Harga Emas Melejit di Atas US$ 5.200 Usai Serangan AS–Israel ke Iran, Indonesia Hadapi Ujian Stabilitas Eksternal

Ilustrasi oleh tim grafis 

Jakarta, Headlinejatim.com – Eskalasi militer di Timur Tengah kembali mengguncang pasar keuangan global. Harga emas dunia melonjak menembus level psikologis US$ 5.200 per troy ons pada Sabtu (28/2/2026), menyusul serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang dikonfirmasi Presiden AS, Donald Trump.

Read More

Lonjakan ini bukan sekadar respons spontan. Pasar membaca perkembangan tersebut sebagai peningkatan risiko geopolitik yang berpotensi meluas dan berdampak pada sistem perdagangan serta energi global.

Di dalam negeri, harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk ikut melonjak menjadi Rp 3.085.000 per gram, naik Rp 40.000 dalam sehari. Transmisi harga global ke domestik berlangsung cepat, mempertegas posisi emas sebagai indikator pertama ketidakpastian global.

Namun yang lebih penting dari sekadar angka adalah pesan yang dikirim pasar: dunia sedang bergerak ke fase defensif.

Emas dan Mekanisme Transmisi Risiko Global

Dalam kerangka ekonomi makro, emas berfungsi sebagai barometer peningkatan geopolitical risk premium. Ketika risiko konflik meningkat, investor global cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk saham dan obligasi negara berkembang—dan mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap memiliki risiko gagal bayar paling rendah.

Kenaikan harga emas hampir selalu berjalan beriringan dengan:

  • Lonjakan volatilitas pasar keuangan
  • Tekanan terhadap mata uang emerging markets
  • Perpindahan modal ke dolar AS dan logam mulia

Sebagai ekonomi terbuka dengan integrasi tinggi terhadap sistem perdagangan dan arus modal global, Indonesia tetap berada dalam jalur transmisi risiko tersebut.

Dampak Potensial ke Rupiah dan Neraca Transaksi Berjalan

Lonjakan emas menjadi sinyal awal bahwa tekanan eksternal meningkat. Tentunya, jika konflik mendorong kenaikan harga minyak global. Indonesia sebagai pengimpor migas berpotensi menghadapi tekanan pada

Nilai Tukar Rupiah

Peningkatan ketidakpastian global dapat memicu capital outflow. Tekanan terhadap rupiah berpotensi muncul jika investor global mengurangi eksposur pada aset emerging markets. Depresiasi rupiah akan meningkatkan biaya impor dan berpotensi menekan inflasi domestik melalui inflasi impor.

Neraca Transaksi Berjalan

Meski Indonesia masih mencatat surplus perdagangan dalam beberapa tahun terakhir, lonjakan harga energi dapat memperlebar defisit sektor migas dan menggerus surplus non-migas. Jika berlangsung lama, tekanan terhadap cadangan devisa dapat meningkat.

Tekanan Fiskal

Kenaikan harga energi global dapat meningkatkan beban subsidi dalam APBN. Ruang fiskal menjadi lebih sempit jika harga minyak bertahan tinggi dalam jangka panjang.

Skenario Risiko Dari Terkendali hingga Ekstrem

Pelaku pasar kini menghitung tiga kemungkinan arah konflik:

  1. Skenario terkendali: Eskalasi terbatas, harga energi stabil kembali, emas terkoreksi secara teknikal.
  2. Skenario berkepanjangan: Ketegangan berlarut, emas bertahan tinggi, rupiah volatil, surplus perdagangan menyempit.
  3. Skenario ekstrem: Perang regional dan gangguan distribusi energi global, emas melonjak tajam, rupiah tertekan signifikan, defisit migas melebar.

Arah perkembangan inilah yang akan menentukan tekanan terhadap stabilitas makro Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.

Pola Historis dan Data Tidak Pernah Berbohong

Hubungan antara perang dan lonjakan emas memiliki rekam jejak empiris yang kuat.

