GRESIK, HeadlineJatim.com – Industri manufaktur dan sektor berat seperti semen sering kali diidentikkan sebagai “dunia laki-laki”. Namun, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) membuktikan bahwa batasan tersebut kini telah memudar berkat budaya kerja yang inklusif dan berbasis kompetensi.
Direktur Operasi SIG, Reni Wulandari, sosok perempuan yang telah berkecimpung lebih dari 25 tahun di industri semen, menegaskan bahwa kunci keberhasilan perempuan di sektor ini bukanlah melalui perdebatan mengenai gender, melainkan melalui pembuktian kinerja dan profesionalisme.
“Sebagai bagian dari minoritas gender, saya tidak mengalami kendala berarti dalam menjalankan perubahan untuk mendukung kinerja operasi SIG. Ini membuktikan bahwa kesetaraan gender di SIG bukan sekadar slogan, melainkan telah terimplementasi di seluruh lini,” ujar Reni.
Reni, yang menjabat sebagai Direktur Operasi SIG sejak April 2023, menjelaskan bahwa ia menerapkan pendekatan Visible-Felt Leadership. Baginya, kehadiran pemimpin di area operasi yang didominasi laki-laki sangat penting untuk memberikan arahan, membangun interaksi langsung, dan memastikan standar operasional terjaga dengan baik.
Peraih penghargaan The Most Extraordinary Women Business Leaders 2024 ini menekankan bahwa keberagaman perspektif justru menjadi aset berharga bagi perusahaan. Menurutnya, kesetaraan gender mampu mendorong peningkatan profitabilitas, inovasi, dan produktivitas organisasi.
“Bukan melalui argumentasi, tetapi dengan menunjukkan bahwa keberagaman perspektif mampu memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Fokus pada kompetensi, kualifikasi, dan kinerja akan menjadi keunggulan utama bagi organisasi mana pun,” tegas alumnus Teknik Kimia Universitas Diponegoro tersebut.
Langkah Reni didukung penuh oleh kebijakan perusahaan. Direktur Human Capital SIG, Hadi Setiadi, menjelaskan bahwa SIG menerapkan Fair Employment Opportunity Policy yang menjamin hak yang sama bagi seluruh karyawan tanpa diskriminasi.
“Kami memastikan proses rekrutmen hingga seleksi jabatan senior dilakukan secara transparan berdasarkan kompetensi. Tidak ada ruang bagi diskriminasi gender di SIG,” ungkap Hadi.
Sebagai wujud dukungan nyata, perusahaan menyediakan berbagai fasilitas penunjang bagi karyawan perempuan, mulai dari cuti melahirkan hingga ruang laktasi. Selain itu, terdapat komunitas internal ‘Srikandi SIG’ yang menjadi wadah pengembangan talenta perempuan.
Untuk memastikan lingkungan kerja yang aman dan produktif, SIG secara konsisten menerapkan Respectful Workplace Policy untuk melindungi seluruh insan perusahaan dari segala bentuk pelecehan dan kekerasan.
Melalui sinergi antara kepemimpinan perempuan yang tangguh dan kebijakan perusahaan yang inklusif, SIG terus memperkuat posisinya sebagai penyedia solusi bahan bangunan terdepan yang tidak hanya mengutamakan keberlanjutan bisnis, tetapi juga keberlanjutan sumber daya manusia yang setara.






