Ketika Sains Mengamini Leluhur, Kearifan Nusantara Kian Terbukti Secara Ilmiah

SURABAYA, HeadlineJatim.com – Selama puluhan tahun, narasi besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern cenderung menempatkan tradisi sebagai sesuatu yang tertinggal, bahkan kerap dianggap tidak rasional. Namun, dalam dua dekade terakhir, gelombang riset global justru mulai membalik cara pandang tersebut.

Satu per satu, praktik yang diwariskan leluhur Nusantara kini mendapatkan validasi ilmiah. Apa yang dahulu disebut sebagai “rasa”, “tanda alam”, atau “petuah orang tua” kini diterjemahkan dalam bahasa sains sebagai sistem pengetahuan yang kompleks dan teruji.

Read More

Fenomena ini tidak hanya mengubah cara pandang terhadap budaya, tetapi juga membuka pertanyaan besar: apakah sains modern selama ini justru sedang “mengejar ketertinggalan” dari pengetahuan tradisional?

Langit yang “Berbicara”, Astronomi dalam Tradisi

Bagi masyarakat agraris dan maritim Nusantara, langit bukan sekadar bentangan kosong. Ia menjadi penunjuk arah, penentu musim, sekaligus penanda waktu kehidupan.

Dalam bahasa tradisi, langit kerap disebut “memberi tanda”. Kini, konsep tersebut dipahami dalam kerangka astronomi. Bangunan monumental seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan menunjukkan orientasi yang selaras dengan pergerakan matahari pada momen tertentu, indikasi bahwa leluhur memiliki pemahaman presisi terhadap fenomena langit.

Hal ini lahir dari observasi panjang lintas generasi, yang juga menjadi dasar navigasi pelaut Nusantara dalam membaca bintang jauh sebelum teknologi modern seperti GPS hadir.

Hutan yang “Hidup”, Jaringan Tak Terlihat

Dalam banyak komunitas adat, hutan dipahami sebagai entitas hidup yang saling terhubung. Keyakinan bahwa pohon dapat “berkomunikasi” kini menemukan padanannya dalam konsep ilmiah mycorrhizal network.

Melalui jaringan jamur mikroskopis di bawah tanah, pohon dapat bertukar nutrisi, air, bahkan sinyal kimia sebagai bentuk “peringatan dini” terhadap ancaman. Fenomena ini dikenal luas sebagai “Wood Wide Web”, yang menunjukkan bahwa ekosistem bekerja sebagai sistem yang saling terhubung.

Hutan sebagai Apotek, Tradisi yang Diakui Dunia

Keyakinan bahwa alam menyediakan obat bagi manusia telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Nusantara. Kini, praktik tersebut dikenal dalam dunia ilmiah sebagai fitomedisin.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa sekitar 25% obat modern berasal dari bahan alami tumbuhan, yang memperkuat relevansi pengetahuan tradisional dalam bidang kesehatan. Indonesia sendiri memiliki warisan besar melalui jamu, yang kini semakin mendapat pengakuan internasional dan dikembangkan melalui pendekatan ilmiah.

Sungai sebagai Sistem Kehidupan

Dalam berbagai tradisi lokal, sungai dianalogikan sebagai “darah” yang mengalir dalam tubuh bumi. Dalam ilmu hidrologi, analogi ini terbukti relevan—sungai menjadi sistem distribusi air yang menopang ekosistem, pertanian, hingga kehidupan manusia.

Kerusakan di hulu akan berdampak hingga ke hilir, memicu banjir, kekeringan, dan krisis air, menegaskan bahwa alam bekerja sebagai satu kesatuan sistem yang saling terhubung.

Krisis Lingkungan, Data yang Tak Bisa Diabaikan

Di tengah pengakuan ilmiah terhadap kearifan lokal tersebut, Indonesia justru menghadapi tekanan lingkungan yang semakin serius.

