ujian fisik yang membutuhkan kesiapan, pendampingan, dan pelayanan yang optimal bagi jemaah dengan kondisi khusus.
Kondisi demikian secara langsung dijelaskan oleh petugas PPIH Pusat Bobby Rachman Santoso dari UIN SATU Tulungagung yang ikhlas membantu dan mendorong 25 orang jemaah haji untuk melaksanakn tawaf ifadah dan sa’I secara sukarelawan dan gratis.
“Membantu jemaah lansia dan risti dalam melaksanakan ibadah haji adalah tugas kami di tim lansia dan disabilitas. Mulai dari kedatangan, kami sambut dengan antusias, kawal umrah wajib sampai terminal Syib Amir, pelaksanaan armuzna melalui program Safari wukuf, lempar jumrah, hingga tawaf ifadah dan sai, ” ujar Bobby.
‘Bahkan kami selalu berseragam saat dari kedatangan sampai arafah pun, ini bukti komitmen kami dalam mengabdi. Kami tim landis Sektor 3 berkomitmen memberikan pelayanan prima, totalitas dan tanggung jawab supaya Jemaah Haji khusuk dalam beribadah.” imbuh Bobby.
Menurit Bobby, tindakan yang dilakukannya secara ikhlas diharapkan dapat menjadi amal jariyah bagi dirinya, seperti yang disampaikan dalam kesempatan wawancara.
“Untuk tawaf ifadah itu memang jariyah dari saya sendiri. Sebisa mungkin, sebanyak mungkin, semaksimal mungkin kita dorong sendiri jemaah haji. Saya tidak mau menerima uang dari jemaah, saya mau doa mereka untuk saya dan keluarga saya. Adapun yang saya bantu yaitu jemaah haji yang lansia, mengidap penyakit kronis (contohnya; tumor lambung, sendi tulang kaki, dll). Itupun harus melalui persetujuan dokter.” Ujarnya.
Pelayanan prima yang diberikan oleh PPIH Pusat seperti yang dilakukan oleh Bobby menuai banyak pujian dari Jemaah haji tahun ini. Tentunya hal ini tidak hanya membangun citra baik perseorang saja, akan tetapi juga menunjukan keberhasilan Kementerian Haji dalam mempersiapkan seluruh petugas PPIH dalam memberikan pelayanan kepada Jemaah haji tahun 2026. Kepuasan pelayanan Jemaah ini dilontarkan oleh ibu Hj. Salkiah Jemaah haji dari Lombok.
“Petugas Haji tahun ini benar-benar berkhidmat dan memberikan pelayanan total untuk Jemaah Haji. Saya lihat itu dari Petugas Bobby yang dampingi saya dan tidak mau dikasih sangu. Dia hanya meminta doa supaya diampuni dosa-dosanya.ungkap Hj. Salkiah dari kloter 13 asal Lombok.
Loyalitas petugas PPIH terhadap Jemaah haji tahun 2026 tidak hanya dirasakan oleh Ibu Hj. Salkiah saja, akan tetapi juga dirasakan oleh Jemaah haji 2026 yang berasal dari SUB Surabaya Mbah kanah yang menuturkan.
“Saya yang sudah tua ini,
alhamdulillah Alloh memanggil saya untuk, menunaikan rukun Islam yang ke 5 ,sebelum. berangkat saya ragu , mampukah fisikku ini kuajak berjuang, tapi akhirnya berkat Alloh, lantaran Mas Bobby aku merasa lega ada yang mendampingi. Akhirnya terkabul semua angan anganku,saya dapat melaksanakan rukun.wajib dan sunah haji, ” papar Mbah Kanah.
“Perjuangan beliau patut dicungi jempol, menolong tanpa pamrih, tanpa mengharap imbalan apapaun, ” imbuh jamaah asal Surabaya ini.
“Alhamdulillah berkat jasa petugas haji yang membantu, saya dapat melaksanakan rukun ,wajib dan sunat haji. Saya merasa tertolong banget atas keterbatasan kaki saya , karena keduanya mengalami pengapuran. Petugas haji sangat tulus mendorong saya ibarat anak dan orang tua , beliau tidak mengharap, tidak mau menerima ambalan berupa apapun ” tutur salah satu jamaah disabilitas.
“Semoga seluruh jerih payah dan keikhlasan hati para petugas PPIH tidak hanya membawa keberkahan di dunia saja, akan tetapi menjadi amal baik yang akan menolongnya kelak di hari akhir ” tandasnya






