Misteri 60 Meter di Laut Maladewa: Dugaan Oxygen Toxicity hingga Panic Underwater Diselidiki

  1. VAAVU ATOLL – MALADewa, Headlinejatim.com –  Investigasi tragedi penyelaman laut dalam di kawasan Vaavu Atoll, Maladewa, terus berkembang setelah lima wisatawan asal Italia dilaporkan meninggal saat melakukan penyelaman di area gua bawah laut dengan kedalaman sekitar 50 hingga 60 meter pada Kamis (14/5/2026).

Kasus ini menjadi perhatian internasional karena melibatkan dugaan oxygen toxicity, potensi panic underwater, cuaca buruk, hingga evaluasi prosedur keselamatan penyelaman teknikal di salah satu destinasi diving populer dunia.

Berdasarkan laporan sejumlah media internasional, rombongan penyelam diketahui berangkat menggunakan yacht Duke of York menuju area penyelaman dekat Pulau Alimatha di Vaavu Atoll pada Kamis pagi waktu setempat. Media Inggris thesun.co.uk⁠ dalam laporan berjudul “Five tourists die 160ft underwater during Maldives diving trip” yang diunggah 14 Mei 2026 menyebut alarm pencarian mulai muncul sekitar pukul 13.45 waktu lokal setelah para penyelam tidak kembali ke permukaan.

Korban yang disebut dalam berbagai laporan internasional antara lain Monica Montefalcone, dosen ekologi laut dari University of Genoa, putrinya Giorgia Sommacal, peneliti Muriel Oddenino, Federico Gualtieri, serta instruktur diving Gianluca Benedetti.

Pihak unige.it⁠ melalui pernyataan resmi bertajuk “The University of Genoa’s condolences” pada 14 Mei 2026 menyampaikan duka cita dan mengonfirmasi sebagian korban memiliki keterkaitan akademik dengan universitas tersebut.

Dalam perkembangan berikutnya, tragedi ini turut menewaskan seorang penyelam militer Maladewa bernama Mohamed Mahudhee saat operasi evakuasi berlangsung. Laporan apnews.com⁠ dan theguardian.com⁠ yang dipublikasikan 16 Mei 2026 menyebut Mahudhee diduga mengalami decompression sickness ketika melakukan operasi pencarian di area gua bawah laut yang memiliki tekanan ekstrem dan visibilitas rendah.

Menurut juru bicara kepresidenan Maladewa Mohamed Hussain Shareef yang dikutip AP News, operasi pencarian sempat dihentikan sementara akibat cuaca buruk, angin kencang, gelombang tinggi, hujan deras, serta arus bawah laut yang membahayakan tim penyelamat.

Dugaan Oxygen Toxicity dan Panic Underwater

Salah satu aspek yang paling banyak disorot dalam investigasi awal adalah kemungkinan oxygen toxicity atau toksisitas oksigen dalam penyelaman laut dalam.

Media nypost.com⁠ pada 15 Mei 2026 mengutip pulmonologist Claudio Micheletto dari University Hospital of Verona yang menyebut kemungkinan “sesuatu terjadi pada tabung oksigen” dalam penyelaman tersebut. Micheletto menjelaskan hiperoksia atau oxygen toxicity dapat menyebabkan disorientasi, gangguan kesadaran, hingga kegagalan naik ke permukaan.

Masih dalam laporan yang sama, Presiden Italian Society of Underwater and Hyperbaric Medicine Alfonso Bolognini turut menyoroti kemungkinan panic underwater di ruang gua sempit pada kedalaman sekitar 50 meter. Menurutnya, kepanikan kecil dapat membuat air menjadi keruh, mengganggu visibilitas, lalu memicu kesalahan fatal ketika penyelam kehilangan orientasi di bawah laut.

Namun hingga kini belum ada hasil investigasi resmi yang menyimpulkan penyebab pasti kematian para korban.

Laporan ansa.it⁠ pada 15 Mei 2026 menyebut Kejaksaan Roma telah membuka investigasi awal terkait tragedi tersebut, sementara otoritas Maladewa turut memeriksa prosedur keselamatan penyelaman dan legalitas kedalaman diving yang dilakukan rombongan wisatawan.

Kedalaman 60 Meter dan Risiko Technical Diving

Berdasarkan berbagai laporan internasional, para korban disebut menyelam hingga sekitar 160 kaki atau hampir 50 meter di bawah permukaan laut.

