Coelacanth Sulawesi, ‘Fosil Hidup’ yang Membuka Misteri Laut Dalam Indonesia

SURABAYA, Headlinejatim.com – Keberadaan Coelacanth Sulawesi (Latimeria menadoensis) kembali menjadi perhatian publik setelah sejumlah publikasi ilmiah internasional dan monitoring media sosial digital terbuka menyoroti spesies ikan laut dalam yang dikenal luas sebagai “fosil hidup” tersebut.

Monitoring ruang digital terbuka pada Mei 2026 menemukan unggahan akun Instagram resmi @gnfi milik media digital Good News From Indonesia yang memuat infografik mengenai coelacanth Indonesia. Unggahan tersebut menjelaskan sejarah penemuan spesies, habitat laut dalam, serta status konservasi ikan purba yang ditemukan di wilayah Indonesia timur.

Dalam unggahan itu disebutkan bahwa coelacanth selama puluhan tahun diyakini telah punah sejak sekitar 66 juta tahun lalu bersama berakhirnya era dinosaurus. Namun pada 1938, spesies kerabat coelacanth modern ditemukan kembali di Afrika Selatan oleh kurator museum Marjorie Courtenay-Latimer dan kemudian diteliti ahli iktiologi Afrika Selatan Prof. James Leonard Brierley Smith.

Publikasi digital tersebut juga menyebut spesies coelacanth Indonesia ditemukan di Manado, Sulawesi Utara, pada 1997 dan kemudian diklasifikasikan sebagai spesies berbeda dengan nama ilmiah Latimeria menadoensis.

Sesuai standar SOP KPI dan kaidah jurnalistik verifikatif, informasi media sosial tersebut diverifikasi silang menggunakan jurnal ilmiah, basis data konservasi internasional, dokumen institusi riset, dan referensi media kredibel.

Data ilmiah menunjukkan keberadaan Latimeria menadoensis memang telah diakui secara akademik internasional. Penelitian yang dipublikasikan Mark V. Erdmann, Roy Caldwell, dan tim peneliti internasional pada 1999 menjelaskan bahwa spesimen coelacanth Indonesia pertama kali ditemukan di Pasar Ikan Bersehati, Manado, Sulawesi Utara, pada September 1997.

Mark V. Erdmann dalam publikasi ilmiah tersebut menyebut penemuan coelacanth Indonesia menjadi salah satu temuan biologi laut paling penting pada akhir abad ke-20.

“The Indonesian coelacanth discovery represents one of the most significant marine biological findings of the century,” tulis Mark V. Erdmann dalam publikasi identifikasi Latimeria menadoensis tahun 1999.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan jurnal Scientific Reports milik Nature Portfolio tahun 2025 kembali memperkuat pentingnya perairan Indonesia timur sebagai habitat coelacanth dunia. Dalam publikasi berjudul First record of a living coelacanth from North Maluku, Indonesia, peneliti Alexis Chappuis bersama tim mendokumentasikan observasi langsung coelacanth hidup di perairan Maluku Utara menggunakan teknologi penyelaman laut dalam.

Alexis Chappuis dan tim menjelaskan observasi langsung terhadap coelacanth hidup sangat jarang terjadi karena spesies tersebut hidup di kawasan laut dalam yang sulit dijangkau manusia.

“Direct encounters with living coelacanths remain exceptionally rare,” tulis Alexis Chappuis dan tim dalam jurnal Scientific Reports tahun 2025.

Penelitian itu menyebut coelacanth Indonesia ditemukan pada kedalaman sekitar 145 meter di wilayah lereng vulkanik bawah laut Maluku Utara. Habitat tersebut dinilai memiliki kondisi lingkungan stabil, minim cahaya, dan kaya celah batuan yang menjadi tempat berlindung spesies laut dalam.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui publikasi “Koleksi Hayati BRIN: Ikan Purba dari Manado” yang dipublikasikan pada 18 Maret 2025 juga menempatkan Latimeria menadoensis sebagai salah satu spesimen biologis penting Indonesia dalam studi evolusi dan biodiversitas laut.

