SURABAYA, Headlinejatim.com – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Surabaya mencatat terobosan dalam pembelajaran kitab kuning. Melalui Program Cepat Baca Kitab Kuning dengan Metode Muyassaroh, puluhan siswa mampu menguasai dasar membaca kitab klasik hanya dalam waktu sekitar dua pekan.
Dalam uji publik yang digelar di lingkungan madrasah, sebanyak 25 siswa dinyatakan lulus dengan predikat Mumtaz (istimewa). Hasil ini menjadi perhatian karena kemampuan membaca kitab kuning umumnya membutuhkan waktu relatif lama di lingkungan pesantren.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, Muhammad Muslim, yang hadir sebagai penguji, menyampaikan apresiasinya terhadap capaian tersebut.
“Saya sangat puas dengan hasil uji publik hari ini. Sebanyak 25 siswa-siswi lulus dengan predikat Mumtaz. Ini menunjukkan kualitas mereka benar-benar mumpuni,” ujarnya.
Menurutnya, metode yang diterapkan mampu mempercepat proses pembelajaran secara signifikan. Dalam 15 hingga 16 kali pertemuan, para siswa sudah mampu membaca kitab kuning dengan baik.
“Biasanya membutuhkan waktu lama, tetapi melalui program ini bisa dicapai dalam waktu singkat. Ini capaian yang luar biasa,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala MAN Kota Surabaya, Fathorrakhman, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan angkatan kedua yang diselenggarakan pihak madrasah. Pelatihan intensif dilakukan selama 15 hari pada bulan Ramadan.
“Karena padatnya agenda Ramadan, uji publik baru bisa dilaksanakan saat ini. Namun hasilnya sesuai harapan,” jelasnya.
Dalam uji publik tersebut, siswa tidak hanya diuji oleh pihak internal, tetapi juga melibatkan penguji eksternal guna menjaga objektivitas. Penguji berasal dari unsur pembimbing Pondok Pesantren Dalwa, Kementerian Agama Kota Surabaya, Kepala KUA setempat, serta perwakilan wali murid.
Materi yang diuji meliputi kelancaran membaca kitab, ketepatan i’rab (tata bahasa Arab), serta pemahaman isi.
“Alhamdulillah, seluruh peserta mampu melewati tahapan dengan baik,” tegas Fathorrakhman.
Ke depan, MAN Kota Surabaya berencana mengembangkan program tersebut dengan menambah jumlah kelas agar lebih banyak siswa dapat mengikuti, dengan tetap menjaga kualitas pembelajaran.
Program ini menjadi salah satu upaya inovatif dalam memperkuat literasi keislaman siswa, sekaligus menunjukkan bahwa pembelajaran kitab kuning dapat dilakukan secara lebih efektif dan terstruktur.






