Doktor ITS Kembangkan Rantai Pasok Halal Berbasis Blockchain dan IoT

Dr Miftakhurrizal Kurniawan ST MT saat memaparkan disertasinya dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor di Departemen Teknik Sistem dan Industri ITS.(Humas ITS)

SURABAYA, HeadlineJatim.com — Inovasi mutakhir di bidang pangan kembali lahir dari rahim Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Dr. Miftakhurrizal Kurniawan, S.T., M.T., lulusan Doktor Departemen Teknik Sistem dan Industri (DTSI) ITS, berhasil mengembangkan model ketelusuran rantai pasok halal berbasis teknologi blockchain dan Internet of Things (IoT).

Read More

​Riset ini hadir sebagai solusi atas keterbatasan sistem ketelusuran pangan konvensional yang dinilai masih minim efisiensi dan akurasi data. Kondisi tersebut selama ini dianggap berisiko tinggi terhadap keamanan pangan serta dapat menurunkan kepercayaan konsumen.

​Miftakh menjelaskan bahwa jaminan kehalalan dan keamanan produk harus terpantau ketat dari hulu hingga hilir. Dengan sistem yang terintegrasi, pelaku industri dapat melacak asal-usul produk secara instan.

​“Sistem ketelusuran yang baik memungkinkan pelaku industri melacak asal produk serta mengidentifikasi potensi risiko secara lebih cepat dan tepat,” ujar Miftakh saat ditemui di Surabaya, Selasa (28/4/2026).

​Dalam model yang dikembangkannya, teknologi blockchain berfungsi sebagai sistem penyimpanan data permanen yang tidak dapat dimanipulasi (tamper-proof). Sementara itu, perangkat IoT berperan mengumpulkan data kondisi produk di lapangan secara real-time melalui sensor otomatis.

​Dosen Teknik Industri Universitas Brawijaya ini menggunakan pendekatan sistem dinamik untuk memodelkan kompleksitas rantai pasok. Pendekatan tersebut mampu menggambarkan hubungan antarvariabel secara menyeluruh sehingga simulasi yang dihasilkan sangat representatif terhadap kondisi nyata.

​Hasil penelitian ini menunjukkan performa yang impresif. Penerapan model berbasis blockchain dan IoT terbukti mampu meningkatkan ketersediaan pangan sebesar 5 persen. Selain itu, inovasi ini juga berhasil menekan angka limbah pangan (food waste) di tingkat konsumen hingga 3 persen.

​“Transparansi data adalah kunci untuk membangun kepercayaan konsumen terhadap produk halal dan aman di pasar global maupun domestik,” tambah Miftakh.

​Inovasi ini juga mendukung target global Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada poin ketahanan pangan serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Miftakh berharap model rantai pasok cerdas ini dapat segera diimplementasikan secara luas oleh industri pangan di Indonesia demi mewujudkan ekosistem pangan yang lebih mandiri dan terpercaya.

Related posts