Indonesia di Jalur Migrasi Global, BMKG Ingatkan Potensi Penyebaran Penyakit Hewan

SURABAYA, HeadlineJatim.com — Di tengah meningkatnya laporan wabah penyakit hewan di berbagai belahan dunia, Indonesia dihadapkan pada risiko yang tidak kasat mata namun nyata, pergerakan alami burung migran lintas benua dan dinamika cuaca yang dapat mempercepat penyebaran penyakit.

Otoritas meteorologi mengingatkan, kombinasi faktor ekologis dan iklim ini menjadi kunci memahami potensi masuknya wabah global ke dalam negeri.

Read More

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Taufiq Hermawan, menegaskan bahwa migrasi burung liar yang berpotensi membawa virus merupakan fenomena alam yang terjadi secara periodik.

“Migrasi satwa adalah respons langsung terhadap perubahan musim. Saat ini terjadi peralihan dari musim hujan ke kemarau. Di belahan bumi utara seperti Siberia sedang menuju musim dingin, sehingga burung bermigrasi ke wilayah selatan untuk mencari tempat yang lebih hangat, termasuk Indonesia,” ujarnya saat diwawancarai headlinejatim.com, Senin 30/03/2026.

Secara geografis, Indonesia berada pada jalur strategis East Asian–Australasian Flyway (EAAF), salah satu koridor migrasi burung terbesar di dunia yang menghubungkan wilayah Arktik, Siberia, Asia Timur, hingga Asia Tenggara dan Australia. Setiap tahun, jutaan burung air seperti itik liar, angsa, dan burung pantai melintasi jalur ini dan singgah di kawasan pesisir, rawa, dan lahan basah di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.

Kondisi ini menempatkan Indonesia, termasuk Jawa Timur, sebagai titik temu antara burung migran dan unggas domestik, terutama di kawasan tambak, persawahan, dan perairan terbuka. Interaksi tersebut menjadi salah satu jalur potensial masuknya virus seperti avian influenza (H5N1), yang secara global masih aktif beredar di populasi unggas dan satwa liar.

Selain faktor migrasi, BMKG menyoroti peran penting variabel cuaca, khususnya curah hujan, dalam memperkuat risiko penyebaran penyakit.

“Prediksi curah hujan penting untuk mengantisipasi media penularan penyakit melalui air tawar yang dapat bertahan selama berminggu-minggu. Curah hujan tinggi dapat berasosiasi dengan wilayah dengan tingkat penyebaran virus yang tinggi, sehingga data ini dapat dimanfaatkan sebagai rujukan mitigasi oleh dinas terkait,” kata Taufiq.

Sejumlah kajian global dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menunjukkan bahwa virus flu burung mampu bertahan di lingkungan perairan dalam waktu yang cukup lama, terutama pada suhu rendah. Hal ini menjadikan area genangan, danau, rawa, dan sawah sebagai reservoir alami yang berpotensi menjadi media transmisi tidak langsung antara satwa liar dan ternak.

Data global per 17–18 Maret 2026 menunjukkan wabah penyakit hewan masih aktif di berbagai negara. Penyakit mulut dan kuku (PMK) dilaporkan kembali muncul di Afrika selatan, termasuk di Eswatini dengan lebih dari 100 kasus pada sapi, sementara flu burung menyerang unggas domestik di Amerika Latin dan Eropa. Di sisi lain, parasit screwworm dilaporkan menyerang ternak di Meksiko, menambah kompleksitas ancaman penyakit lintas negara.

Di Indonesia, situasi relatif terkendali. Data per 18 Maret 2026 mencatat 1 kasus flu burung A(H5N1) tanpa kematian. Namun, para ahli menilai angka ini tidak boleh membuat lengah, mengingat karakter penyakit hewan yang dapat menyebar cepat melalui mobilitas satwa dan perdagangan.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan Badan Karantina Indonesia telah memperkuat sistem surveilans, vaksinasi unggas, serta pengawasan lalu lintas hewan dan produk hewan di pintu masuk negara. Pendekatan biosekuriti di tingkat peternakan juga terus diperketat, terutama di wilayah dengan kepadatan unggas tinggi seperti Jawa Timur.

Mitigasi dan Risiko Terburuk

Dalam konteks mitigasi, integrasi data lintas sektor menjadi kunci. Data migrasi burung dari jalur EAAF, dikombinasikan dengan informasi curah hujan dari BMKG, dapat digunakan untuk memetakan wilayah berisiko tinggi sebagai dasar intervensi dini, seperti peningkatan biosekuriti, pembatasan lalu lintas unggas, hingga pengawasan aktif di kawasan lahan basah.

Adapun skenario risiko terburuk yang perlu diantisipasi adalah masuknya strain baru virus flu burung melalui burung migran yang kemudian menyebar ke peternakan rakyat. Jika tidak terkendali, kondisi ini dapat memicu kematian massal unggas, gangguan rantai pasok pangan, kerugian ekonomi peternak, hingga potensi penularan ke manusia (zoonosis).

Untuk wilayah Jawa Timur, risiko meningkat karena karakter wilayahnya yang memiliki kombinasi sentra peternakan unggas terbesar nasional, kawasan tambak pesisir utara, serta jalur persinggahan burung migran. Kondisi ini menjadikan provinsi ini sebagai salah satu titik kritis dalam sistem kewaspadaan dini penyakit hewan nasional.

Dengan dinamika global yang terus berkembang, para ahli menegaskan bahwa kewaspadaan tidak cukup hanya berbasis sektor kesehatan hewan, tetapi harus mengintegrasikan pendekatan One Health yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

“Dalam konteks ini, peran data cuaca dan migrasi satwa menjadi elemen penting dalam membangun sistem deteksi dini yang lebih presisi,” Pungkas Taufiq Hermawan.

 

Sumber Berita & Data Terverifikasi

World Organisation for Animal Health (WOAH) – Animal Disease Event Reports (Maret 2026)

World Health Organization (WHO) – Data zoonosis & tren A(H5N1) global (per 18 Maret 2026)

Food and Agriculture Organization (FAO) – Global Animal Health Monitoring

Kementerian Pertanian Republik Indonesia – Sistem pengendalian penyakit hewan

Badan Karantina Indonesia – Pengawasan lalu lintas hewan & biosekuriti

BMKG Juanda – Pernyataan Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda, Taufiq Hermawan (Maret 2026)

Referensi jalur migrasi burung: East Asian–A

ustralasian Flyway (EAAF)

Related posts