Padahal, menurut regulasi diving rekreasional yang dikutip AP News dan The Guardian, batas umum penyelaman rekreasional berada di kisaran 30 meter. Kedalaman di atas 40 meter umumnya masuk kategori technical diving yang membutuhkan pelatihan khusus, prosedur dekompresi, campuran gas tertentu, redundansi peralatan, serta manajemen psikologis ekstrem bawah laut.

Literatur keselamatan penyelaman seperti NOAA Diving Manual, PADI Deep Diving Safety Guidelines, dan Divers Alert Network Europe menjelaskan bahwa tekanan parsial oksigen pada kedalaman tinggi dapat meningkatkan risiko: Hiperoksia, Nitrogen narcosis, kehilangan orientasi, hingga penurunan kemampuan pengambilan keputusan.

Area cave diving sendiri dikenal sebagai salah satu jenis penyelaman paling berisiko di dunia karena: Minim cahaya alami, navigasi kompleks, sedimentasi mudah keruh, serta jalur sempit yang dapat memicu kepanikan psikologis bahkan pada penyelam berpengalaman.

Reels Tirto.id dan Diskursus di Media Sosial

Perhatian publik terhadap tragedi ini juga meningkat setela mengunggah video reels informatif terkait insiden tersebut melalui segmen #TirtoDaily pada 16 Mei 2026.

Dalam unggahan itu, Tirto.id menampilkan visual operasi pencarian laut, ilustrasi penyelaman dalam, serta penjelasan mengenai dugaan faktor risiko seperti oxygen toxicity, gangguan tabung oksigen, hingga panic underwater yang disebut oleh ahli pulmonologi Claudio Micheletto.

Caption unggahan Tirto.id juga memuat trigger warning karena menampilkan materi terkait kecelakaan penyelaman fatal. Dalam narasinya disebutkan bahwa para korban melakukan penyelaman pada kedalaman sekitar 50 hingga 60 meter di kawasan Vaavu Atoll, dekat Pulau Alimatha, melebihi batas umum penyelaman rekreasional sekitar 30 meter.

Tirto.id turut menjelaskan bahwa operasi pencarian melibatkan kapal, dukungan udara, dan tim penyelam, namun sempat terkendala cuaca buruk, arus kuat, hujan deras, serta kondisi laut yang tidak stabil.

Unggahan reels tersebut kemudian tersebar di berbagai ruang media sosial digital terbuka dan memicu diskursus komunitas diving internasional mengenai standar keselamatan deep diving, penggunaan campuran gas pada kedalaman tinggi, serta risiko psikologis dalam penyelaman gua bawah laut.

Investigasi Masih Berlangsung

Hingga Minggu (17/5/2026), penyebab pasti tragedi belum diumumkan secara resmi oleh otoritas Maladewa.

Namun kasus ini kembali membuka diskursus global mengenai batas aman wisata ekstrem, cave diving, penggunaan nitrox dalam penyelaman laut dalam, serta psikologi manusia ketika berada di ruang tekanan tinggi yang minim toleransi terhadap kesalahan kecil.

Di kedalaman tertentu, laut tidak lagi sekadar menjadi destinasi wisata. Ia berubah menjadi ruang tekanan, sunyi, dan ketidakpastian — tempat teknologi, pengalaman, serta insting manusia diuji dalam hitungan menit.

Sumber Data dan Referensi Penunjang

1. apnews.com⁠

Judul: “Maldives suspends search for 4 Italians in underwater cave after military diver dies”

Waktu unggah: 16 Mei 2026.

2. theguardian.com⁠

Judul: “Maldives diver dies in operation to recover bodies of Italians from cave”

Waktu unggah: 16 Mei 2026.

3. nypost.com⁠

Judul: “Oxygen toxicity, panic may have led to deaths of 5 tourists on Maldives scuba dive: experts”

Waktu unggah: 15 Mei 2026.

4. ansa.it⁠

Judul: “Rome prosecutors open investigation into Maldives diving disaster”

Waktu unggah: 15 Mei 2026.

5. thesun.co.uk⁠�

Judul: “Five tourists die 160ft underwater during Maldives diving trip”

Waktu unggah: 14 Mei 2026.

6. unige.it⁠�

Judul: “The University of Genoa’s condolences”

Waktu unggah: 14 Mei 2026.

7. instagram.com⁠

Konten: Reels #TirtoDaily terkait tragedi diving Maladewa.

Waktu unggah: 16 Mei 2026.

8. NOAA Diving Manual — literatur keselamatan penyelaman laut dalam.

9. PADI Deep Diving Safety Guidelines — panduan technical diving dan deep diving.

10. Divers Alert Network (DAN Europe) — literatur hiperoksia, decompression sickness, dan keselamatan cave diving.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Related posts