Anak Pedagang Berdarah Madura Raih Gelar Dokter, Benta Patahkan Stigma Dunia Kedokteran

SURABAYA, Headlinejatim.com — Kisah perjuangan Benta Malika El Ghameela menjadi perhatian dalam prosesi pengambilan sumpah dokter di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. Gadis asal Bangkalan, Madura, itu resmi menyandang gelar dokter setelah menempuh perjalanan panjang dari keluarga sederhana berlatar belakang pedagang kecil.

Benta menjadi dokter pertama di keluarga besarnya. Di tengah anggapan bahwa pendidikan kedokteran identik dengan keluarga dokter atau kelompok ekonomi mapan, perjuangannya disebut menjadi simbol bahwa akses pendidikan tinggi dapat diraih melalui kerja keras, dukungan keluarga, dan ketekunan belajar.

Read More

Dalam prosesi sumpah dokter yang digelar Kamis, 21 Mei 2026, sebanyak 16 dokter baru dilantik oleh Unusa. Berdasarkan keterangan kampus dan sejumlah laporan media regional, sekitar 84 persen lulusan berasal dari keluarga non-dokter.

Benta menceritakan, keinginannya menjadi dokter muncul sejak kecil ketika melihat sang kakek rutin menjalani cuci darah akibat komplikasi diabetes dan gangguan ginjal. Pengalaman itu membuatnya ingin mempelajari dunia medis agar dapat membantu keluarga sendiri.

“Waktu itu saya berpikir, kalau saya jadi dokter, mungkin saya bisa merawat keluarga saya sendiri,” ujar Benta dalam sejumlah pemberitaan media.

Cita-cita tersebut terus ia bawa hingga menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya. Dalam setiap surat ulang tahun kepada kedua orang tuanya, Benta selalu menuliskan kalimat yang sama: “Dari putri cantik kalian, dokter Benta.” Kalimat itu kemudian disimpan oleh orang tuanya sebagai bentuk doa dan harapan keluarga.

Namun perjalanan menuju dunia kedokteran tidak berjalan mudah. Kedua orang tuanya diketahui menjalankan usaha fotokopi dan percetakan kecil di Madura. Saat pandemi Covid-19 melanda, usaha keluarga hampir berhenti total akibat sekolah dan perkantoran tutup.

Dalam kondisi ekonomi yang menurun, Benta sempat khawatir tidak mampu melanjutkan kuliah kedokteran. Namun kedua orang tuanya memilih bertahan dengan beralih berjualan pakaian demi memastikan pendidikan anaknya tetap berjalan.

“Orang tua saya tidak pernah bilang kalau mereka kesulitan. Mereka Cuma bilang, ‘Kamu belajar saja. Soal biaya, Mama dan Abah usahakan,’” kata Benta.

Selain tantangan ekonomi, Benta juga mengaku sempat mengalami rasa minder ketika memasuki lingkungan pendidikan kedokteran karena bukan berasal dari keluarga dokter maupun kalangan berada.

Ia menyebut sebagian mahasiswa kedokteran telah memiliki gambaran dunia medis sejak kecil karena berasal dari lingkungan keluarga dokter. Sementara dirinya harus belajar dari nol mengenai ritme pendidikan kedokteran dan profesi medis.

Meski demikian, Benta memilih aktif berorganisasi dan memperluas relasi selama kuliah untuk membangun kepercayaan diri. Saat menjalani koas atau pendidikan profesi dokter, ia juga menghadapi tekanan mental berupa jadwal panjang, tugas medis, hingga dinamika pelayanan pasien.

Di tengah proses tersebut, terdapat satu ritual yang tidak pernah ditinggalkan keluarganya. Setiap kali menghadapi ujian, Benta selalu mengirim pesan kepada ibunya berisi nama penguji, jadwal, dan lokasi ujian. Setelah itu, sang ibu membaca Surah Yasin hingga putrinya menyelesaikan ujian.

“Kalau saya sudah chat, ‘Ma, sudah selesai,’ baru Mama berhenti,” kenangnya. Bagi Benta, doa sang ibu menjadi “jimat” terbesar selama menjalani pendidikan dokter.

Dekan Fakultas Kedokteran Unusa, Budi Santoso, dalam keterangannya mengatakan profesi dokter selama ini memang sering dipersepsikan sebagai profesi eksklusif yang lebih mudah diakses keluarga dokter karena faktor biaya pendidikan dan lingkungan belajar. Namun menurutnya, akses tersebut tetap terbuka bagi siapa saja yang memiliki kemampuan dan tekad kuat.

Sementara itu, Rektor Unusa, Tri Yogi Yuwono, menegaskan hadirnya mayoritas dokter baru dari keluarga non-dokter menjadi bagian dari komitmen kampus dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang lebih inklusif dan berkeadilan sosial.

“Hadirnya mayoritas dokter dari keluarga non-dokter adalah bukti nyata bahwa pendidikan tinggi, termasuk kedokteran, tidak boleh eksklusif,” ujar Tri Yogi Yuwono dalam keterangan kampus dan media.

Kini setelah resmi menyandang gelar dokter, Benta mengaku ingin melanjutkan pendidikan sebagai dokter spesialis bedah dan kembali mengabdi di Madura yang dinilai masih membutuhkan tenaga dokter spesialis.

Perjalanan Benta memperlihatkan bahwa gelar dokter tidak selalu lahir dari privilese besar. Di balik toga dan sumpah profesi yang diucapkan, terdapat perjuangan keluarga kecil, pengorbanan orang tua, dan doa yang terus dipanjatkan dalam diam.

Sumber Data dan Referensi Penunjang

1. Beritabangsa.id – “Dokter Pertama di Keluarga, Perjalanan Panjang Benta Malika dari Madura ke Unusa” (https://beritabangsa.id/2026/05/22/dokter-pertama-di-keluarga-perjalanan-panjang-benta-malika-dari-madura-ke-unusa/?utm_source=chatgpt.com) | Dipublikasikan 22 Mei 2026.

2. RRI Surabaya – “84 Persen Dokter Baru Unusa Bukan Keluarga Dokter” (https://rri.co.id/surabaya/regional/2431587/84-persen-dokter-baru-unusa-bukan-keluarga-dokter?utm_source=chatgpt.com) | Dipublikasikan 21 Mei 2026.

3. Ranbitv.com – “84 Persen Dokter Baru Lulusan Unusa Berasal dari Keluarga Non-Dokter” (https://ranbitv.com/2026/05/21/84-persen-dokter-baru-lulusan-unusa-berasal-dari-keluarga-non-dokter/?utm_source=chatgpt.com) | Dipublikasikan 21 Mei 2026.

4. Klikku.id – “Patahkan Mitos ‘Darah Biru’, Mayoritas Dokter Baru Unusa Ternyata Anak Non-Dokter” (https://klikku.id/2026/05/21/patahkan-mitos-darah-biru-mayoritas-dokter-baru-unusa-ternyata-anak-non-dokter/?utm_source=chatgpt.com) | Dipublikasikan 21 Mei 2026.

5. Beritabangsa.id – “Unusa Lantik 16 Dokter Baru, Mayoritas dari Keluarga Non-Dokter” (https://beritabangsa.id/2026/05/21/unusa-lantik-16-dokter-baru-mayoritas-dari-keluarga-non-dokter/?utm_source=chatgpt.com) | Dipublikasikan 21 Mei 2026.

6. Instagram Jawapos, (https://www.instagram.com/p/DYlfJxyify3/?utm_source=chatgpt.com) | Unggahan media sosial terkait pengambilan sumpah dokter dan kisah Benta Malika El Ghameela.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Related posts