Waspada Hantavirus, Dosen FKK ITS Ingatkan Ancaman Penularannya

SURABAYA, HeadlineJatim.com — Dunia internasional tengah dikejutkan dengan munculnya kasus Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius. Hingga 4 Mei 2026, tujuh penumpang dilaporkan mengalami gangguan pernapasan akut, bahkan ada yang meninggal dunia. Di Indonesia sendiri, tercatat sebanyak 23 kasus pada manusia sejak tahun 2024, yang menuntut kewaspadaan ekstra terhadap penyakit zoonosis ini.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Zulistian Nurul Hidayati dr SpPD, mengingatkan masyarakat untuk mengenali karakteristik penularan virus yang dibawa oleh hewan pengerat ini.

Read More

“Manusia dapat terinfeksi melalui udara dengan terhirupnya partikel pada kotoran tikus, serta melalui kontak langsung dengan hewan tersebut,” ungkap dr. Zulistian yang juga merupakan dokter Spesialis Penyakit Dalam tersebut.

Waspadai Gejala Mirip Flu dan Penurunan Kondisi Mendadak

dr Zulistian Nurul Hidayati SPPD tanggapi ramainya wabah Hantavirus.(Foto: Istimewa)

Dokter Zulistian menjelaskan bahwa tantangan utama dalam menghadapi Hantavirus adalah sulitnya identifikasi awal. Hal ini dikarenakan indikasi awal terpapar virus cenderung umum dan menyerupai gejala flu pada umumnya.

“Oleh karena itu, diagnosis tidak bisa hanya berdasarkan gejala klinis saja. Perlu adanya pemeriksaan diagnostik penunjang di laboratorium untuk memastikannya,” terangnya.

Meskipun gejala awal bersifat umum seperti demam, batuk, flu, dan nyeri otot, masyarakat diminta waspada jika terjadi penurunan kondisi kesehatan secara mendadak. Hal ini ditandai dengan munculnya kegagalan respirasi atau gangguan pernapasan yang berat.

Dua Dampak Serius: Gangguan Paru dan Ginjal

Paparan Hantavirus dapat berujung pada dua kondisi medis yang fatal, yaitu:

  1. Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS): Menyebabkan gangguan pernapasan akut yang mematikan.
  2. Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS): Gejala demam berdarah yang disertai dengan gangguan ginjal akut.

Hingga saat ini, teridentifikasi lebih dari 40 varian Hantavirus, di mana 20 di antaranya bersifat patogenik atau dapat menular ke manusia. Risiko persebaran ini sangat tinggi di wilayah pemukiman padat penduduk dengan sanitasi yang buruk.

Langkah Pencegahan di Lingkungan Rumah

Berbeda dengan COVID-19 yang persebarannya sangat masif antar-manusia, persebaran Hantavirus lebih bergantung pada populasi tikus di lingkungan. Oleh karena itu, dr. Zulistian menekankan pentingnya langkah preventif berupa peningkatan sanitasi rumah.

“Masyarakat perlu melakukan sterilisasi lingkungan. Gunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi menjadi sarang tikus agar terhindar dari kontak langsung dengan kotorannya,” pungkasnya.

Related posts