BATU, HeadlineJatim.com – Momentum peringatan Hari Bumi Sedunia yang jatuh pada 22 April 2026 menjadi titik balik penting bagi sektor pertanian di Kota Batu.
Guna menekan ketergantungan terhadap pupuk kimia yang harganya kian melambung, TPS3R desaJalibar Berseri, Desa Oro-Oro Ombo, berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu dan organisasi lingkungan hidup ECOTON menggelar sosialisasi bertajuk “Transformasi Sampah Organik Menjadi Nutrisi Pangan Organik”.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung TPS3R Jalibar Berseri ini diikuti oleh 30 peserta, mulai dari perwakilan Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN), perangkat desa, kader PKK, hingga praktisi lingkungan setempat.
Kepala Desa Oro-Oro Ombo, Wiweko, dalam sambutannya menekankan pentingnya transisi menuju pertanian organik.
“Kami telah menguji pemberian Pupuk Organik Cair (POC) kepada tanaman petani, dan hasilnya sangat positif bagi pertumbuhan tanaman. Harapannya, langkah ini mampu meringankan beban biaya produksi sekaligus menjaga kualitas tanah,” ujar Wiweko.
Di lokasi yang sama, Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan dan Pengelolaan Limbah B3 DLH Kota Batu, Endang Ari Setyoningsih, menyoroti potensi besar dari pemilahan sampah organik.
Selama ini, sampah organik di TPS3R sering kali hanya diolah menjadi kompos padat. Padahal, residu cair atau lindi yang dihasilkan memiliki nilai gizi tinggi bagi tanaman.
“Kota Batu adalah kota pertanian. Memanfaatkan POC sebagai alternatif pupuk organik adalah langkah inovatif untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia secara bertahap,” jelas Endang.
Ketua TPS3R Jalibar Berseri, Titik Setyowati, menambahkan bahwa edukasi ini bertujuan mengajak masyarakat lebih melek terhadap pengelolaan sampah dari sumbernya.
“Hasil dari sampah yang dipilah di sini telah saya gunakan sendiri untuk menanam sayur, dan hasilnya sangat baik. Hari ini kita ingin membuktikan bahwa sampah memiliki manfaat ekonomi dan ekologis bagi bumi,” tuturnya.
Acara ini menghadirkan dua pakar, yakni praktisi lingkungan Heru yang berbagi teknik pembuatan POC, serta Tonis Afrianto dari ECOTON yang mengedukasi masyarakat mengenai konsep Zero Waste Cities.
Tonis menekankan pentingnya pemilahan sampah dari rumah tangga serta penerapan sistem guna ulang (refill system) untuk menekan penggunaan plastik sekali pakai.
Respon positif datang dari salah satu petani peserta sosialisasi, Peteman. Menurutnya, pupuk organik cair adalah solusi praktis di tengah tingginya harga pupuk kimia. “Melalui pertemuan ini, kami akan saling ‘getok-tular’ kepada petani lain agar segera beralih menggunakan POC,” ungkapnya.
Sebagai bentuk komitmen nyata terhadap gerakan bebas sampah, seluruh rangkaian acara dilaksanakan tanpa menggunakan plastik sekali pakai. Peserta disuguhi konsumsi dengan sistem prasmanan menggunakan peralatan makan yang bisa dicuci ulang.
Perayaan ini pun ditutup dengan fashion show berbahan daur ulang dan lomba kreasi produk guna ulang yang melibatkan kader lingkungan setempat.