Ketika Amerika Serikat menginvasi Irak di bawah kepemimpinan George W. Bush pada 2003, harga emas naik lebih dari 15% selama fase awal konflik.

Pada 2022, saat Rusia di bawah Vladimir Putin melancarkan invasi ke Ukraina, emas melonjak mendekati US$ 2.070 per ons—rekor tertinggi pada periode tersebut.

Fenomena ini konsisten dengan teori flight to quality, yakni perpindahan modal besar-besaran dari aset berisiko menuju instrumen yang dianggap aman ketika risiko sistemik meningkat.

Ekonom peraih Nobel, Paul Krugman, dalam berbagai analisisnya mengenai krisis global, menekankan bahwa ketika ketidakpastian ekstrem meningkat, perilaku pasar menjadi sangat defensif. Likuiditas global mengalir menuju aset dengan risiko gagal bayar paling rendah.

Dalam konteks komoditas, emas hampir selalu berada di posisi teratas.

Rantai sebab-akibatnya relatif konsisten sepanjang sejarah modern:

Perang → Ketidakpastian global meningkat → Risiko pasar naik → Investor mencari aset aman → Permintaan emas melonjak → Harga emas terdorong naik

Lonjakan emas di atas US$ 5.200 hari ini bukan anomali. Ia adalah refleksi dari pola historis yang berulang.

Bagi Indonesia, tantangan terbesarnya bukan sekadar mengikuti pergerakan harga emas, melainkan memastikan stabilitas nilai tukar, menjaga keseimbangan transaksi berjalan, dan mempertahankan ruang fiskal di tengah dunia yang kembali dibayangi konflik geopolitik.

Visual Grafis: Harga Emas & Nilai Tukar per 28 Februari 2026 (16:9)

1. Harga Emas Dunia (US$ per troy ounce)

Tanggal

Harga Emas Dunia (USD/oz)

 

22 Feb 2026

~5,102

 

23 Feb 2026

~5,148

 

24 Feb 2026

~5,155

 

25 Feb 2026

~5,208

 

26 Feb 2026

~5,155

 

27 Feb 2026

5,278 (close)

 

28 Feb 2026

~5,278–5,280 (today)

 

Catatan: Data ini menunjukkan harga emas yang bergerak kuat di kisaran tertinggi minggu ini refleksi safe haven demand akibat eskalasi geopolitik.

 

2. Harga Emas Antam (IDR per gram)

Emas Antam 24K

Harga per 28 Feb 2026

 

1 gram

Rp 3.085.000

 

2 gram

Rp 6.120.000

 

5 gram

Rp 15.240.000

 

Harga emas Antam mencapai level rekor tinggi pada Januari 2026 lalu sebelum sedikit terkoreksi, namun level saat ini masih kuat.

 

3. Nilai Tukar USD/IDR (Perkiraan per 28 Feb 2026)

Tanggal

1 USD ke IDR

 

25 Feb 2026

~Rp 16.820

 

26 Feb 2026

~Rp 16.844

 

28 Feb 2026

~Rp 16.844–16.886

 

Nilai tukar rupiah masih berada di kisaran Rp 16.8 ribu per dolar AS menjelang akhir Februari 2026, mencerminkan tekanan volatilitas pasar global.

 

Sumber:

Harga Emas Dunia Langsung Naik Usai AS & Israel Serang Iran — detikFinance, 28 Februari 2026 (finance.detik.com)

Indonesian trade surplus widened in Jan to $2.76 billion — Reuters, 27 Februari 2026 (reuters.com)

Neraca Perdagangan Indonesia Berlanjut Surplus — BPS, 5 Januari 2026 (bps.go.id)

APBN defisit Rp54,6 triliun pada bulan pertama 2026 — Antara News, 23 Februari 2026 (antaranews.

com)

Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat — Kemenko Perekonomian RI, 4 Februari 2026 (ekon.go.id)

Related posts