Ilustrasi oleh Tim grafis HeadlineJatim.com
Surabaya, HeadlineJatim.com –Bahasa Indonesia dikenal sebagai bahasa yang dinamis dan sangat terbuka terhadap pengaruh asing. Selain pengaruh bahasa Belanda dan Arab, bahasa Tionghoa, khususnya dialek Hokkien yang memiliki kontribusi besar dalam memperkaya perbendaharaan kata kita sehari-hari, mulai dari urusan dapur hingga sistem kekerabatan.
Menelusuri sejarahnya, asimilasi budaya yang terjadi selama berabad-abad melalui jalur perdagangan membawa istilah-istilah dari daratan Tiongkok meresap ke dalam lisan masyarakat Nusantara.
Fenomena ini tercatat secara resmi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring milik Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Kemendikbudristek), yang mengategorikan ribuan kata serapan sebagai bagian dari kekayaan bahasa nasional.
Berdasarkan data yang dihimpun dari portal edukasi Kemendikbudristek dan penelitian etimologi dalam Jurnal Lingua Cultur terbitan Binus University, berikut adalah 20 kosakata populer yang berakar dari bahasa Tionghoa:
Daftar Kosakata dan Makna Etimologisnya
- Bakso: Mengutip literatur kuliner Tionghoa, kata ini berasal dari Bak-So. Bak berarti daging, dan So berarti bola atau makanan.
- Loteng: Berasal dari kata Lau-Teng. Dalam dialek Hokkien, Lau berarti gedung/rumah, dan Teng berarti atas.
- Lonceng: Berasal dari kata Liong-Ching.
- Cawan: Berasal dari kata Chun atau Chawan yang merujuk pada mangkuk kecil untuk teh.
- Gincu: Berasal dari kata Jin-Chu, yang secara harfiah merujuk pada bahan pemerah bibir tradisional.
- Toko: Berasal dari kata Tho-Kho yang dalam sejarah perdagangan berarti gudang atau tempat menyimpan barang dagangan.
- Sungsang: Berasal dari kata Chun-Sang.
- Lumpia: Berasal dari kata Lun-Pia. Lun berarti lunak, dan Pia berarti kue/pastri.
- Becak: Berasal dari kata Bee-Chia yang berarti kereta roda tiga atau kereta yang ditarik manusia.
- Sampan: Berasal dari kata Sam-Pan. Sam artinya tiga, dan Pan artinya papan.
- Soto: Berasal dari kata Chau-Tu atau Sauto, merujuk pada hidangan sup berempah yang berisi jeroan dan daging.
- Kecap: Berasal dari kata Koe-Chiap yang merujuk pada saus atau cairan fermentasi kacang/ikan.
- Pisau: Berasal dari kata Pi-Siau.
- Tauge: Berasal dari kata Tau-Gue. Tau berarti kacang, dan Gue berarti kecambah.
- Angpao: Berasal dari kata Ang-Pau yang secara harfiah berarti amplop merah.
- Kongko: Berasal dari kata Khong-Kha yang berarti berbincang atau mengobrol santai.
- Cukong: Berasal dari kata Chu-Khong yang secara historis merujuk pada majikan atau tuan tanah.
- Gua/Lu: Berasal dari dialek Hokkien Gua (saya) dan Lu (kamu) yang kini menjadi bahasa gaul populer.
- Bakpao: Berasal dari kata Bak-Pao. Bak berarti daging, dan Pao berarti bungkusan atau roti.
- Siomay: Berasal dari kata Shao-Mai, sejenis pangsit terbuka dalam tradisi dimsum.
Menurut analisis dalam Jurnal Lingua Cultur, dominasi serapan dari dialek Hokkien terjadi karena mayoritas imigran Tionghoa yang datang ke Nusantara pada masa lampau berasal dari provinsi Fujian. Penggunaan kata-kata ini dalam percakapan formal maupun informal membuktikan betapa eratnya hubungan lintas budaya yang telah terjalin lama di Indonesia.
Senada dengan hal tersebut, Badan Bahasa Kemendikbudristek terus melakukan pemutakhiran data kata serapan untuk memastikan bahwa sejarah perkembangan bahasa Indonesia tetap terdokumentasi dengan baik. Dengan memahami asal-usul kata, masyarakat tidak hanya memperkaya wawasan linguistik, tetapi juga merawat toleransi melalui pemahaman sejarah yang inklusif.