BRIN menjelaskan coelacanth termasuk kelompok ikan bersirip lobus (lobe-finned fish) yang memiliki hubungan evolusioner dengan nenek moyang vertebrata darat.

Monitoring media sosial digital terbuka selama Mei 2026 juga menemukan meningkatnya diskusi publik terkait istilah “living fossil” atau “fosil hidup” yang dilekatkan pada coelacanth. Namun sejumlah peneliti menegaskan istilah tersebut bukan kategori ilmiah resmi, melainkan istilah populer untuk menggambarkan organisme yang bentuk morfologinya relatif sedikit berubah dibanding nenek moyang purbanya dalam catatan fosil.

Selain bernilai ilmiah tinggi, keberadaan coelacanth Indonesia juga berkaitan dengan isu konservasi laut dalam. Data International Union for Conservation of Nature (IUCN) menempatkan Latimeria menadoensis dalam kategori Vulnerable atau rentan.

Spesies tersebut juga tercantum dalam Appendix I Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), yang berarti perdagangan internasionalnya dibatasi secara ketat dan hanya diperbolehkan untuk kepentingan tertentu seperti penelitian ilmiah.

Peneliti dan organisasi konservasi internasional menyebut ancaman terhadap habitat coelacanth dapat berasal dari aktivitas penangkapan ikan, degradasi ekosistem pesisir, perubahan iklim laut, hingga eksplorasi sumber daya laut dalam.

Fenomena viral coelacanth Indonesia di media sosial sekaligus memperlihatkan bagaimana ruang digital kini menjadi bagian penting dalam membangun perhatian publik terhadap biodiversitas dan konservasi lingkungan. Namun dalam standar jurnalistik investigatif dan SOP KPI, seluruh materi digital terbuka tetap harus diposisikan sebagai bahan monitoring narasi publik yang membutuhkan verifikasi berbasis data ilmiah dan dokumen resmi.

Di kedalaman laut Indonesia timur yang masih menyimpan banyak misteri biologis, coelacanth bukan sekadar spesies langka.

Ia menjadi penanda bahwa sebagian sejarah evolusi bumi masih hidup dan berenang di samudra Nusantara.

Daftar Pustaka dan Referensi Penunjang

Literatur Ilmiah dan Akademik

1. Mark V. Erdmann, Roy Caldwell dkk, publikasi identifikasi Latimeria menadoensis sebagai spesies coelacanth Indonesia, dipublikasikan tahun 1999.

2. Alexis Chappuis dkk, First record of a living coelacanth from North Maluku, Indonesia, jurnal Scientific Reports — Nature Portfolio, dipublikasikan tahun 2025.

3. FishBase, basis data spesies Latimeria menadoensis, diakses Mei 2026.

4. IUCN Red List of Threatened Species, data konservasi Latimeria menadoensis kategori Vulnerable, diakses Mei 2026.

Instansi dan Institusi

5. BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), publikasi “Koleksi Hayati BRIN: Ikan Purba dari Manado”, dipublikasikan 18 Maret 2025.

6. CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), Appendix I species database terkait coelacanth, diakses Mei 2026.

7. Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP RI), dokumentasi biodiversitas laut dalam Indonesia, diakses Mei 2026.

Referensi Media dan Monitoring Ruang Digital Terbuka

8. Akun Instagram resmi @gnfi (Good News From Indonesia), unggahan infografik “Coelacanth Sulawesi”, dimonitor Mei 2026.

9. Mongabay Indonesia, laporan konservasi coelacanth dan biodiversitas laut Indonesia timur, diakses Mei 2026.

10. Antara News, arsip pemberitaan penelitian Latimeria menadoensis dan biodiversitas Indonesia timur, diakses Mei 2026.

11. National Geographic Indonesia, dokumentasi biodiversitas laut dalam dan spesies purba Indonesia, diakses Mei 2026.

12. Dokumentasi visual bawah laut Alexis Chappuis / Scientific Reports terkait observasi coelacanth hidup di Maluku Utara tahun 2025.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Related posts