DPRD Jember Soroti Dugaan Janggal Data Keuangan dan Pelayanan RSD dr. Soebandi

Jember, Headlinejatim.com – Komisi D DPRD Kabupaten Jember melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Rumah Sakit Daerah (RSD) dr. Soebandi pada Jumat sore (27/2/2026). Langkah ini diambil guna menindaklanjuti laporan masyarakat terkait dugaan karut-marut data keuangan hingga keluhan pelayanan pasien yang memprihatinkan.

​Salah satu temuan yang menjadi sorotan tajam adalah laporan mengenai pasien yang terpaksa harus bergantian menggunakan alat kesehatan (alkes). Selain itu, muncul indikasi ketidaksinkronan data keuangan di rumah sakit rujukan wilayah Tapal Kuda tersebut.

Read More

​Dalam sidak tersebut, seluruh anggota Komisi D membagi diri menjadi tiga tim. Mereka menyisir titik-titik krusial mulai dari ruang rawat inap, layanan paviliun, hingga fasilitas kesehatan lainnya untuk melihat kondisi riil di lapangan.

​Setelah melakukan penyisiran, kegiatan dilanjutkan dengan rapat audiensi bersama jajaran direksi di lantai tiga. Namun, rapat yang dipimpin oleh Direktur RSD dr. Soebandi, dr. I Nyoman Semita, terpaksa dihentikan di tengah jalan.

​Anggota Komisi D menilai klarifikasi tidak bisa dilakukan secara komprehensif lantaran absennya sejumlah Wakil Direktur (Wadir) dan pejabat bagian keuangan yang memegang data teknis.

Sorotan Tajam Terhadap Keuangan dan SDM

​Anggota Komisi D DPRD Jember, Hafidi, menegaskan bahwa pihaknya membutuhkan data akurat untuk mengevaluasi kinerja rumah sakit. Hal ini penting untuk memastikan pelayanan masyarakat berjalan maksimal sekaligus menjaga Pendapatan Asli Daerah (PAD).

​“Kami ingin tahu sejauh mana alur keuangan di sini. Mengapa muncul istilah kerugian di ruang paviliun? Dari mana alurnya, bagaimana penjelasannya, dan apa solusinya?” ujar politisi PKB tersebut dengan nada tegas usai rapat yang ditunda.

​Tak hanya soal uang, Hafidi juga menyoroti dugaan perekrutan pegawai baru di Instalasi Bedah Sentral yang dinilai tidak melalui prosedur transparan. Karena minimnya pejabat yang hadir untuk memberi penjelasan, Komisi D berencana memanggil ulang pihak manajemen ke gedung dewan pekan depan.

​Di sisi lain, Direktur RSD dr. Soebandi, dr. I Nyoman Semita, memberikan pembelaan melalui data performa rumah sakit. Menurutnya, secara umum kinerja RS rujukan tipe B pendidikan ini justru mengalami lonjakan positif.

​”Pendapatan pada Januari 2026 mencapai Rp31,7 miliar. Angka ini naik 100% dibandingkan rata-rata 10 bulan sebelumnya yang hanya di kisaran Rp15 miliar,” ungkap Nyoman.

​Ia merinci peningkatan layanan terjadi hampir di seluruh lini:

  • ​Kunjungan Rawat Jalan: Naik 62,5% (dari 800 menjadi 1.300 pasien/hari).
  • ​Layanan Ortopedi: Meningkat 104%.
  • ​Tindakan Operasi: Naik 50% menjadi 1.200 kasus per bulan.
  • ​Kateterisasi Jantung: Melonjak 169%.
  • ​Beban Berat Rumah Sakit Rujukan

​Terkait antrean dan membeludaknya pasien, Nyoman menjelaskan bahwa status sebagai rujukan regional membuat beban kerja tenaga medis sangat tinggi. Banyak pasien dikirim dari luar kota seperti Banyuwangi dalam kondisi kritis.

​Kondisi ini memicu tingkat keterisian tempat tidur (Bed Occupancy Rate) mencapai 85% hingga 100%. Di Instalasi Gawat Darurat (IGD), jumlah pasien emergensi bisa mencapai 112 kasus dalam sehari, yang mengakibatkan puluhan pasien harus menunggu ketersediaan kamar rawat inap.

​”Tantangan kami adalah biaya operasional yang membengkak karena banyaknya kasus berat. Namun, kami terus berupaya memberikan yang terbaik,” pungkasnya.

Related posts