JAKARTA, HeadlineJatim.com – Dua peristiwa berdarah yang terjadi hampir bersamaan di kawasan timur Indonesia memicu respons cepat aparat keamanan. Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) langsung mengerahkan ratusan personel ke Papua Tengah dan memperkuat pengamanan di Maluku Utara guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.
Langkah ini diambil setelah konflik horizontal antarwarga di Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, dan aksi kekerasan terhadap anggota Polri di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, sama-sama menelan korban jiwa.
Di Halmahera Tengah, konflik dipicu dugaan pembunuhan seorang warga di Desa Bobane Jaya yang kemudian memicu aksi balasan dari warga. Bentrokan antara warga Desa Bobane Jaya dan Desa Sibenpopo tak terhindarkan, menyebabkan korban jiwa serta kerusakan sejumlah rumah, fasilitas umum, hingga satu tempat ibadah.
Aparat gabungan TNI-Polri bersama pemerintah daerah bergerak cepat meredam situasi. Hingga Jumat sore, kondisi di lokasi dilaporkan mulai berangsur kondusif, meski potensi konflik susulan masih diantisipasi.
Sementara itu, situasi berbeda namun sama seriusnya terjadi di Papua Tengah. Seorang anggota Polri, Bripda Juventus Edowai, tewas setelah menjadi korban penganiayaan oleh orang tak dikenal di Kabupaten Dogiyai. Peristiwa ini mempertegas tingginya risiko keamanan di wilayah tersebut.
Merespons dua kejadian tersebut, Polri menyiapkan total 148 personel gabungan untuk diterjunkan ke Papua Tengah. Kekuatan itu terdiri dari 100 personel Brimob, 20 personel Bareskrim, 10 personel BIK, serta dukungan dari Divpropam dan Itwasum.
Seluruh personel dijadwalkan berangkat pada Minggu (5/4/2026) pukul 01.00 WIB menuju Nabire menggunakan maskapai komersial.
Sementara untuk Maluku Utara, penguatan dilakukan dengan mengirim 12 personel Divpropam yang telah diberangkatkan lebih awal menggunakan pesawat Beechcraft. Tim tambahan dari Itwasum juga disiapkan untuk mendukung pengawasan dan penanganan situasi di lapangan.
Pengecekan kesiapan pasukan dilakukan langsung oleh Wakapolri di Mako Brimob pada Sabtu (4/4/2026), menandakan operasi ini menjadi perhatian serius pimpinan Polri.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divhumas Polri, Trunoyudo Wisnu Andiko, menegaskan bahwa pengerahan ini merupakan langkah cepat untuk memastikan stabilitas keamanan tetap terjaga.
“Polri merespons cepat setiap dinamika yang terjadi. Kami mengedepankan pendekatan humanis, namun tetap tegas dalam penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, terutama yang beredar di media sosial.
“Kami mengajak masyarakat tetap tenang dan bersama-sama menjaga situasi kamtibmas tetap kondusif,” tambahnya.
Saat ini, penyelidikan terhadap kasus pembunuhan di Halmahera Tengah maupun penyerangan terhadap anggota Polri di Dogiyai masih terus berlangsung.
Pengerahan pasukan ini menjadi sinyal bahwa aparat tidak ingin memberi ruang bagi konflik lokal berkembang menjadi krisis keamanan yang lebih besar, terutama di wilayah dengan kerentanan sosial yang tinggi.






