Sidoarjo, HeadlineJatim.com – BMKG Juanda mengeluarkan peringatan kewaspadaan cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Jawa Timur pada periode 1–10 Maret 2026. Dalam rentang 10 hari ke depan, masyarakat diminta siaga terhadap potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es.
Kondisi tersebut berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang, hingga terganggunya aktivitas transportasi darat dan laut.
38 Kabupaten/Kota Masuk Daftar Waspada
Wilayah yang diprakirakan terdampak meliputi:
Kabupaten Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Kediri, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Madiun, Magetan, Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep.
Serta Kota Kediri, Kota Blitar, Kota Malang, Kota Probolinggo, Kota Pasuruan, Kota Mojokerto, Kota Madiun, Kota Surabaya, dan Kota Batu.
Dengan cakupan tersebut, hampir seluruh wilayah Jawa Timur berpotensi mengalami peningkatan intensitas cuaca dalam sepekan lebih ke depan.
Transisi Musim Picu Peningkatan Cuaca Ekstrem
Sebagian wilayah Jawa Timur kini mulai memasuki masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Masa pancaroba ini identik dengan cuaca yang cepat berubah dan potensi hujan ekstrem dalam durasi singkat.
Beberapa faktor atmosfer yang memicu kondisi ini antara lain:
- Aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) yang melintasi wilayah Jawa Timur
- Gelombang atmosfer frekuensi rendah (Low Frequency)
- Gelombang Rossby
- Suhu muka laut di perairan selatan Jawa Timur yang masih relatif hangat
- Atmosfer lokal yang labil dan mendukung pertumbuhan awan konvektif
Kombinasi faktor tersebut meningkatkan peluang terbentuknya awan hujan intensitas sedang hingga lebat, disertai kilat dan angin kencang.
Kepala BMKG Juanda: “Masyarakat Jangan Anggap Remeh Perubahan Cuaca Mendadak”
Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, menegaskan pihaknya telah memantau dinamika atmosfer yang berpotensi meningkatkan cuaca ekstrem di Jawa Timur dalam 10 hari ke depan.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak menganggap remeh perubahan cuaca yang terjadi secara tiba-tiba. Dalam masa peralihan musim seperti sekarang, hujan lebat bisa turun dalam durasi singkat dan disertai angin kencang,” tegas Taufiq.
Ia juga meminta pemerintah daerah dan instansi terkait meningkatkan kesiapsiagaan, khususnya di wilayah rawan bencana.
“Wilayah dengan topografi pegunungan, lereng, dan daerah aliran sungai perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. Pastikan sistem drainase, pohon-pohon besar, serta infrastruktur publik dalam kondisi aman,” tambahnya.
Berdasarkan analisis angin gradien 3.000 feet pada 28 Februari 2026 pukul 07.00 WIB, angin dominan bertiup dari arah barat dengan pola konvergensi (pertemuan angin) serta peningkatan kecepatan hingga 25 knot di wilayah Jawa Timur. Kondisi ini turut memperkuat pertumbuhan awan hujan.
Taufiq menegaskan masyarakat agar hanya mengakses informasi dari kanal resmi BMKG guna menghindari hoaks cuaca.
“Kami terus memperbarui informasi peringatan dini melalui website resmi, radar cuaca WOFI, media sosial, serta layanan telepon 24 jam. Masyarakat diharapkan aktif memantau informasi tersebut sebelum beraktivitas,” ujarnya.
Informasi terkini dapat diakses melalui:
*Website resmi BMKG Juanda
*Citra radar cuaca WOFI
*Peringatan dini 3 harian
*Peringatan dini 2–3 jam sebelum kejadian
*Media sosial resmi @infobmkgjuanda
*Saluran telepon 24 jam (031) 8668989
*WhatsApp 0895800300011
Dengan periode kewaspadaan hingga 10 Maret 2026, masyarakat Jawa Timur diminta meningkatkan kesiapsiagaan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan maupun melakukan perjalanan lintas daerah.






