SURABAYA, HeadlineJatim.com — Semangat mewujudkan sungai yang bersih dan asri terus digelorakan warga Surabaya Utara. Komunitas Pemuda Kali Tebu (Pekat) bersama Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) menggelar aksi ekskavasi sampah plastik secara masif di aliran Kali Tebu, Surabaya, Senin (11/5/2026).
Aksi bertajuk “Kali Tebu Moncer” ini melibatkan 25 relawan muda dari berbagai universitas, termasuk mahasiswa Ilmu Kelautan Uinsa dan Biologi Unesa. Tujuannya satu: mengubah Kali Tebu yang semula tercemar menjadi sarana wisata yang bersih bagi masyarakat.
Ketua Pekat, Muhammad Isomudin, menyatakan bahwa gerakan ini merupakan panggilan jiwa sebagai warga Surabaya untuk menghentikan aliran sampah plastik ke laut.
“Kami ingin Kali Tebu Moncer, menjadi sungai yang bersih dan bisa jadi sarana wisata. Kami melakukan proses penirisan dan evakuasi sampah hasil tangkapan dari alat penjaring ‘Barakuda’ yang dipasang sejak Minggu lalu,” ungkap Isomudin di sela kegiatan evakuasi di kawasan Platuk Donomulyo Utara, Kelurahan Sidotopo Wetan.
Aksi nyata komunitas ini mendapat apresiasi langsung dari Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, M. Fikser. Ia turun langsung meninjau proses evakuasi sampah dan mengakui bahwa persoalan sampah sungai adalah masalah struktural.
“Upaya penjaringan sampah menggunakan Barakuda ini memperlihatkan secara nyata volume sampah plastik di sungai perkotaan. Pemerintah Kota akan menindaklanjuti gerakan komunitas ini menjadi kebijakan jangka panjang,” tegas Fikser.
Langkah konkret yang sedang disiapkan Pemkot Surabaya antara lain pemasangan penahan sampah di setiap RW yang dilintasi aliran Kali Tebu. Hal ini dilakukan agar pengawasan lebih mudah dan tidak terjadi saling tuduh antara warga hulu dan hilir.
“Kami juga mendorong penyusunan Peraturan Wali Kota (Perwali) terkait pengelolaan dan perlindungan Kali Tebu sebagai payung hukum pengendalian pencemaran,” imbuhnya.
Dominasi Sampah Plastik dan Temuan Mikroplastik
Berdasarkan data tim Pekat, sampah yang dievakuasi didominasi oleh plastik sekali pakai, styrofoam, dan limbah rumah tangga. Manajer Program MOZAIK, Amiruddin Muttaqin, menjelaskan bahwa alat Barakuda akan dipasang secara permanen dengan penirisan rutin setiap dua hari sekali.
“Setelah penirisan, kami akan melakukan brand audit di TPS3R Kedung Cowek untuk mengidentifikasi produsen sampah plastik tersebut sebagai bagian dari edukasi dan advokasi kebijakan,” jelas Amir.
Kondisi ini memicu keprihatinan para relawan mahasiswa. Ladya Dwi Kurnia Putri, mahasiswa Biologi Unesa, mengajak warga di sepanjang bantaran sungai untuk berhenti membuang sampah ke aliran air.
Senada dengan itu, Muhammad Rofiul Ihsan, mahasiswa Biologi Unesa lainnya, mengingatkan risiko kesehatan yang mengintai. “Kali Tebu kini telah tercemar mikroplastik. Pemerintah harus menyediakan sarana tempat sampah yang memadai agar masyarakat lebih menghargai sungai dan tidak menganggapnya sebagai saluran pembuangan terbuka,” pungkasnya.






