Foto dibuat menggunakan Artificial Intelligence (AI).
Surabaya, HeadlineJatim.com – Mendaki gunung bukan sekadar soal siapa yang paling kuat atau cepat mencapai puncak. Aktivitas ini merupakan latihan kesabaran, manajemen risiko, serta kemampuan membaca diri sendiri. Bagi pendaki pemula, belajar dari pengalaman para senior adalah langkah paling masuk akal agar hobi ini tetap aman dan menyenangkan.
Sejumlah tokoh pendakian Indonesia menekankan bahwa gunung tidak pernah bisa ditaklukkan. Manusia hanya bisa mempersiapkan diri sebaik mungkin agar perjalanan berjalan lancar dan pulang dengan selamat.
Persiapan Fisik dan Mental
Pendaki senior sekaligus anggota Wanadri, Galih Donikara, menegaskan bahwa persiapan fisik bukanlah formalitas semata. Menurutnya, latihan sebelum mendaki adalah bentuk tanggung jawab moral terhadap diri sendiri dan alam.
Latihan sederhana seperti joging rutin, melatih pernapasan, serta memperkuat otot kaki sangat disarankan bagi pemula. Latihan ini sebaiknya dilakukan secara konsisten, minimal dua minggu sebelum pendakian.
“Prinsipnya sederhana, gunung tidak ke mana-mana. Tidak ada alasan memaksakan diri saat tubuh belum siap,” tegas Galih. Logika mendaki yang sering disampaikan para senior adalah memastikan semua anggota tim bisa kembali dengan selamat, bukan sekadar mencari sensasi.
Manajemen Peralatan dan Perlengkapan
Berdasarkan buku Panduan Teknis Pendakian Gunung Manajemen Peralatan dan Navigasi Darat karya Hendri Agustin (2006), memilih perlengkapan yang sesuai sangatlah krusial. Secara umum, terdapat tiga ketentuan dasar dalam memilih alat: performance (performa), ketahanan, dan bobotnya.
Untuk mempermudah persiapan, sebaiknya kelompokkan perlengkapan menjadi beberapa kategori:
- Pakaian: Gunakan sistem lapisan (layering).
- Alas Kaki: Sepatu gunung yang kokoh (model boots sangat disarankan).
- Membawa Beban: Ransel atau carrier yang sesuai postur tubuh dan durasi perjalanan.
Untuk kebutuhan istirahat, pendaki wajib membawa tenda berkelambu ganda agar terhindar dari udara dingin, sleeping bag, serta matras. Penerangan berupa headlamp beserta baterai cadangan juga menjadi barang krusial yang tidak boleh tertinggal.
Selain itu, bawa peralatan masak portabel, set nesting multifungsi, jas hujan, kotak P3K, serta alat navigasi. Sangat tidak disarankan bagi pemula menggunakan sandal saat mendaki demi meminimalkan risiko cedera.
Etika Mendaki: Leave No Trace
Selain fisik dan alat, etika adalah fondasi utama. Prinsip Leave No Trace (Tanpa Jejak) telah menjadi standar internasional di hampir seluruh Taman Nasional di Indonesia. Artinya, pendaki dilarang meninggalkan dampak apa pun selain jejak langkah.
Pesan ini sejalan dengan pandangan Soe Hok Gie, aktivis sekaligus pendaki legendaris Indonesia. Gie melihat kecintaan pada alam sebagai bagian dari kecintaan pada tanah air.
Dalam praktiknya, etika mendaki berarti membawa turun seluruh sampah, tidak membuat jalur baru, dan mematuhi aturan kawasan konservasi. Hal sederhana ini menentukan keberlanjutan alam bagi generasi berikutnya.
Mendaki gunung pada akhirnya adalah proses belajar mengenali batas kemampuan dan menghormati alam. Dengan fisik yang prima, perlengkapan tepat, serta etika yang terjaga, pendakian pertama akan menjadi awal hubungan yang sehat antara manusia dan alam.






