Nanoplastik Masuk Darah hingga Sperma Manusia, Ecoton Ungkap Ancaman Serius Kesehatan

Ilustrasi oleh tim grafis

SURABAYA, HeadlineJatim.com – Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) mengungkap temuan terbaru terkait keberadaan partikel nano dan mikroplastik (NMPs) di dalam tubuh manusia. Dalam riset yang dilakukan, partikel plastik tidak hanya ditemukan dalam darah, tetapi juga dalam sperma dan air ketuban ibu hamil.

Read More

Direktur Ecoton, Dr Daru Setyorini, menyatakan temuan ini menjadi sinyal peringatan serius bagi kesehatan publik.

“Selamat datang di era nanoplastik. Plastik kini tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi sudah masuk ke dalam tubuh manusia,” ujarnya.

Penelitian Ecoton melibatkan 30 subjek perempuan yang terdiri dari 20 pekerja sampah dan 10 mahasiswa di Blitar, Pacitan, Magetan, Lamongan, dan Malang. Hasilnya menunjukkan rata-rata terdapat 9 partikel mikroplastik dalam setiap 1 ml darah.

Pada Februari 2026, Ecoton juga melakukan studi awal yang menemukan mikroplastik dalam sistem reproduksi manusia. Dalam empat sampel sperma, terdeteksi 6–7 partikel mikroplastik berukuran 1,5–7,9 mikrometer dengan jenis polimer polyethylene. Selain itu, mikroplastik juga ditemukan dalam air ketuban ibu hamil.

Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, Rafika Aprilianti, mengungkapkan hasil pengujian tersebut.

“Dengan menggunakan SEM kami menemukan nanoplastik dalam darah dan sperma dengan ukuran 200–800 nanometer,” ujarnya.

Rafika Aprilianti kepala laboratorium Mikroplastik Ecoton sedang mengamati hasil scanning mikroskop elektron.(Istimewa)

Ia menambahkan bahwa jenis nanoplastik yang ditemukan berbentuk fiber dan fragmen.

Sementara itu, Manager Science, Art and Communication Ecoton, Prigi Arisandi, menjelaskan bahwa secara definisi mikroplastik merupakan pecahan plastik berukuran di bawah 5 milimeter hingga 1 mikrometer. Ia menambahkan bahwa partikel dengan ukuran di bawah 5 mikrometer berpotensi masuk ke dalam eritrosit atau sel darah merah yang memiliki ukuran rata-rata 7,2 mikrometer.

Dalam penelitian ini, partikel yang ditemukan memiliki ukuran antara 0,40 mikron hingga 10 mikron, lebih kecil dari diameter pembuluh kapiler (5–10 mikron) dan arteriol (8–100 mikron). Kondisi ini memungkinkan partikel plastik mengalir dalam sistem peredaran darah, menembus jaringan tubuh, dan berinteraksi langsung dengan sel-sel vital.

Dari sisi komposisi, jenis polimer yang terdeteksi meliputi polyester (28%), polyethylene (PE, LDPE, HDPE total 32%), polyisobutylene (24%), dan PET (16%). Dominasi polyester menunjukkan kontribusi besar dari limbah tekstil, terutama serat pakaian sintetis.

Keberadaan NMPs dalam darah memicu berbagai dampak kesehatan. Partikel ini dapat merusak sel darah merah (hemolisis), memicu penggumpalan darah, serta meningkatkan risiko stroke dan penyakit kardiovaskular. Selain itu, sistem imun mengalami tekanan karena sel darah putih tidak mampu menghancurkan partikel plastik, sehingga memicu inflamasi kronis melalui pelepasan TNF-alpha dan interleukin.

Interaksi NMPs dengan trombosit juga dapat memicu pembentukan trombus yang berisiko menyebabkan penyumbatan pembuluh koroner. Di sisi lain, sel tubuh harus bekerja lebih keras untuk mengeluarkan partikel asing, yang mempercepat penuaan sel dan mengganggu proses pembentukan sel darah baru.

Dampak serius juga ditemukan pada sistem reproduksi. Mikroplastik dalam sperma berpotensi menurunkan kualitas sperma hingga menyebabkan infertilitas. Sementara itu, penelitian terhadap 45 sampel air ketuban di Gresik menunjukkan adanya 3–4 partikel mikroplastik, yang berpotensi menyebabkan gangguan perkembangan janin, penurunan nutrisi, inflamasi, hingga kelahiran prematur.

Paparan nanoplastik memicu respons imun berupa pelepasan neutrofil, limfosit, dan leukosit. Namun, karena partikel ini tidak dapat dihancurkan, proses tersebut menghasilkan radikal bebas yang menyebabkan stres oksidatif dan kerusakan sel, termasuk sel reproduksi.

Pakar kesehatan anak asal Amerika Serikat, Philip J. Landrigan, dalam dokumenter The Plastic Detox menyebut bahwa paparan bahan kimia dari plastik pada ibu hamil dapat berdampak hingga tiga generasi sekaligus, yakni ibu, anak, dan cucu.

Sofi Azilan Aini peneliti nanoplastik dalam sel darah sedang melakukan analisis unsur kimia dalam material dengan menggunakan Mikroskop Elektron di Scientific Imaging Centre ITB bandung Pada 10 April 2026.

Sebagai langkah mitigasi, Ecoton merekomendasikan masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghindari wadah plastik untuk makanan dan minuman, serta mengurangi penggunaan pakaian berbahan sintetis. Masyarakat juga dianjurkan membawa botol minum sendiri dan menggunakan tas belanja guna ulang.

Selain itu, konsumsi makanan antiinflamasi seperti kunyit dan antioksidan dari buah serta sayuran, serta aktivitas olahraga seperti taichi, dinilai dapat membantu menjaga kondisi tubuh dari dampak paparan tersebut.

Penelitian ini melibatkan sejumlah peneliti, di antaranya Dr. dr. Lestari Sudaryanti, M.Kes dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Dr Daru Setyorini, Rafika Aprilianti, Sofi Azilan Aini, SKM, Tasya Husna, SP, Prigi Arisandi, serta Sri Astika dari Universitas Negeri Surabaya.

Temuan ini menegaskan bahwa pencemaran plastik telah memasuki tahap yang lebih serius, tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga langsung terhadap kesehatan manusia.

Related posts