BANYUWANGI, HeadlineJatim.com– Kabupaten Banyuwangi kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Memasuki masa panen raya padi musim tanam pertama (MT1) periode Januari-Maret 2026, produksi padi di wilayah ini mencapai 160.239 ton.
Panen tersebut berasal dari total luas lahan sekitar 24.652 hektare yang tersebar di hampir seluruh kecamatan di Banyuwangi, termasuk salah satunya di wilayah Glenmore.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengungkapkan rasa syukur atas capaian tersebut. Ia menyebut hasil panen petani tahun ini tergolong baik dan menjadi bukti kuat sektor pertanian tetap menjadi penopang utama daerah.
“Alhamdulillah, kami bersyukur Banyuwangi menjadi salah satu daerah lumbung pangan nasional. Hasil panen para petani juga baik,” ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi Danang Hartanto menjelaskan, produktivitas padi di Banyuwangi rata-rata mencapai 6,8 hingga 7 ton per hektare.
“Produktivitas ini merata di berbagai wilayah. Kami terus mendorong peningkatan hasil panen melalui berbagai program pendampingan dan optimalisasi lahan,” jelasnya.
Menurut Danang, capaian tersebut sejalan dengan tren produksi padi Banyuwangi yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2025 lalu, total produksi beras daerah tercatat mencapai 546.923 ton.
Dari jumlah tersebut, Banyuwangi mencatat surplus sebesar 383.258 ton setelah dikurangi kebutuhan konsumsi masyarakat.
“Kami optimistis tahun ini Banyuwangi kembali mengalami surplus. Tren produksi selama ini memang selalu menunjukkan surplus setiap tahunnya,” tambahnya.
Pemerintah daerah pun terus berupaya menjaga stabilitas produksi, mulai dari peningkatan kualitas benih, penguatan irigasi, hingga pendampingan petani dalam menghadapi perubahan iklim.
Dengan capaian ini, Banyuwangi tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan daerah, tetapi juga berkontribusi dalam menjaga ketahanan pangan nasional.