Laporan menunjukkan bahwa Indonesia kehilangan jutaan hektare hutan dalam beberapa dekade terakhir, dengan deforestasi netto pada 2024 mencapai sekitar 175.400 hektare berdasarkan data Global Forest Watch. (https://www.globalforestwatch.org/dashboards/country/IDN/)

Selain itu, laporan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) KLHK 2023–2024 menunjukkan bahwa kualitas air sungai di Indonesia masih didominasi kategori tercemar sedang hingga berat, dengan lebih dari 60% titik pantau sungai berada dalam kondisi tercemar pada periode pemantauan sebelumnya.

(https://ppkl.menlhk.go.id/ dan https://www.menlhk.go.id/)

Tekanan ini berdampak langsung pada meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan, yang terus terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

Jawa Timur Menghadapi Tekanan Ekologis di Tingkat Regional

Di tingkat daerah, Jawa Timur menjadi salah satu wilayah dengan tekanan ekologis tinggi. Kehilangan tutupan hutan di provinsi ini tercatat mencapai ratusan hingga ribuan hektare per tahun pada periode tertentu, berdasarkan pemantauan Global Forest Watch, yang berdampak pada meningkatnya risiko banjir dan menurunnya daya resapan air.

(https://www.globalforestwatch.org/dashboards/country/IDN/)

DAS Brantas, yang menjadi sumber air bagi sekitar 20–25 juta penduduk, juga menghadapi tekanan serius. Sejumlah pemantauan kualitas air menunjukkan bahwa beberapa segmen sungai ini mengalami peningkatan BOD (Biochemical Oxygen Demand), peningkatan COD (Chemical Oxygen Demand) dan penurunan kualitas air hingga kategori tercemar sedang hingga berat

Kondisi ini berkaitan dengan masuknya limbah domestik, industri, dan pertanian ke dalam sistem sungai, yang mengganggu keseimbangan ekosistem air.

(https://sda.pu.go.id/ dan https://ppkl.menlhk.go.id/)

Selain itu, BPS Jawa Timur 2024 mencatat bahwa wilayah ini masih mengalami ratusan kejadian bencana hidrometeorologi setiap tahunnya, terutama banjir dan tanah longsor, yang berkaitan erat dengan kondisi lingkungan dan tata kelola lahan.

( https://jatim.bps.go.id/)

Kritik terhadap Peran Negara

Dalam konteks tersebut, kritik terhadap tata kelola lingkungan kembali mengemuka.

Investigator River Warrior, Prigi Arisandi, menilai bahwa negara seharusnya hadir sebagai pengelola utama yang menjaga keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan lingkungan. Namun, ia menilai praktik yang terjadi justru menunjukkan sebaliknya.

“Perlu kehadiran negara sebagai operator pengelolaan lingkungan dan manajemen sumber daya alam. Saat ini yang kita lihat, negara melalui aparaturnya menggilas kearifan dan menghamba pada oligarki, menjadi operator kerusakan lingkungan dan eksploitasi sumber daya alam secara serampangan yang pada akhirnya meninggalkan penderitaan bagi generasi yang akan datang,” ujarnya.

Pernyataan tersebut mengemuka di tengah data yang menunjukkan bahwa tekanan lingkungan tidak hanya bersifat lokal, tetapi telah menjadi krisis sistemik dari deforestasi, pencemaran sungai, hingga meningkatnya frekuensi bencana di berbagai daerah.

Temuan ilmiah yang menguatkan praktik tradisional menunjukkan bahwa batas antara sains dan kearifan lokal semakin kabur. Keduanya pada dasarnya berbicara tentang hal yang sama, bagaimana manusia memahami dan hidup selaras dengan alam.

Perbedaannya hanya terletak pada cara penyampaian. Tradisi menggunakan simbol dan narasi, sementara sains menggunakan data dan verifikasi.

Di tengah krisis lingkungan global, integrasi keduanya menjadi kebutuhan mendesak. Bukan untuk saling menggantikan, melainkan saling memperkuat.

Sebab pada akhirnya, baik sains maupun tradisi mengarah pada satu tujuan yang sama, menjaga keseimbangan alam demi keberlanjutan kehidupan generasi mendatang

 

Related posts