BANYUWANGI, HeadlineJatim.com- Laboratorium Lingkungan milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi kembali mencatat capaian penting di tingkat nasional. Laboratorium tersebut kini resmi mengantongi akreditasi ISO/IEC 17043:2023 dari Komite Akreditasi Nasional (KAN), standar internasional yang menjadi acuan bagi lembaga penyelenggara uji profisiensi atau uji banding laboratorium.
Dengan capaian tersebut, Laboratorium Lingkungan DLH Banyuwangi kini masuk dalam jajaran laboratorium penyelenggara uji profisiensi terakreditasi di Indonesia. Akreditasi ini memperkuat peran laboratorium daerah dalam menjamin mutu hasil pengujian lingkungan sekaligus mendukung peningkatan kompetensi laboratorium lain.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Banyuwangi Bayu Hadiyanto mengatakan, pencapaian tersebut merupakan hasil pengembangan laboratorium yang dilakukan secara konsisten selama bertahun-tahun.
Menurut Bayu, sebelum memperoleh ISO/IEC 17043:2023, Laboratorium Lingkungan DLH Banyuwangi telah lebih dulu mengantongi akreditasi ISO/IEC 17025:2017 serta memperoleh pengakuan internasional melalui sertifikasi ILAC-MRA.
“ISO 17043:2023 ini diperuntukkan bagi laboratorium penyelenggara uji profisiensi dan uji banding. Belum banyak laboratorium pemerintah daerah yang masuk ke ranah ini. Kami melihat kebutuhan tersebut cukup besar sehingga Banyuwangi berupaya mengambil peran dalam penguatan mutu laboratorium,” ujar Bayu, Rabu (3/6/2026).
Bayu menjelaskan, keberadaan penyelenggara uji profisiensi memiliki fungsi penting dalam menjaga kualitas hasil pengujian laboratorium. Melalui program tersebut, laboratorium dapat mengukur kemampuan teknisnya dengan membandingkan hasil pengujian terhadap laboratorium lain secara objektif.
“Uji profisiensi menjadi salah satu instrumen untuk memastikan hasil laboratorium tetap valid, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan. Ini bukan sekadar formalitas akreditasi, tetapi menyangkut kepercayaan terhadap data yang dihasilkan laboratorium,” katanya.
Menurut Bayu, akreditasi tersebut juga membuka peluang bagi DLH Banyuwangi untuk memberikan rekomendasi dan pendampingan kepada laboratorium lain yang sedang berproses memperoleh atau mempertahankan akreditasi dari KAN.
“Kami siap berbagi pengalaman kepada laboratorium lain. Pengalaman membangun sistem mutu selama bertahun-tahun tentu bisa menjadi bahan pembelajaran bersama,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa capaian tersebut bukan hanya menjadi kebanggaan daerah, melainkan juga bagian dari kontribusi Banyuwangi dalam meningkatkan kualitas laboratorium lingkungan di Indonesia.
“Harapannya semakin banyak laboratorium yang terakreditasi dan memiliki sistem mutu yang baik. Karena pada akhirnya yang diuntungkan adalah masyarakat melalui data lingkungan yang lebih akurat dan terpercaya,” tambah Bayu.
Sementara itu, Kepala UPTD Laboratorium Lingkungan DLH Banyuwangi Ivan Candra mengatakan akreditasi ISO/IEC 17043:2023 menjadi langkah strategis untuk memperluas fungsi laboratorium di luar layanan pengujian rutin.
Menurut Ivan, saat ini kebutuhan terhadap hasil pengujian yang akurat semakin meningkat, baik untuk kebutuhan pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat.
“Kami ingin laboratorium ini tidak hanya menjadi tempat pengujian sampel, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran dan penguatan mutu laboratorium lingkungan,” kata Ivan.
Ia menjelaskan, Laboratorium Lingkungan DLH Banyuwangi saat ini memiliki ratusan parameter pengujian terakreditasi yang mencakup kualitas air, udara, limbah, tanah hingga kebisingan.
“Kami terus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, peralatan, serta sistem mutu agar hasil yang dikeluarkan benar-benar dapat dipercaya dan memenuhi standar nasional maupun internasional,” ujarnya.
Ivan menambahkan, laboratorium milik DLH Banyuwangi juga melayani berbagai kebutuhan pengujian dari sektor swasta. Salah satunya pengujian parameter logam dan kualitas lingkungan yang menjadi bagian dari pemenuhan baku mutu lingkungan hidup.
“Kehadiran laboratorium pemerintah yang kuat sangat penting. Di tengah kebutuhan pengujian yang terus meningkat, masyarakat dan pelaku usaha membutuhkan hasil laboratorium yang independen, akurat, dan memiliki legitimasi ilmiah,” jelasnya.
Menurut Ivan, capaian tersebut menjadi motivasi bagi seluruh jajaran laboratorium untuk terus melakukan inovasi dan pengembangan layanan.
“Kami ingin Banyuwangi menjadi salah satu pusat rujukan laboratorium lingkungan di Indonesia. Bukan hanya dari sisi fasilitas, tetapi juga dari kualitas layanan dan kompetensi yang dimiliki,” pungkasnya.






